Naskah kisah hidup nabi Ayub, sangat kontroversial. Sejujurnya, kisah apakah yang Dia ingin sampaikan di era digital? Tentu tidaklah kebetulan kitab ini terpelihara sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari 66 kitab dalam Alkitab. Sahabat! Ceritera apa sesungguhnya yang hendak ingin Ia sampaikan?
Bayangkan! Seumpama, Saudara ada di posisi nabi Ayub! Nikmati bagaimana rasanya berada di tengah-tengah suatu alur ceritera. Alur yang asing ditengah kehidupan yang naskahnya di luar kendali alias tak dapat diduga. Hidup dalam penggalan ceritera. Adegan yang dialami seakan-akan terputus-putus. Tak ada kaitan satu dengan yang lainnya. Waktu seolah-olah berlalunya lambat dan lama. Tak tahu bagaimana awal dan akhir dari semuanya. Singkatnya, tak ada petunjuk kaitan adegan yang diperankan dengan keseluruhan ceriteranya. Kita kehilangan gambaran dan ceritera besarnya. Kita hidup dalam ‘no story’. Akibatnya, dengan mudah kita akan salah menafsirkan apa yang tengah terjadi.
Mata semua pihak. Baik dari dunia ‘sana’ maupun ke-tiga sahabatnya. Bahkan manusia sepanjang zaman, tertuju kepada Ayub. Ayub bak di atas panggung sendirian. Dia menjadi pusat ceritera sekaligus fokus perhatian. Arah sejarah bahkan reputasi Allah diletakkan dipundak Ayub. Ini drama kosmik yang menentukan bukan saja kehidupan Ayub dan keluarganya tapi juga ‘nasib’ Saudara dan saya!
Cukup jelas! Tak perlu disangsikan. Ayub, seorang yang takut akan Tuhan dalam pengertian sebenarnya. Boleh jadi, Ayub jauh lebih takwa dari umat Nasarani dewasa ini! Semua tuntutan aturan agama. Itu Ayub sudah lakukan bahkan tanpa cacat cela! Lalu! Mengapa dia mengalami kemalangan yang sedemikian tersiksanya? Tepatlah pengamatan Elifas. Sahabat Ayub ini melihat Ayub begitu menderita, tahan untuk tak berkomentar: ‘siapakah binasa dengan tidak bersalah? Di manakah orang jujur dipunahkan? Orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusuhan, ia menuainya juga.’ (Ayub 4:7, 8).
Pernyataan Elifas itu mewakili semua pendapat manusiawi sepanjang abad dan prinsip semua agama! Maaf, belum nyambung! Ooo, begini: ‘Jika engkau engkau takut akan Tuhan dan karenanya hidup tak bercacat cela di hadapanNYA. Maka engkau akan baik-baik aja. Tapi jika tidak, maka wajar jika dikau menderita! Karena kemalangan mendatangi Ayub, maka logisnya itu semua terjadi karena dosa-dosa Ayub!’
Sahabat! Dibalik layar, tengah terjadi debat sepanjang zaman tentang: “Does Job fear God for nothing?” (Ayub 1:9, NKJV). Apakah Ayub takut akan Tuhan karena berharap akan sesuatu? Wow wow wow! Allah tengah mempertontonkan suatu prinsip dalam naskah-Nya: ‘DIA mencari cinta yang sejati!’ Respon Sadrakh, Mesakh, dan Abednego: ‘Kalaupun Allah yang kami puja…tidak melepaskan kami dari perapian, kami tidak akan memuja dewa dan menyembah patung emas yang tuanku dirikan.’ (Daniel 3:17,18) Cinta murni. Cinta sejati. Cinta yang tidak ada motivasi lain kecuali hanya mencintai!
Sahabat! Hidup beriman tak identik dengan hidup aman-aman. Apalagi bebas dari ‘terik’ matahari dan kesakitan. Peran sentral Ayub dari naskah yang Tuhan tulis bagi kehidupan. Menyadari akan realita hidup sepanjang zaman. Bisa jadi, posisi Ayub lumrah juga akan dialami oleh setiap insan. Sayangnya, aku lebih cenderung bersikap seperti Eliafas ketika menghadapi persoalan. Bagaimanakah naskah hidup nabi Ayub akan mempengaruhi cara pandang Saudara menghadapi penderitaan?(nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Ulli Paege from Pixabay




