Keadilan mungkin menuntut amuk samudera, namun tindakan tulus Nuh mampu melunakkan hati-NYA. Di antara riuh rendahnya hidup di era berdasarkan nalar, masihkah tersisa satu pribadi yang sudi membangun bahtera bagi jiwa yang terdampar?
Entahlah! Namun, DIA gemar menyapa lewat peristiwa, menari dalam drama, atau terselip di antara bait syair dan lembar sejarah—bahkan dalam getirnya sebuah musibah. Seakan DIA enggan menyingkap tirai Diri-NYA secara telanjang; ataukah memang sukma lebih lekas menangkap makna saat Sang Kebenaran menjelma menjadi cerita?
Usai amuk mega tsunami, Nuh dan keluarganya melangkah keluar dari rahim bahtera untuk menyongsong cakrawala baru. Bagaimanapun daku menakar kebenaran kisahnya, membangun bahtera berskala raksasa dengan perkakas bersahaja adalah sebuah ikhtiar yang melampaui batas nalar. Terlebih ketika visi masa depannya yang sunyi harus berbenturan dengan riuh rendah cemooh dunia yang menganggapnya sebagai sebuah tindakan gila.
Nyatanya, apa yang dikerjakan Nuh itu memang ganjil. Seolah matanya telah menembus tabir waktu, memandang dengan jernih apa yang belum mewujud namun sudah di depan mata (Ibrani 11:7). Bagi Nuh, bencana besar itu bukan lagi kemungkinan, melainkan kepastian yang sudah mengetuk pintu nuraninya.
Di sisi lain, para cendekia, peramal langit istana, dan penafsir bintang serempak menjanjikan ketenangan fana: bahwa cuaca dan musim akan baik-baik saja (Matius 24:37-39). Seolah dunia sedang dalam puncak kejayaan; lumbung-lumbung meluap oleh panen raya, dan perniagaan menangguk laba tanpa jeda. Inilah masa di mana gempita pesta pernikahan bersahut-sahutan di setiap penjuru, sebab mereka percaya tengah berada di titik paling mujur dalam guratan kalender nasib.
Peradaban kian berkilau oleh pesatnya research & development. Rahasia menempa logam tak lagi menjadi teka-teki, menjanjikan kejayaan bagi setiap ambisi. Bahkan, nalar telah mencapai puncak tertingginya dalam cakrawala metafisika; alam roh yang tak kasatmata kini tak lagi asing. Tak ada lagi tabir rahasia dengan disemainya— forbidden knowledge oleh para Penjaga, Watchers.
Pengetahuan telah menyentuh titik kulminasi; rahasia takdir tak lagi dianggap misteri, melainkan garis yang hendak dikendalikan lewat tarian rasi bintang. Namun, yang paling memikat sukma adalah dahaga akan kejelitaan abadi. Sihir awet muda—semacam teknologi clonning—kini telah dalam genggaman, membuat rupa tetap glowing meski umur raga telah merambat jauh.
Peradaban tengah menari di puncak optimismenya!
Namun, di ketinggian bukit yang sunyi, Nuh memekikkan peringatan hingga suaranya parau seorang diri. Ia tegak berdiri, melawan arus deras peradaban, tak jemu-jemu menyuarakan tentang amuk bencana yang segera akan menjadi kenyataan!
Tak sulit membayangkan betapa derasnya badai ejekan dan cemooh yang menghantam dada Nuh. Namun, mari sejenak merenung: bagaimanakah perasaan Adinda tatkala melihat, jika dikaulah Nuh, semua yang mengejeknya perlahan mati tenggelam ditelan bencana alam?
Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.(Kejadian 8:21)
Aaahhh… di sinilah nalar daku sering kali terbentur dinding misteri! Bagaimana mungkin oleh laku tulus satu pribadi, hati-NYA bisa sedemikian tersentuh? Melihat manusia binasa hati-NYA iba! Maka, tercetuslah janji sunyi di dalam hati-NYA: tak akan lagi menyapu jagat dengan bencana serupa, meski kelak peradaban merayap jauh lebih bobrok dibanding masa-masa sebelumnya.
Getar perasaan itu tak pernah lekang oleh pusaran waktu: hati-NYA senantiasa luluh melihat manusia binasa! DIA tetap dirundung iba memandang kerumunan jiwa yang lelah dan terlantar (Matius 9:36).
Mungkinkah daku atau dikaulah sosok Nuh modern di tengah hiruk-pikuk era layar sentuh ini? Sosok Adinda yang nuraninya tersentak iba, memandang bayang-bayang bencana yang kian nyata mengancam setiap napas manusia.
Bagaimana mungkin daku sanggup berpangku tangan?
Segeralah ayunkan langkah, meski harus meniti jalan sunyi yang jauh dari sorot lampu dunia. Bentangkan tangan agar sebanyak mungkin jiwa dapat merapat ke bahtera kehidupan.
Siapa tahu, satu tindakan bersahaja Adinda yang terbit dari hati yang iba, justru menjadi kunci yang memutar balik arah nasib peradaban dunia! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
