408. Areopagus

Viewed : 239 views

Rangkaian keterkaitan kedaulatan-NYA (God’s sovereignity) dan kehendak bebas manusia serta insan sebagai makhluk yang beranggungjawab secara moral masih akan terus menjadi misteri. Walau Alkitab nyata bicara tentang isu-isu ini, namun jelaslah bahwa pemahaman daku dan mungkin juga dikau tidak akan pernah bulat, akan masih bertebaran unsolved problems.

Jika DIA memang maha tahu segala, tahu sebelum peristiwa menjelma hingga paham apa yang terjadi setelahnya. Dan bukankah DIA maha kuasa? Berkuasa mengendalikan setiap detail keterkaitan satu elemen dengan yang lainnya dalam suatu kejadian secara untuh nan sempurna. Bukankah seharusnya DIA yang bertanggungjawab akan apa yang terjadi di Taman Eden?

Ataukah sebaliknya, nasib manusia sepenuhnya ada di tanganku dan tanganmu? Manusia yang menentukan takdirnya alias insan menjadi tuhan bagi dirinya sendiri. Free will yang pegang kendali, keberadaan DIA tidak lagi berarti apa-apa. Semua tergantung kepada kehendak bebas manusia.

Ke dua cara pendekatan berpikir ekstrim tersebut bak dua sisi mata koin, tak mungkin disatukan. Malangnya, itu telah menguasai pola pikir peradaban baik dikalangan kaum ilmuawan ataupun di kalangan kaum awam. Praktisnya, daku pun ada kecenderungan untuk lebih berat ke sisi sini atau sisi sana.

Fisikawan cemerlang abad ini, Stephen Hawking, menganggap hukum alam yang mengendalikan pergerakan benda-benda angkasa hingga materi super kecil, atom, sebagai tuhannya. Bagi dia yang ateis, free will hanyalah lelucon belaka.

It is hard to imagine how free will can operate if our behaviour is determined by phisical law, so it seems we are no more than biological machines and that free will just an illusion. (dari bukunya The Grand Design)

Bukan hanya di abad ke 21 ini, pendapat senada pun telah ada jauh sebelum zaman kuda gigit besi. Pendapat yang melepaskan tanggungjawab manusia sebagai makhluk bermoral lebih digandrungi oleh kaum ilmuawan sepanjang zaman bahkan hingga sekarang.

Dalam perjalanan melelahkan mengelilingi daerah-daerah seputar laut Mediterenia, akhirnya rasul Paulus tiba di kota Atena. Kota tempat lahirnya para pemikir, filosof ternama. Sebagaimana biasa, setiap hari dia berkungjung ke pusat perdagangan untuk berbicara tentang Injil (Kisah Para Rasul 17:16-34).

Salah satu ataupun salah dua filosof dari arus utama kala itu mendengarkan paparan rasul Paulus tentang Injil. Tidak puas dengan pertemuan di pasar karena keinginan tahu lebih lanjut dari berita yang disampaikan, maka Paulus mendapat undangan khusus untuk berdebat di gelanggang kaum cerdik pandai, Areopagus (ayat 21, 22).

Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: “Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?” Tetapi yang lain berkata: “Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.” Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya. (Kisah Para Rasul 17:18)

Golongan Stoa konon dikenal sebagai penganut paham bahwa segala sesuatu telah ditentukan sebelumnya sebagai nasib alias takdir (predestinasi). Manusia hanyalah tinggal mengikuti alur cerita sebagaimana ditulis dalam garis tangan. Ini melahirkan paham fatalism, usaha dan inisiatif sendiri total percuma! Sementara kaum Epikuros ambil posisi di sisi yang sebelah. Manusia menjadi penentu nasib sendiri, tuhan bagi masa depannya.

Rasul Paulus tidak menyalahkan ataupun membenarkan salah satu pihak. Seakan-akan, di keduanya terkandung kebenaran dan juga sekaligus kekurangan. Dia muncul dengan gagasan Injil, yang menggabungkan ke dua paham. Pengertian yang dapat diterima logika, namun juga harmonis di hatiku, dan berharap juga bagi dikau, sebagai insan bermoral (ayat 24-28).

Ini Injil tentang Yesus, kisah penderitaan, dan kebangkitan Kristus. Berita Sukacita tentang inisiatif-NYA dengan menetapkan batas-batas, bila mana dan di mana daku dan dikau akan terlahir di dunia (God’s sovereignity, predestination). Itu, tak lain dan tak bukan, bermaksud agar daku dan dikau mencari DIA (free will, ayat 27).

DIA yang sesungguhnya tidak jauh dari setiap manusia. Dekat bagi Adinda yang haus nan dahaga, hanya sejengkal jauhnya dengan DIA, tepat dari mana setiap insan berada (ayat 26). Ini berita anugerah luar biasa! DIA mendatangi manusia, agar daku dan dikau dapat menjamah-NYA (ayat 27).

Ini bukan paham Stoicism juga bukan pula Epicureanism. Inilah berita Injil Kerajaan Allah, IKA (Matius 4:23). Narasi dari peristiwa di Taman Eden, benang merah kitab Kejadian sampai dengan kitab yang penghabisan. Bahkan itu masih serupa di era peradaban kuda gigit besi hingga sampai sekarang ini! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments