Kejadian pasal 11 ayat 1 hingga 4 memang tampak singkat, namun memuat pesan teologis yang padat. Peristiwa Babel menjadi titik balik peradaban—saat manusia mulai menempuh jalan kemandirian, berusaha melepaskan diri dari kebergantungan kepada Sang Pencipta.
Di kota Babel-lah untuk pertama kalinya umat manusia sepakat bersatu, terang-terangan bangkit melawan Sang Batukarang. Dengan kemajuan daya pikir dan keterampilan, peradaban merasa sudah waktunya untuk hidup tanpa kebergantungan kepada TUHAN.
Dan DIA dibuang, dianggap sudah usang!
Bukan saja DIA dikesampingkan, tetapi dengan jumawa manusia mendeklarasikan bahwa mereka telah mencapai tahap perkembangan untuk mengacak-acak alam yang tak kelihatan! Manusia bukan hanya merasa tak lagi membutuhkan-NYA, tetapi juga mengklaim telah mampu mengambil alih wilayah yang selama ini dianggap eksklusif milik alam baka.
Orang-orang di situ mulai merencanakan untuk membuat sebuah kota yang besar, dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Menara itu akan merupakan sebuah tugu kebanggaan yang kekal bagi diri mereka sendiri. “Ini akan mempersatukan kita,” kata mereka, “sehingga kita tidak akan tercerai-berai ke seluruh dunia.” (Kejadian 11:3,4 FAYH)
Tugu kebanggaan bukan sekadar batu yang ditumpuk, melainkan altar pemberontakan yang dibaptis oleh ambisi manusia. Di bawah bayangan Babel, manusia menulis ulang nasibnya dengan tinta kesombongan, berikhtiar menembus langit yang dijaga oleh maksud ilahi. Kelak, tugu itu menjadi relik zaman: saksi bisu dari ritual panjang peradaban yang ingin menghapus jejak Sang Pencipta dari peta eksistensi manusia.
“Merdeka! Merdeka! Merdeka!”—itulah pekik peradaban, tuntutan makhluk ciptaan yang ingin lepas dari otoritas Sang Raja. Seperti kisah si Anak Hilang dalam Lukas 15:11–27, manusia bertekad meninggalkan rumah BAPA, yakin bahwa di luar sana lebih menjanjikan. YHWH terdiam, seakan bergumam dari kedalaman kekekalan: “Kalau itu ambisimu, ya silakan.” Maka sang bapa, dengan hati yang berat, merelakan si anak bungsu menentukan arah hidupnya sendiri—jalan yang kelak menjadi altar ujian antara kebebasan dan kerinduan ilahi.
Seumpama mobil tanpa mesin, laptop tanpa CPU, dan ponsel tanpa OS—semuanya tinggal rongsokan, tak berdaya menjalankan fungsi yang dirancang. Demikian pula umat manusia ketika relasi terputus dari sumber kehidupan. Yang tersisa hanyalah keberadaan tanpa arah, gerak tanpa jiwa, dan hidup yang kehilangan makna.
Di Babel, YHWH disingkirkan dari arsitektur peradaban. DIA tak lagi diundang dalam narasi kehidupan, bahkan dicap sebagai penghambat kemajuan. Maka terjadilah malapetaka! Hikmat manusia gugur, arah hidup mengabur, dan umur yang hanya sejengkal pun kehilangan tujuan.
Adam di Taman Eden bekerja siang dan malam, mengklasifikasi berbagai jenis ayam. Ia paham, ini mandat ilahi untuk menyingkap makna hidup yang lebih dalam, yaitu kebutuhan akan seorang penolong yang sepadan dalam melaksanakan niat YHWH agar dia memenuhi alam (Kejadian 2:19,20; 1:28).
Tak berbeda dengan opa Nuh yang mengerjakan proyek megastruktur—sebuah bahtera besar yang dibangun di tengah daratan. Ia tak kenal lelah, meski dianggap tak masuk akal, semangatnya tak pernah padam. Visinya menyala-nyala, hidupnya sepenuhnya dipersembahkan untuk satu tujuan: mewujudkan impian yang ditanamkan dari langit, menyelamatkan peradaban dari gelombang penghakiman. Ia tahu, ini bukan sekadar bekerja, ini menjalankan mandat ilahi—jalan sunyi untuk menggenapi rencana-NYA di muka bumi.
Pagi-pagi daku tak sempat sarapan, berlari bersama rombongan pencari nafkah harian. Tak kenal waktu, terjun dalam dunia kerja yang buas, tak kenal belas kasihan. Sikut kiri, sikut kanan. Tak ada sahabat sejati, semua berlomba demi peluang sendiri. Dan dan dan… semua hiruk-pikuk itu, semua luka dan lari, hanya demi sesuap nasi!
Untuk apa semua itu?
Untuk bertahan hidup di bawah matahari. Untuk survive, tak ada ruang bagi ongkang-ongkang kaki, meski ujung dari segalanya hanyalah sebuah peti.
Maka untuk apa hidup?
Aaahhh…! Jika hidup hanya sekadar bertahan hidup, kera di hutan pun hidup. Jika hidup hanya sekadar bekerja, kerbau di sawah pun bekerja—ucap Buya Hamka, ustad kondang.
“Maksud lo, aku tak beda dengan kerbau?” Itu pun sebuah pilihan kalbu! Ataukah takdir yang tidak akan berlalu-lalu? Daku tidak tahu!
Dibutuhkan keberanian ala opa Nuh untuk berjalan sendiri dan ala Adam yang menemukan jati diri melalui rutinitas kerja sehari-hari untuk Adinda dapat kembali menulis ulang narasi hidup ini! Agar hidup sesuai dengan maksud abadi sehingga terlepas dari sekadar berakhir di sebuah peti! Aaahhh… ini pun pilihan hati! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

