Dengan apakah dapat diibaratkan kejadian di Taman Sorga? Kiasan yang dapat dirasakan hingga itu seolah nyata. Contoh yang dapat dimengerti oleh mereka yang telah dewasa. Ilustrasi yang menggambarkan kisah cinta. Narasi kekasih main mata. Pengkhianatan cinta. Cerita hati yang terluka. Stori tentang dikau dan Sang Pencipta.
Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam, di sana mereka telah berkhianat terhadap Aku. (Hosea 6:7)
Itu seumpama sejoli yang tengah mabuk asmara. Sepakat ikat janji dibungkus kasih mesra. Ikatan dua hati untuk seia sekata. Betapa indahnya. Sungguh sangat bahagia. Dunia terasa milik berdua. Seakan semuanya ikut menyambut ria. Alam turut bergembira. Jatuh cinta, sejatinya, itu masa-masa yang sangat membahagiakan. Dan dan dan. Dia jatuh cinta kepada dikau seakan itu senantiasa cinta pertama-Nya! Dulu di Taman Sorga begitu. Sekarangpun sama seperti itu. Dan itu tak akan pernah berlalu, apalagi layu. Terhadap dikau, selama-lamanya, cinta pertaman-Nya akan berlaku.
Itu bagaikan cinta sejoli yang dirindukan. Kedua pihak orangtua juga ikut mengimpikan. Apalagi Saudara-saudara dan handai taulan. Bukan hanya hati sejoli, cinta itu juga menyatukan kedua belah pihak yang berlainan. Perbedaan kasta yang tak terbayangkan. Ingat, dikau itu makhluk ciptaan. Bagaimanakah mungkin daku dapat bersatu dengan Sang Pencipta?
Cinta memang misterius! Ketidaksamaan yang mendasar. Itu bak air dan miyak goreng rumahan. Ada jurang dalam yang memisahkan. Sudah kodratnya, unsur-unsurnya berbeda dan tak dapat disetarakan. Namun, cinta mampu yang berseterupun disatukan.
supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. (Yohanes 17:21)
Inilah waktunya cinta diwujudnyatakan. Hari yang diharapkan. Semua keluarga, nyonya, dan puan menanti-nantikan. Saat sejoli ikat janji dalam pernikahan. Sehidup semati tak terpisahkan. Selamanya bahagia tak terkatakan. Itulah rencana-Nya dari permulaan. Kehendak-Nya sejak dikau belum diciptakan. Maksud abadi-Nya sejak dunia belum dijadikan (Efesus 3:11). Dikau, kekasih-Nya, sebagai cinta pertama-Nya yang Dia rindukan.
Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. (2 Korintus 11:2)
Ups! Di hari yang dinanti-nantikan. Tak disangka. Siapa yang dapat duga. Sang Pencipta-pun kelu. Dia seakan tak bergerak kaku. Dan ragu bertanya: ‘Dimanakah dikau kekasih hati-Ku?’ (Kejadian 3:9). Kekasih-Ku pergi bersama lawan-Ku. Bak janur kunig telah melambai. Namun, apakah yang didapati ketika Aku sampai? Engkau bersanding dengan yang lain.
siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? (Galatia 3:1)
Di Taman Sorga dulu begitu. Sekarangpun seperti itu. Hati daku dan dikau telah terpesona. Terpaut kepada kekasih yang lain. Tercantol bujukan maut. Terpincut rayuan kata-kata madu berujung racun. Dan dan dan. Hati-Nya sakit! Pedih! Karena kekasih-Nya buang muka. Adakah sakit yang lebih pahit? Dari kekasih bermain ‘gila’ dengan sengaja. Itu di depan mata pula!
engkau menimbulkan sakit hati-Ku, bahkan engkau telah membelakangi Aku. (1Raja Raja 14:9)
Apakah Allah terus merasakan sakit itu hingga sekarang? Itu bukan hanya cerita pilu di kitab Raja Raja. Seandainya narasi itu ditulis. Jika saja kisahnya dibukukan dalam sebuah novel. Kalau HIS tory-Nya dibaca. Maka isinya sejak era Adam hingga sekarang, tak lain hati-Nya terluka. Dia berduka. Karena kekasih bermain mata! Daku dan dikau pengkhianat cinta.
Cinta yang menyatukan. Itu berubah menjadi menyakitkan. Manusia dengan Sang Pencipta tak ‘enakkan.’ Tak lagi akur karena tak tepati perjanjian. Bertutur kata serba salah bak tebak-tebakkan. Menjadi sulit bertegor sapa. Hubungan telah rusak. Bukankah akibatnya hati ini menjadi dingin?
Perasaan tumpul karena terpikat godaan. Tak ada lagi afeksi. Romantika Ilahi telah lama pergi. Kehangatan. Kerinduan. Cinta kepada Sang Pencipta, itu tinggal khayalan. Akibatnya jadi berantakan. Suami istri tidak lagi seiring sejalan. Saudara bersaudara saling sikut-sikutan. Bukankah itu dikau dapat rasakan?
Gawat! Syaraf rasa telah putus, tak rasa apa-apa. Itu bak dibius dokter anestesi.
Hati tidak lagi dapat merasakan. Terbuai rayuan. Tertipu oleh kekasih hati yang lain yang seakan memuaskan. Itu dapat berupa capaian-capaian. Apalagi pujian-pujian. Dan itu juga termasuk kegiatan-kegiatan kerohanian. Hati dingin kaku tak karuan. Itu ibarat hati dibius oleh pujaan-pujaan. Dan akhirnya tak terasa apa-apa seraya bertanya: ‘Memangnya ada apa?’
Mau ke mana kisah cinta ini dibawa?
Senandung suara ‘The Wild Longing’ telah lama lenyap bersama angin malam. Namun, seperti Adam, pilihan ada di tangan dikau seorang. Moga masih ada yang siuman. Mendengar jeritan. Menyambut hati-Nya yang sakit karena luka dalam. Ragu, apakah daku masih merindukan? Cinta pertama-Nya yang tak lapuk ditelan zaman. Maaf, hatiku lebih sering kebas. Moga dikau tidak demikian. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Gerd Altmann from Pixabay




