71. ‘Sertifikasi ISO 9001!’

Viewed : 1,006 views

Apakah arti hidup ini? Pagi berangkat kerja hingga sore bahkan kadang hingga larut malam. Untuk apa? Orang kaya atau miskin. Yang pandai atau biasa saja. Mereka yang terpandang ataupun dipandang sebelah mata. Semuanya akan berakhir juga, di ‘kavling’ 2×2 m. Jika memang hidup ini hanya sekedar hidup dan bekerja sekedar untuk hidup, ‘maka marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.’ (1 Korintus 15:32)

Aaahhh! Rasanya hidup jauh lebih hanya sekedar hidup. Kalau saja ada waktu sela, rehat, sejenak dari hiruk pikuknya kehidupan untuk dengar suara hati. Jika saja hati diberikan kesempatan bicara, kemungkinan besar kita akan terkejut! Hati tahu, ada jauh lebih besar dari sekedar hanya hidup di bawah matahari  ini. 

Sahabat! Hidup ini kayaknya lebih dari hanya kumpulan dalil ataupun aturan. Itu lebih berupa sederetan adegan-adegan dramatis kehidupan. ‘Kita hidup dalam serial drama. Kita hidup dalam ceritera. Setiap keberadaan kita punya kisah sendiri yang turut menentukan ceritera keseluruhan. Kisah tersebut ada awal dan akhirnya. Ada rencana  naskah ceriteranya. Ada peran untuk setiap keberadaan kita.’ (Eugene Peterson)

Kisah hidup adalah bahasa hati. Hati tidak terlalu terpikat dengan angka-angka matematis ataupun rumusan sistematika theologia. Hati peka dengan gambar dan emosi dari sebuah ceritera. Cobalah bandingkan kesan Saudara kala membaca textbook yang tebal. Ataupun buku manual sebuah hp. Kemudian, tontonlah film drama ataupun bacalah novel asmara! Anda akan mulai maklum bahasa hati.

 Dalam masa-masa awal, umat Allah memandang kitab Injil sebagai kisah asmara ilahi (Divine Love Story). Sebuah drama kosmik yang naskahnya mengharuskan adanya riwayat hidup Saudara dan saya! Maaf, gak nyambung, maksudnya apa ya? Oohh! Naskah itu baru bisa ‘dimainkan.’ Dramanya baru bisa berjalan. Ceriteranya baru nyambung, kalau dikau ada!

Wow wow wow! Mantap! Entah bagaimana? Akan tetapi, kisah kosmik tersebut ini seakan-akan merangkai semua drama dan riwayat hidup. Walau itu kelihatannya berantakan dan acak tak beraturan, namun menjadi suatu kisah kait mengkait dan harmonis dalam rangka penyelamatan semesta!

Sayang seribu kali sayang! Umat percaya modern cenderung membaca Injil seperti membaca syarat dan ketentuan memproleh sertifikasi ISO 9001. Syarat untuk lahir baru. Ketentuan untuk mendapat tiket masuk sorga. Klasifikasi dan profil murid. Fungsi dan tugas seorang gembala sidang maupun diaken. Memang, ada benarnya semua fakta yang disajikan. Namun demikian, akibatnya fatal. Kita telah kehilangan ‘bahasa hati’. Syarat dan ketentuan itu walau betul adanya, tapi itu tidak membuat kita berlutut dan kelu di hadapan tahta kasih karunia-NYA.

Merendahkan wahyu ilahi menjadi sekadar prinsip-prinsip pertumbuhan iman. Hanya seputar metode penginjilan. Hidup sehat cara Alkitab ataupun seni pemuridan. Tak sadar, kita abaikan unsur-unsur misteri, kekudusan, kemulian dan keagungan-Nya. Akibatnya! Kita mengalami kerugian besar dan kehidupan spiritual umat dewasa ini seperti yang dapat kita rasakan pada diri kita masing-masing! Tak ada ’hati.’ Hilang ‘greget-nya.’ Hidup keagamaan hanya seadanya dan untuk pelengkap irama hidup belaka!

Kalau memang, naskah ilahi itu mengharuskan kehadiran riwayat hidup Saudara dan saya ada (Mazmur 139:16). Apakah ini artinya pahit getir dan suka senang kehidupan, jadi lebih masuk akal! Apakah begitu? Menurut Saudara bagaimana? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments