164. ‘The Deepest Secret’

Viewed : 1,140 views

Taman Sorga, TKP perselingkuhan manusia pertama (Hosea 6:7). Itu ‘love affair’ dahulu kala. Dampaknya terasa sepanjang masa. Kita semuanya, terperangkap dalam ceriteranya. Kisah kekasih tidak setia. Tak bisa dipegang kata. Aku dan dikau pengkhianat cinta. Hati mendua. Tinggalkan cinta pertama. Dan Dia diam, walau terluka.

Karena cinta-Nya, Dia persilakan Adam dan Hawa untuk hidup dengan pilihan mereka. Demi kasih setia-Nya, manusia diberi kesempatan ke dua. Peluang untuk kembali ke cinta mula-mula. Di Taman sorga begitu. Sekarangpun berlaku. Pilhan ada di tangan Saudara!

Aku manusia celaka! Sepertinya hati tidak siap lagi untuk menjalin cinta. Cinta yang membutuhkan kasih setia. Setia walaupun menderita. Bukankah begitu janji pernikahan di hadapan pendeta? Kita makhluk suam-suam kuku dalam mengikat cinta. Tanpa komitmen. Dingin. Kaku. Sekenanya dalam bertegur sapa. Enggan diikat oleh cinta setia. Menjaga jarak dengan Sang Pencipta. Was-was dan curiga. Selalu bertanya ketulusan Sang Cinta. Aku yang tak setia, Dia yang terpojok di sudut sana.

It’s in Christ that we find out who we are and what we are living for. (Efesus 1:11, the Message. Terjemahan bebas: Di dalam Sang Cinta-lah, kita mengetahui siapa dan untuk apa kita ada.)

Hati jadi hampa. Cinta telah sirna. Hidup tak tahu untuk apa. Hidup entah arahnya ke mana. Kehilangan makna. Hidup jadi seadanya. Kebenaran ini tidak bersuara. Namun, dari satu genarasi ke keturunan berikutnya. Dari dahulu hingga kini, hati selalu bertanya. Ada yang tak beres di ‘dada.’

Pasti ada sesuatu di seberang sana! Mungkinkah di balik cakrawala ada yang siap menyapa? Masih adakah yang merasa? Berani tinggal diam ‘bertapa,’ di tenga-tengah kesibukan tiada tara. Tak apa, teruskanlah walau dikau sebatang kara. Kendati teman-teman tertawa. Anggap ‘bertapa’ itu sia-sia.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pengkhotbah 3:11)

The Message: True, God made everything beautiful in itself and in its time—but he’s left us in the dark, so we can never know what God is up to, whether he’s coming or going.

Translation & Paraphrasing: Mantap! Ini keindahannya, Sang Cinta berbicara dalam hati! Dan pada waktunya cinta akan bersemi. Akan tetapi Dia persilakan dikau tentukan pilihan sendiri. Ingat! Akal tak akan pernah tahu, bila cinta akan datang lagi).

Entahlah! Bagaimana itu bisa jadi. Namu ada sesuatu dalam hati. Bicara terus tak henti. Suaranya kadang keras, acap kali sunyi. Kerinduan liar untuk mencari Sang Ilahi. Sang cinta yang sejati.

Ibarat dikau perantau. Melalang buana ke negeri seberang yang tak berujung. Beberapa dekade tak lihat kampung. Di suatu sore yang mendung. Langkahkan kaki hati-hati agar tak tersandung. Menuju tempat lahir di suatu desa sederhana di kaki gunung.

Walau dusun itu tak semegah kota. Tak ada gaduh suara kereta. Yang terdengar hanya jangkrik dan suara burung. Jauh dari keberadaan gedung-gedung. Yang terlihat cuma atap rumbia dan perempuan riang bersenandung. Mereka menari lenggang lenggok sambil menumbuk padi di lesung.

Meskipun itu tak senyaman ibu kota. Kendati itu tak seindah kepulauan di Karabia. Biarpun tak terkenal seperti Amerika. Percuma dikau cari letaknya di peta dunia. Bahkan itu tidak ada di map Indonesia.

Namun? Aaahhh! Sulit dilukiskan. Entahlah! Hati ini selalu bergetar merindukan dusun terkebelakang di perbukitan. Kampung tempat kelahiran. Bagaimana itu bisa dilupakan. Apakah dikau juga alami seperti itu? Rindu tak terucapkan kepada masa lalu. Rindu bertemu, teman bermain waktu kanak-kanak dahulu. Dengar lagu favorit masa lalu? Aaahhh, hati ngilu bergetar kalbu. Ooo desa bersahaja, kau selalu di hatiku.

‘And I still haven’t found what I’m looking for.’ (U2: Dan saya masih belum menemukan apa yang saya cari.)

Mungkinkah dusun itu bayangan kerinduan kembali ke Taman Sorga? Taman cinta pertama bersemi. Bisa jadi kampung itu simbol pencarian hati? Pencarian yang tak henti-henti. Meraba terus hingga nanti. Mengaduk-ngaduk ke sana ke mari. Membongkar-bongkar sudut sana dan sini. Ikut pelayanan itu dan ini. Bahkan sampai-sampai termasuk bilangan kaumn elite rohani. Akan tetapi, hati tidak puas-puas. Sampai ditemukan kekasih hati. Cinta yang sejati.

Semacam ada rahasia yang tersimpan dalam hati. Seperti ada ‘chip’ yang tertanam di sanubari. Chip kerinduan liar untuk mengejar Sang Ilahi. The deepest secret, rahasia terdalam terpatri dalam setiap lubuk hati.

Misteri yang tak dapat diucapkan. Apalagi itu mau dicoba untuk diuraikan. Namun, setiap insan dapat merasakan. Rindu pulang ke kampung halaman. Rahasia yang sering kali terabaikan. Luput dengar suara jeritan. Tangisan hati untuk kembali ke pangkuan. Pelukan cinta pertama yang sudah terlupakan. Moga masih ada hati sedia berjalan. Melangkah setapak ke tempat kelahiran. Selamat jalan. Moga sampai tujuan. Kembali ke tkp, Taman Eden. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments