1 Tesalonika 4:11
Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan.
Seorang bapak berusia lanjut tetap ceria dan semangat hidup. Pekerjaannya hanyalah penarik gerobak sampah dari beberapa tempat sampah ke tempat pengumpulan akhir sampah.
Setiap hari dia merasakan bau tak sedap dari berbagai jenis sampah yang diangkut dengan gerobaknya. Namun demikian dia tak pernah mengeluh walau pendapatannya sangat minim.
Ketika menarik gerobaknya di jalan yang agak sempit, sering ada beberapa pengendara mobil atau sepeda motor yang tak sabar membunyikan klakson. Bapak tukang sampah itu menoleh ke kendaraan tersebut dengan senyuman dan berusaha meminggirkan gerobaknya agar kendaraan yang tak sabar tadi bisa lewat.
Sedikitpun dari wajahnya tak pernah kelihatan cemberut meski ada orang lain memperlakukannya tidak wajar.
Melihat hal itu ada seseorang yang simpati mendatanginya dan bertanya apa rahasianya sehingga dia dapat menikmati hidup seperti itu.
Dia mengatakan bahwa dia sangat mencintai pekerjaannya karena dia tahu bahwa dengan mengangkut sampah setiap hari, dia telah ikut berperan menjaga kebersihan dan orang lain dapat merasakan kenyamanan hidup.
Dia juga bersabar menghadapi orang-orang yang tidak sopan di jalan. Dalam hatinya, dia mananamkan rasa sayang terhadap setiap manusia di jalan.
Itulah sebabnya dia tidak penah marah dan selalu saja berusaha bersikap sebaik mungkin kepada semua orang. Dia bersyukur kepada Tuhan karena masih memiliki kekuatan dan dapat bergerak melakukan pekerjaannya dengan baik dan lancar.
Seberapa besar dan seberapa jauh kesungguhan kita terhadap pekerjaan?
Berdasarkan apa kita mencintai pekerjaan?, apakah karena gaji/hasil yang besar atau karena berdampak positif dan membawa manfaat dan berguna bagi orang lain?
Mungkin beragam dan berbeda pendapat kita tentang hal tersebut. Tetapi satu hal yang pasti bahwa apapun pekerjaan kita asalkan halal dan benar, maka semua baik dan semua itu anugerah Tuhan.
Adalah anugerah bila Tuhan masih memberi kekuatan bagi kita untuk bekerja dan itu harus disyukuri.
Karena itu bekerjalah dengan bersungguh-sungguh, walaupun seperti saat ini kebanyakan kita bekerja dari rumah. Dengan bekerja kita dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Jagalah sikap hati! Janganlah menilai pekerjaan dengan hanya melihat berapa upahnya saja. Sebagai anak Tuhan, miliki jiwa pengabdian dalam bekerja. Bekerja dengan sungguh-sungguh adalah salah satu wujud penghormatan kita kepada Tuhan.
Tuhan memberkati. Tuhan senantiasa meneyertai kita. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Image by PublicDomainPictures from Pixabay




