Si Corona datang. Dunia mendadak gelap walau masih siang. Tiba-tiba semua terjaga. Lebih 7.5 milyar manusia. Penduduk di seluruh dunia. Dibuatnya tak berdaya. Si virus angkuh nan jaya. Belum ada lawan yang sebaya. Hingga kini masih juara satu-satunya. Sejarah pun ternganga. Karena belum pernah ada makhluk tak kasat mata. Begitu berkuasa dalam peradaban manusia.
Menggebu-gebu wabah menyerang. Bak kuda liar lepas dari kandang. Meringkih garang! Kiri dihajar kanan ditendang. Mencari manusia untuk dijadikan sarang. Tidak pernah puas ataupun kenyang. Setiap insan adalah peluang. Makhluk lain pantang. Sasaran utamanya adalah orang. Nyawa pun bisa melayang.
Sudah lebih setengah tahun merajalela. Bak penguasa dunia. Tidak peduli dikau siapa. Percaya apa. Entah takwa. Ataupun ibadah dianggap sia-sia. Ikut aliran denominasi yang mana. Setia beribadah di gedung gereja. Ataupun tidak peduli dengan agama. Itu tak ada pengaruh bagi si Corona. Semua dilibas tak pandang rupa.
Strategi bisnis yang terbukti berjaya. Tata cara tegor sapa. Talisilaturahmi antar tetangga. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah begitu lama. Bahkan pelaksanaan ritual ibadah sejak dulu kala. Diubah begitu saja. Cepat bak sekejap mata. Seolah si Corona pongah menentukan sendiri aturan baru di dunia.
Porakporandalah semua kebiasaan lama. Kelaziman dalam melaksanakan perintah agama. Tradisi ibadah dari turunan ke turunan. Adat budaya dalam beriman. Setiap hari Minggu tidak terlewatkan. Beribadah di rumah Tuhan. Ramai-ramai bersama dengan handaitolan. Mendengarkan pesan hidup dari para tokoh rohaniawan. Itu semua nyaris tinggal kenangan. Sirna dibawa angin malam.
Lalu orang-orang dari Mesir yang ikut dengan mereka mulai merindukan benda-benda kenikmatan di Mesir. Hal ini menambah ketidakpuasan orang-orang Israel dan mereka mulai menangis, “Ah, manakah daging untuk kita! Manakah ikan enak yang kita nikmati di Mesir, dan ketimun yang sedap dan segar, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih! (Bilangan 11:4,5 FAYH)
Baru sekitar 7 bulan sejak muncul di Wuhan. Belum satu tahun perjalanan. Jalan setapak yang menyesakkan. Ujungnya masih belum kelihatan. Gersang tandus sepanjang jalan. Semua serba kekurangan. Semua pilihan tidak memuaskan. Bak umat Israel yang mulai merindukan. Indahnya hidup sebelum ada si virus yang mematikan.
Kapankah lagi dapat ibadah di rumah Tuhan? Bulu kuduk berdiri kala ramai-ramai memuji Tuhan. Dengarkan kidung puji-pujian. Khotbah berapi-api dari gembala sidang. Mata awas menunggu kantong kolekte tiba di sebelah kanan. Maju bergiliran ke depan. Antar amplop ke kotak persembahan. Tegor sapa dengan teman-teman setelah selesai kebaktian. Ya, kapan?
Pengelola ibadah mingguan. Mereka yang senantiasa setia melayani keperluan. Tak kenal waktu untuk mempersiapkan. Segala kebutuhan kebaktian. Agar jamaah khusuk melakukan ibadah tanpa gangguan. Sekarang gelagapan. Tak tahu apa yang harus dikerjakan. Bingung tidak tahu begini akan sampai kapan. Ya, sampai kapan.
Sekolah Minggu bak sudah dibubarkan. Anak-anak tak tahu harus dibagaimanakan. Persekutuan-persekutuan juga sudah tidak jalan. Ruang konsistori pun sudah tidak pernah digunakan. Perlengkapan perjamuan kudus sama saja seakan dibiarkan. Sound system terabaikan. Kursi ibadah mulai berdebu tak karuan. Tak tahan daku melihat kenyataan! Sampai kapan? Ya, sampai kapan.
Berduyun-duyun datang ke gedung besar. Dengarkan pujian rohani dari selebriti tenar. Disambut dengan khotbah membuat tawa lebar. Apalagi disertai doa mukzijat yang spektakular. Terberkatilah semua pendengar. Itupun tinggal gambar-gambar!
Sambil duduk membayangkan. Perhatikan semua seragam khotbah mingguan. Dasi berjejer tidak ada lagi yang digunakan. Jika tidak ada lagi ibadah mingguan. Apakah yang harus dikerjakan? Bila tak bisa bertemu dengan suadara-saudara seiman. Apalagi yang sisa untuk dilakukan. Sejujurnya, banyak yang merasa dibuang, tidak diperlukan. Bilakah yang dulu dikembalikan?
Aaahhh! Masa lalu yang dirindukan.
Ingatan masa lalu memang bisa menyakitkan. Sekaligus itu dirindukan. Karena seringnya nostalgia itu menggores sukma dalam-dalam. Memori perjalanan hidup lalu yang tak terlupakan. Pengalaman yang membentuk kehidupan. Apalagi jika pas ada melodinya punya kesan. Lagu yang akan selalu ada dalam ingatan. Dan karenanya bertumbuhlah iman.
firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! (Yesaya 43:18)
Lupakan kebiasaan-kebiasaan masa lalu. Jangan terkurung dengan kenyaman yang dulu-dulu. Apalagi berkata: ‘Dulu itu tidak begitu!’ Cerita hanya seputar masa-masa yang sudah berlalu. Pembicaraan yang itu-itu. Kenangan indah dari lampau. Merasa masih hidup di waktu silam. Dan karenanya tidak bebas melangkah ke depan.
Mungkinkah ajakan-Nya tidak bisa dibantah? Si Corona memaksa semua umat untuk menyerah. Ini tidak mudah. Seperti melawan sejarah. Mungkin saja daku dan dikau akan dituduh salah kaprah. Ayo jalan walau seorang diri melawan arah. Moga masih ada yang gagah. Berani ambil langkah. Untuk berubah. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |




