476. Loyalitas!

Viewed : 233 views

Silakan anggap narasi ini sebagai legenda semata, atau sekadar rangkaian kebetulan. Namun yang pasti, drama kolosal ini tak tunduk pada aturan logika. Kisahnya berkelok, merajut alam maya dengan dimensi dunia. Bagi jiwa yang terpikat oleh Sang Kekasih, petualangan ini menggiring sukma ke batas yang tak terpikirkan.

Sang Putra BAPA akhirnya menemukan jodoh, kekasih hati-NYA!

Dalam Alkitab TB, jodoh ini disebut sebagai tunangan (2 Korintus 11:2) atau pengantin perempuan (Wahyu 19:7). Sedangkan dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris, termasuk versi KJV, disebut sebagai istri. Dalam tradisi Yahudi kuno, tunangan sejatinya sudah dianggap sah sebagai istri oleh masyarakat, hanya tinggal menunggu perayaan.

Alkitab dimulai dengan kisah perjumpaan seorang perjaka dengan tulang rusuknya (Kejadian 2:21-24). Entah berapa lama Adam hidup seorang diri di Taman Eden—rasa sepi menyelimuti hati, tak terperi. Tak terbayangkan sukacita Adam saat bertemu dengan jodohnya, Hawa!

Tak kalah dengan kisah pertama, drama akhir pun diliputi sukacita yang tiada henti. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai… hari perkawinan Anak Domba telah tiba (Wahyu 19:7).

Sejak halaman pertama, Alkitab mengisahkan drama terbentuknya satu keluarga—Adam dan Hawa. Siapa sangka, pada halaman-halaman penghabisan pun, kisah serupa kembali muncul ke permukaan. Dari awal hingga akhir, sejatinya ini adalah cerita asmara antara dua hati yang saling merindu!

Rasul Yohanes seolah kelabakan saat menorehkan penglihatannya tentang Perkawinan Anak Domba dalam kata-kata. Semakin dalam membaca tulisannya, semakin nyata keterbatasan kosakata dalam mengungkapkan visinya. Betapa sukar menyampaikan penglihatan dari alam ilahi ke dalam dimensi duniawi?

Adakah alasan khusus mengapa suasana ceria tiada tara dipilih dalam kemasan pesta pernikahan? Pesan apa sesungguhnya yang hendak disampaikan kepada Adinda yang hidup di abad ke-21 ini? Mungkinkah ada makna misterius yang paling akurat bila diungkapkan dalam perayaan penyatuan dua hati yang diselimuti api asmara yang membara?

Bukankah setiap suku, bahasa, kaum, dan bangsa mudah memahami bagaimana perayaan pernikahan berlangsung? Tak perlu penjelasan panjang lebar, tak harus pakar—dari rakyat jelata hingga kaum terpelajar, dari latar belakang mana pun, semua faham makna maksud suatu pernikahan!

Acara adat pernikahan dari berbagai suku di tanah air! Bukankah itu selebrasi atas dua insan yang setia dan berkomitmen untuk sehidup semati? Tanpa kesetiaan, loyalitas, serta tekad untuk memegang teguh komitmen— “…bersama baik dalam keadaan suka maupun duka…dan hanya maut yang dapat memisahkan…!”—maka pesta itu kehilangan maknanya!

Salah satu aspek penglihatan Rasul Yohanes tentang perkawinan Anak Domba adalah selebrasi akbar bagi tunangan—daku dan dikau. Pesta penyambutan Adinda yang tetap loyal kepada-NYA walau tertatih-tatih melewati masa penantian yang penuh godaan untuk memilih yang lainnya.

Tetapi ketika mereka berubah setia terhadap Allah nenek moyang mereka dan berzinah dengan mengikuti segala allah bangsa-bangsa negeri yang telah dimusnahkan Allah dari depan mereka, (Tawarikh 5:25)

Mungkinkah perubahan loyalitas itulah alasan mengapa Alkitab dengan tegas menyebut sikap itu sebagai perzinahan rohani? Sebagai sang suami, hati-NYA pun pilu nan duka ketika sang istri berubah setia (Kejadian 6:6). Semua persiapan untuk acara adat, undangan yang telah disebar ke handaitolan, serta masyarakat kampung yang antusias menantikan hari ‘H’—berujung hambar nan sia-sia!

Syukurlah! DIA sabar dan setia menantikan Adinda kembali ke pangkuan-NYA. YHWH pun menaruh harapan besar kepada Nuh dan generasi berikutnya (Kejadian 9:1)—harapan yang sama sejak semula kepada keluarga Adam dan Hawa (Kejadian 1:26-28).

Harapan yang belum juga terwujud hingga abad ke-21 ini!

Sebagaimana YHWH memberi mandat kepada Adam dan Hawa, serta Nuh dan generasi penerusnya, demikianlah DIA sekarang menaruh privilege serupa kepada Anda. Moga Adinda loyal menanti hingga tutup mata walau DIA belum datang-datang juga! Maranatha! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments