492. Tidak Biasa

Viewed : 374 views

Jalan hidup tidak bisa diduga, siapa tahu apa yang akan datang tiba². Langit pagi yang begitu cerah, belum siang, secepat kilat berubah. Awan kelabu seakan rindu selalu berada di sampingku.

Awan kelabu inilah yang membawaku berulang kali datang ke kota ini. Walau banyak kawasan turis yang menarik pelancong, namun perjalanan harianku hanyalah dari penginapan ke satu tempat itu² saja, sama sekali kehilangan minat dengan tempat yang lainnya. Rupa²nya, hatilah yang menentukan menarik tidaknya alam kehidupan ini.

Sudah agak larut malam, harap² cemas untuk mendapatkan pesanan taksi online. Syukurlah, akhirnya lega, datang juga taksi yang dipesan. Tanpa basa-basi aku langsung duduk seraya mengucapkan “Selamat malam!” Langsung disambut driver Dengan sapaan tidak biasa.

Dialog pun terjadi. Terkejut aku mendengar pengakuan sang driver sebagai seorang pastor aktif dari sebuah gereja di kota ini. “Saya biasa narik malam² sambil berdoa agar Tuhan perjumpakan dengan orang yang tepat”, lanjutnya.

Sebagai kaum rohaniawan, jeritan batin pastor tengah baya ini dapat daku selami sepenuhnya. Pandangan masyarakat sebagai hamba Tuhan, orang² kudus, untuk dapat bertemu dan bertegor sapa dengan mereka di luar lingkaran persekutuan dibutuhkan usaha tidak biasa seperti upaya pak pastor. Sesungguhnya kehidupan rohaniawan terisolasi dari masyarakat kebanyakan.

Predikat yang melekat sebagai rohaniawan yang pekerjaannya di seputar ritual dan berdiri di mimbar. Sepanjang hari hingga puncaknya di hari suci, dari hari ke hari, dari pertemuan satu ke berikutnya semuanya berjumpa dengan yang itu² saja. Hidup hanya berputar di lingkungan sealiran keyakinan.

Sebagai rohaniawan, kehidupan tanpa disadari terperangkap dalam bayangan misterius Babel, hanya berkumpul dengan kelompok sendiri. Untuk menyebar, sebagaimana mandat Eden, diperlukan usaha ekstra tidak biasa seperti upaya pastor.

Sebagai golongan kaum imam yang pekerjaannya dianggap hanya berhubungan dengan perkara ritual, namun tanpa disadari kehidupan golongan imam ini bak terisolir dalam kompleks kuil, Ziggurat. Dibutuhkan hati yang tidak biasa untuk dapat keluar dari tembok tumpukan batu bata sehingga bebas merdeka!

Berbeda dengan ordinary people, kaum awam yang pekerjaanya bergelut dengan ranah duniawi yang sudah kodratnya tepat berada dalam pusat aktivitas dunia. Sebaliknya kaum imam terkurung dalam ranah kuil yang terpisah dengan realita ganasnya hidup di dunia. Kalau para imam menunggu di komplek untuk umat datang. Sebaliknya, kaum awam 24/7 tenggelam dalam arus pahit getirnya kehidupan.

Aaahhh…celaka! Kulihat berlaksa-laksa kaum awam, justru karena ketulusan, tanpa sadar berjalan perlahan tapi pasti ke dalam perangkap misteri kuil Ziggurat. Sementara kaum imam, seperti Pastor, nekat keluar dengan cara yang tidak biasa.

Kaum imam yang sehati dengan sang Pastor merindukan hidup mereka berada di- tengah² orang kebanyakan. Sebaliknya dengan kaum awam, ada merasa terhakimi karena hidup hanya mencari sesuap nasi dan terasa lega ambil peran bak imam di dalam komplek Ziggurat.

Ups…tidak terasa sudah sampai di homestay. Pastor mengajak daku tunduk kepala dan dengan khusuk mendoakan awan kelabu agar berlalu. Alangkah beruntungnya jemaat yang gembala sidangnya walk the talk seperti pastor ini. (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments