Terasa sesak beberapa hari ini dan tak tahu berapa lama lagi. Maaf, ini sesak bukan karena asma, bukan pula karena ada kelainan jantung. Mengapa tidak? Aku tidak siap melihat apa yang terjadi! Aku meng-usap-usap mata. Berharap ini hanya mimpi. Aaahhh, apa daya bayangan itu tetap ada. Ini jagoan-ku, setelah lelah berperang dan tanda-tanda kemenangan sudah di pelupuk mata. Eeehhh, malahan tewas hanya karena ‘keselek’ makan rambutan! Aku berharap tadinya kisah hidupnya berakhir dengan ‘happy ending’, apa daya dia tewas mengenaskan!
Aaahhh, berat memang! Kemanapun mata memandang, semua berita berkeluh dengan kejadian beberapa hari ini. Bukan hanya di tanah air, manca negarapun ikut prihatin! Rasanya, logika sederhana sulit menerima fakta. Hati menjerit. Sebagian tak kuasa menahan air mata mengalir. Yang lainnya gusar dengan ketidakadilan yang dialami oleh tokoh yang dipuja. Langit runtuh, harapan sirna, masihkah ada masa depan untuk negeri tercinta? Tapi itulah kehidupan, walau pahit namun harus ditelan.
Rumit memang, jika agama dimainkan bak ‘yoyo’ dalam bingkai seni politik licik. Yang benar berubah menjadi salah dan sebaliknya tanpa disadari umat. Keadilan hanyalah fatamorgana di bawah terik kepentingan dan ego. Tak ada musuh dan teman yang abadi. Semua bisa berubah. Sekejab berjabat tangan, sekejab sikut-sikutan. Seketika teman, tak lama menjadi lawan. Tadinya sengit bermusuhan, sekarang duduk bermesraan. Semua bisa terjadi, tak ada yang mustahil dalam permainan politik. ‘Gelap dan terang’ tak dikenal, kepentingan dan perebutan kekuasaanlah yang mengikat tangan. Kepentingan berbeda, itulah yang melepaskan pegangan.
Aaahhh, fakta ini ngilu. Mengapa tidak? Karena orang tulus, polos, jujur, dan kaum awam-lah yang menjadi korban permainan. Mereka diadu, dikompori, dan dicekoki sehingga menjadi pengikut setia sampai mati. Kalau sudah begitu, jangankan uang, nyawapun rela melayang. Seperti seorang dalang memainkan wayang kulit ditangan. Permainan wayang ini bagaikan: ’anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,’ (Efesus 4:14). Sahabat, permainan ini licik. Bijaklah memilah. Moga tak terjebak!
Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” (Yohanes 21:3)
Ups! Kejadian beberapa hari terakhir ini bukanlah hal baru. Sekitar dua melenium yang lalu, hal mirip juga tampil di panggung politik Yerusalem. Kala kaum elite agama berjabat tangan dengan penguasa, maka keadilan tinggal di angkasa. Lawan tertawa jumawa. ‘Tak ada yang baru di bawah matahari’, kata Sulaiman. Bedanya, tokoh yang sekarang ini pengikutnya setia mengantar hingga hotel prodeo. Bukannya itu saja, ratusan bunga dan ribuan lilin nyala di berbagai kota tanda dukungan.
Yesus? Jangankan bunga, apalagi lilin, sahabat karib-pun lari tungganglanggang! Petrus? Sahabat yang paling diandalkan malah mengajak Sahabat lainnya ‘balik kanan’. Semuanya mencoba melupakan mimpi buruk di siang bolong. Seperti pahlawan kalah dilucuti lawan, demikianlah murid-murid ambil langkah aman. Masing-masing kembali ke profesi semula. ‘Dapur harus ngebul’, kilahnya. Dia dihianati! Dikucilkan. Ditinggalkan. Dijauhi. Dilupakan. Menderita sendiri, sepi, sunyi, senyap melangkah di Via Dolorosa! Ooo, Via Dolorosa menjadi saksi bisu!
Mengapa semua ini terjadi? Mengapa orang benar tertindas? Mengapa pembual mujur? Mengapa di pengadilanpun tidak ada keadilan? Mengapa? Mengapa? Mengapa?
Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-NYA telah siap sedia. (Wahyu 19:7)
Ketika debat sengit jaksa dan pengacara sudah usai. Kala ketuk palu hakim tak lagi terdengar. Teriakan gusar dan garang umat sudah berlalu. Dan sejarah umat manusia telah sampai batasnya. Karena kerelaan-NYA melangkah sendiri di Via Dolorosa. Bagi kita yang percaya, akhirnya segalanya adalah ‘sorak sorai’!
Wow! Walau seketika sesak. Gelap. Terasa langit runtuh. Kebenaran dijauhkan. Namun, di ujung sana menanti kegembiraan dalam pesta perkawinan Anak Domba. Bagi umat percaya, akhir segalanya adalah ‘Happy Ending!’ Amin amin amin! (Catatan: artikel ini ditulis kala BTP sebagai terdakwa dibandingkan dengan pengalaman Yesus dua mellium yang lalu) (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Sang Hyun Cho from Pixabay



