72. ‘Naskah Liar!’

Viewed : 1,123 views

Siapakah yang dapat memahami hakekat hidup? Siapakah yang dapat memilih naskah hidup bagi dirinya sendiri untuk dilakoni? Saya lahir dan menjadi ada. Sahabat lahir dan siapapun yang pernah hidup. Seluruhnya tak pernah ada kesempatan untuk memilih kemungkinan lain bagi naskah hidupnya. Dan hidup yang sangat pendek ini, sangat sulit mencari kaitannya dengan ceritera yang lebih besar. Mengapa?

Kita hidup dalam penggalan-penggalan ceritera yang terlepas bak acara serial ‘lepas’di tv. Atau semacam cerpen (cerita pendek). Baik serial lepas maupun cerpen, kisahnya tak terkait dengan seri-seri sebelumnya ataupun yang akan datang. Kita hidup dalam ‘no story.’ Tak ada kisah. Tak ada ceritera. Bahkan tak ada alasan keberadaan kisah tersebut. Betul, kisah tragedi membuat kita meneteskan air mata. Kisah-kisah heroik membuat hati senang sejenak. Tapi?

Tragedi atawa heroik, itu sepertinya hanya kejadian acak di hari-hari kehidupan manusia. Semuanya ada masanya, yang juga segera akan berakhir. Namun, bingkai lebih besar terjadinya kisah tragedi maupun heroik itu telah sirna! Hidup hanyalah sekedar ’lintasan gambar dan emosi tanpa irama ataupun makna.’ Dan kita terperangkap dalam kisah di cerpen itu. Maka aku berkata dalam hati: “Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?” Lalu aku berkata dalam hati, bahwa inipun sia-sia. (Pengkhotbah 2:15)

 Kita hidup dalam ‘hari ini.’ Itu saja. Bingkai besarnya? Entah ke mana ataupun di mana? Bisa jadi, inilah yang membuat kita kehilangan ‘rasa dan karsa’ akan bingkai ataupun kisah yang lebih besar. Akibatnya? Dalam segala hal, termasuk dalam beriman, kita cenderung untuk segera ingin mendapatkan ‘hasil’nya. Jika, doa tak terjawab ataupun tak seperti yang diharapkan, kita meragukan yang di ‘atas’. Kita kehilangan ceritera yang lebih besar.

Ok ok ok. Apakah Allah yang menetapkan ceritera yang lebih besar itu? Apakah Dia yang menulis naskahnya? Apakah Dia yang menetapkan adegan apa yang harus saya lakoni dalam hidup ini? Apakah Dia mengawasi dari satu adegan ke adegan berikutnya?

Aaahhh! Sejatinya, dalam banyak adengan kehidupan, saya sering mengharapkan sang direktur berteriak: ‘Cut cut cut!’. Pada adegan yang lain? Berharap ada sang jagoan muncul untuk melepaskan dari situasi yang kritis!

Sungguh menakutkan ambil peran dalam suatu adegan.  Episode dimana ada kemungkinan sang produser mengijinkan ataupun membiarkan sesuatu terjadi ke atas kita di luar skenario! Ibarat main di panggung. Tengah asyiknya menjalankan peran. Tiba-tiba lampu sorot jatuh dari ketinggian 15 meter. Itu tepat mengarah ke saya! Tak ada waktu untuk siap-siap mengelak. Akibatnya bisa fatal! Setulusnya, naskah liar seperti inilah yang rasanya kita hadapi dalam kehidupan nyata.

Oklah. Kalau memang Allah itu sebagai Author (Penulis naskah). Dia juga Sang Produser dan sekaligus Direktur (Pengawas) jalannya drama kehidupan. Wajar kalau ada yang bertanya. Cerita apakah yang hendak Dia sampaikan dari serial lepas yang saya alami dan lihat di bawah matahari? Menurut Saudara? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by stokpic from Pixabay

Comments

comments