Sahabat yang terkasih,
Hari ini di gereja diselenggarakan adalah hari Bapak, “Fathers Day”, yg biasanya jatuh tanggal 17 Juni.
Hari Bapak diadakan untuk memperingati dan menghormati para Bapak, dan merayakan kebapakan dan ikatan relasional Bapak dan pengaruh seorang Bapak di masyarakat.
Selamat hari Bapak/Bapa/Ayah/Romo/Amang dsb!
Seorang anak pada dasarnya haus akan kehadiran seorang Bapak. Ia mencatat kehadirannya di dalam hidupnya dengan sangat apik. Bukan sekedar pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi kehadiran ini adalah kebutuhan jiwa seorang anak.
Seorang anak tidak menjadi hakim atas sikap Bapaknya terhadap dirinya, atau menuntut kesempurnaan seorang Bapak, tetapi kepada kehadiran di dalam memberikan kasih, perhatian, nasihat, pengajaran dan menjadikan seorang Bapak sebagai idola di dalam hidupnya, figur yang menjadikan seorang anak bangga dengan dirinya, dan mempunyai konsep diri yang benar di dalam hidupnya.
Seorang anak pandai menutupi kekurangan Bapaknya, ketika hal itu terkait dengan sikap, perilaku yang tidak pantas di mata lingkungannya. Hal-hal yang tidak baik itu akan menjadi rahasianya. Dia tahu anak dan bapaknya adalah kesatuan yang tidak terpisahkan.
Mungkin hal di atas adalah sebagian kecil dari keunikan ikatan seorang anak dan ayah. Dan itu sangat kelihatan di dalam periode anak sampai menjelang masa remaja. Anda bisa menambahkan temuan yang lain.
Namun persoalan yang mengemuka sekarang bukanlah masalah hebat dan sempurnanya seorang Bapak, tetapi masalah kehadiran seorang Bapak di dalam kehidupan anak-anaknya.
Kehadiran seorang sosok Bapak di dalam jiwa seorang anak memberikan rasa aman, puas, tenang, dan damai di dalam jiwa anak.
Anak juga mengalami kesedihan, kesulitan, kesendirian, penolakan, rasa tidak aman, tantangan dan kebutuhan sendiri. Kita beryukur ketika kita sebagai Bapak dapat hadir dalam kesedihan, kesusahan, sukacita, saat sulit dan kesendirian yang dihadapi anak anak kita.
Membaca berbagai hasil penelitian terkait dengan berbagai kejahatan remaja, bunuh diri, lgbt, kecanduan, seks bebas, pemberontakan dan sebagainya, salah satunya permasalahan yang dikarenakan anak kehilangan (kehadiran) figur seorang Bapak di dalam hidupnya. Bapak yang hadir di dalam jiwa anaknya, sudah menjadi sahabat seperjalanan, yang mengiringi pertumbuhan anak-anaknya.
Ketidakhadiran menghasilkan kekosongan, kekosongan ingin diisi dengan yang lain. Bagaimana jikalau yang mengisi bukan sumber air yang menyegarkan, tetapi air yang busuk?
Apakah jiwa anak-anak kita sudah dipuaskan jiwanya oleh hadirnya sosok saya sebagai Bapak?
Kita, sebagai Bapak yang tidak sempurna, mempunyai otoritas rohani, untuk menyatakan kehadiran Allah di tengah keluarga kita, khususnya anak-anak kita.
Para sahabat seperjalanan, khususnya para Bapak, pada akhirnya memberikan kesadaran kepada anak bahwa ada Bapa(k) yang di sorga yang sempurna yang menjadi sumber air kehidupan yang sejati yang dapat mengisi dan memuaskan jiwanya menjadi tanggung jawab utama kita.
Dalam kehadiran kita sebagai sosok Bapak yang tidak sempurna, kita perlu berseru-seru kepada Bapa di Sorga yang sempurna, untuk menyatakan anugrah dan kebenaran Nya di dalam jiwa anak-anak kita.
Kita sebagai Bapak adalah yang paling berbahagia ketika bisa menemani dan menghantar anak-anak kita kepada Bapa di Sorga yang sempurna.
Selamat hari Bapak, biarlah kita bisa menjadi Bapak yang hadir di dalam segala musim kehidupan anak anak kita.
Salam
Teja-16/6/2019
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |




