Tidak ada yang abadi. Semua akan mati. Walau ingin hidup seribu tahun lagi. Apa daya, tak ada yang terkecuali. Semua yang bernyawa pasti akan angkat kaki. Entah dikau rela ataupun acuh tak peduli. Itulah nasib hidup di bawah matahari. Dulu begitu. Kinipun tak berubah seperti itu. Dan terus akan berlaku. Hingga waktu berlalu. Bumi bukanlah tempat yang asli. Cepat ataupun lambat semua akan pergi.
Tokoh-tokoh politik ternama. Pahlawan yang mendunia. Mereka yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Penemu yang tak ada duanya dalam bidang kimia. Yang dapat mengurai bagaimana terjadinya alam semesta. Memecahkan rahasia kehidupan dalam untaian double helix, DNA. Hingga yang begitu genius yang daya pikirnya menembus batas alam semesta.
Dari sekelas Bill Gates sang dermawan yang baik hati. Dengan harta melimpah rela berbagi-bagi. Ataupun sekaliber ibu Teresa yang rendah hati. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memungut bayi-bayi. Anak-anak terlentar yang tak dikehendaki. Hingga mereka yang hanya mampu memberi recehan untuk sekedar dapat membeli sebungkus nasi. Mereka-mereka yang sudah selesai dengan diri sendiri. Menolong sesama insani. Yang papa terberkati.
Juga mereka, sebagai musuh utama negara. Tindakannya turut membuat kemiskinan merajalela. Pejahat yang menjadi pelaku genosida. Pembasmian etnis melawan hak asasi manusia. Tindakan kriminal yang dikutuk oleh bangsa-bangsa. Para buronan yang akan dicari ke mana-mana. Hingga sekelas pencuri ayam tetangga. Sampai yang berkata tidak jujur itu sudah dianggap biasa.
Ataupun orang-orang awam. Mereka dari kelompok kebanyakan. Yang tidak akan ada dalam berita koran-koran. Apalagi menjadi acuan sejarahwan. Di level RT-pun tak dikenal. Mereka yang tak ada peran. Orang biasa-biasa yang dalam pelayananpun tak masuk hitungan.
Serta orang-orang yang ada tempat spesial dalam hati. Punya tempat khusus dalam sanubari. Karena dia kekasih hati. Belahan jiwa yang tak terpisahkan lagi.
Ups! Semuanya akan pergi!
Tak ada yang terkecuali. Cepat atau lambat itu pasti terjadi. Entah dikau dirindukan. Menjadi idola sepanjang zaman. Ataupun tak diharapkan. Semua segera ingin melupakan. Sehingga kelompok marginal pengemis pinggir jalan. Lihatlah sekeliling. Ingat yang sudah pergi duluan. Nasib yang tak dapat dihindarkan.
Kemana orang-orang sebelum kita.
Yang pernah hidup di dunia?
Terbanglah ke surga.
Terjunlah ke dalam neraka.
Bila kau ingin menjumpai mereka. (lyrics Gaudeamus Igitur)
Telaga kehidupan ditinggal pergi. Segera kematian menghampiri. Asal usul pengharapan ditinggalkan. Hidup jadi berantakan. Sumur air hidup dilupakan. Suksespun tak akan memuaskan. Sumber cahaya dilupakan. Kegelapan melingkupi. Kekasih hati dikhianati. Dia tak lagi diingini. Kutolak lalu Dia pergi.
TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. (1 Samuel 8:7)
Betapa sunyi hati ini! Ditinggal pergi kekasih hati. Belahan jiwa tidak ada lagi. Hidup terasa sepi. Sunyi dan sepi sekali. Sekitar bisa ramai. Segala keperluan tercukupi. Karier sukses dan terus mendaki. Namun, hati sepi tetap tak terobati. Karena kekasih yang sejati. Nan abadi. Sang Ilahi. Telah ditinggal pergi. Sunyi sepi sendiri. Sejak Dia kutinggal pergi. Daku menanti-nanti. Kapankah Dia kembali?
What if he now should reach out and take fruit from the Tree-of-Life and eat, and live forever? Never—this cannot happen! So GOD expelled them from the Garden of Eden and sent them to work the ground, the same dirt out of which they’d been made.” (Kejadian 3:22, the Message)
Terjemahan bebas dan paraphrasing:
Bagaimana kalau dia makan. Buah kehidupan. Sehingga menderita hingga kekekalan. Ini tidak bisa dibiarkan! Segera harus dihentikan. Segera mereka diusir dari Taman Eden. Mengusahakan hidup dari pertanian. Hingga kematian yang tak terelakkan.
Kapankah dapat bertemu lagi? Tegor sapa seperti waktu di taman lestari. Masa-masa bahagia sebelum tragedi. Memandang muka dengan muka dengan Sang Ilahi. Suara-Nya dapat didengar kembali. Bahkan langkah kaki-Nya jelas sekali (Kejadian 3:8). Keharmonisan dengan kekasih hati. Rindu untuk kembali ke tempat sejati. Sekarang terasa sepi. Sejak Dikau kutinggal pergi.
Itu kehilangan yang paling hakiki. Sang Ilahi ditinggal pergi. Kesepian melanda bumi. Kebisuan hubungan ini. Telah berlangsung lama sekali. Keheningan mencekam sanubari. Kesenyapan yang melanda setiap insani. Kekosongan jiwa bahkan melanda kaum elite rohani. Ketidakpuasan di semua lini. Kalau semua akan ditinggal pergi. Untuk apa hidup ini!
Selamat datang! The lonely planet, di planet yang hening tegang. Sang Pemilik ditendang. Sang Raja kalah perang. Kehampaan telah melanda semua orang. Tidak tahu berapa lama ini akan berselang. Hati-hati hidup, kawan. Ini planet yang kesepian. Bisa saja terjadi yang bukan-bukan. Moga selamat sampai tujuan. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |



