197. ’Born 2 Die’

Viewed : 1,149 views

Dunia ini tempat konflik tak berkesudahan. Bernapaspun dalam aroma permusuhan. Perangnya tidak mengenal belas kasihan. Tak ada iba terhadap lawan. Ini perang habis-habisan. Tidak ada yang disisakan. Pertempuran yang melelahkan. Berlangsung sejak purba. Hingga berakhir masa. Dari satu generasi ke genarsi berikutnya. Tak henti. Tak tahu jedah. Tak pernah kehabisan amunisi.

Semua turut berpartisipasi. Entah sebagai kawan. Ataupun teman yang bisa seketika menjadi lawan. Yang tua. Tak terkecuali yang muda. Yang berpendidikan. Begitu juga yang tak sekolahan. Yang harta berkelimpahan. Sama saja dengan yang berkekurangan. Yang fisik sehat berkecukupan. Berlaku juga bagi yang sakit-sakitan. Yang berkedudukan. Tidak berbeda dengan orang rendahan.

Mereka yang siuman ada pertempuran. Menyiapkan diri siang dan malam. Berjaga-jaga bak orang kesurupan. Selalu awas bak memiliki indra ke enam. Hati-hati dengan segala ucapan. Begitu juga dengan apa yang dipikirkan. Pakai ‘kaca mata kuda’ agar tak tertarik ke kiri ataupun kanan. Semangat bergabung dalam persekutuan. Rajin ke kebaktian mingguan. Itu semua tekun didoakan. Sadar tak ada kemampuan.

Maupun orang yang merasa aman-aman. Tenang-tenang karena merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hidup sudah cukup berat hanya untuk mencari sesuap makan. Jangan mengkhayal yang bukan-bukan. Coba pikirkan! Sekeliling semua tentram. Nasibmu bukan ada di awan. Itu harus digapai dengan tangan. Matahari terbit dan tengelam. Dari purba seperti itu bergantian siang malam. Jangan terpaku dengan yang suram-suarm.

Ups! Celaka! Pertempuran itu berlaku bagi semua orang. Kepada yang bangun ataupun tidur-tiduran. Ini perang bukan berdasarkan kerelaan. Apalagi atas permintaan. Bukan! Tak peduli dikau itu kaum awam. Apalagi mengaku-ngaku sebagai kaum rohaniawan. Berharap dikecualikan. Maaf! Ini berlaku bagi semua insan. Selamat datang di zona perang. Pertempuran tuntas-tuntasan.

The winner takes it all! Ini pertarungan total, hancur-hancuran. Perjuangan mati-matian. Pemenang ambil semuanya. Tak ada yang disisakan. Rakus. tak kenal kata ‘cukup!’ Selalu kekurangan. Tak puas. Yang kalah dihabiskan. Tak dikenal istilah menyerah lalu dibiarkan. Lebih lagi koalisi untuk maksud bagi-bagi kekuasaan. Bak konfrantasi hingga tetes darah penghabisan. Hingga daku dan dikau di-wassalamkan!

tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:17)

Aaahhh! Fakta ini memilukan. Kenyataan yang pahit sekali. Membayangkan saja sudah mengerikan. Apalagi kalau dipikir-pikirkan. Namun? Sila pura-pura meragukan. Boleh mencoba untuk melupakan. Anggap itu sebagai peristiwa siklus alam. Akan tetapi, ini realitas yang akan tentu menjadi kenyataan. Itu pasti terjadi bagi setiap insan. Ritual alam yang tak terhindarkan.

Kematian!

Di bawah mentari tidak ada yang abadi. Bak bunga pagi hari. Mekar harum semerbak mewangi. Tak lama lagi. Sore ia layu terkulai. Satu datang yang lain pergi. Bergantian silih berganti. Rutin terjadi setiap hari. Tak ada yang punya kuasa untuk menghindari. Entah dikau peduli. Ataupun mengingkari. Semuanya akan pergi selama-lamanya ke alam lestari. Nasib insan yang meris sekali.

Yang sehat, kaya, dan berprestasi. Sukses dan bersahaja tak ada yang terkecuali. Pekerja keras dan bermalas-malas juga akan alami. Tak peduli fisik bugar karena cukup gizi. Termasuk yang busung lapar sakit-sakitan tak lagi terobati. Baik nabi-nabi. Apalagi yang merasa kelompok elite rohani. Ataupun Prsiden dan bupati. Semua akan pergi. Mati dan tidak akan kembali-kembali.

Walau nasib itu sudah pasti. Semua insan akan alami. Itu tidak bisa lagi dihindari. Apakah dikau rela. Atupun sulit sekali menerima. Kenyataan pahit ini pasti akan menghampiri. Menjumpai semua keturunan Adam. Itu bisa datang malam-malam. Tapi bisa juga muncul pagi-pagi. Entah dini hari ataupun tengah hari. Setiap insan sudah dapat nomor seri. Bak berbaris antri. Semua tahu itu pasti akan terjadi. Namun?

Tidak ada yang siap untuk pergi!

Kebanyakan masih ingin tetap disini. Walau sulit tidak apa-apa. Menderita itu sudah biasa. Asal tetap bisa bercengkrama. Berkumpul dengan keluarga. Segala cara akan diusahakan. Rela habiskan harta agar dikabulkan. Pergi menyeberang lautan. Pergi jauh untuk mendapatkan. Habiskan hidup untuk tak lain tidak bukan. Umur ditambahkan. Hingga seribu tahun lagi.

Fakta ini menyakitkan. Narasi yang telah disiratkan bagi setiap insan. Sejatinya! Setiap manusia. Setiap makhluk. Setiap yang bernyawa. Sudah ditakdirkan untuk ‘born to die.’ Lahir untuk mati. Datang utuk pergi. Hidup untuk mati. Realitas pahit sekali. Semua akan angkat kaki. Masihkah ada yang peduli?

Mungkinkah nasib ini? Takdir yang tak dapat dipungkuri. Agar daku dan dikau sadar diri. Tafakur melihat hati. Dan menyadari. Bahwa di sini bukan tempat yang asli. Lihatlah ke sana! Rumah mula-mula, taman sorga. Tempat kediaman yang sejati. Daripada terus cari bukti. Lebih bermanfaat berbenah diri. Moga dikau datang untuk siap pergi. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Michael Kauer from Pixabay

Comments

comments