01.Ketegangan

Viewed : 1,457 views

Yesus Berkata lagi:”Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu diantara mereka. (Lukas 15:11-12)

Sejenak kata tersebut terucap, ketegangan menyelimuti atmosfir rumah tersebut.

Permintaan anak bungsu kepada bapaknya bagaikan hujaman pisau yang mengiris hatinya. Bapaknya sudah dianggap tidak ada, dan dia meminta bagian warisan yang seharusnya untuk dirinya. Bapaknya belum mati, tetapi ia sudah meminta warisan yang menjadi bagiannya, sepertinya ia ingin mengatakan supaya bapaknya cepat mati, karena ia tidak sabar lagi dengan segala agenda hidupnya sendiri. Ia tidak sadar bahwa perlakuan tidak tahu adabnya telah melukai orang yang sangat mengasihnya.

Tidak ada dasarnya seorang anak untuk menatakan hal tersebut. Pastilah ada kesedihan luar biasa dari sang bapak terhadap perbuatan anaknya. Anaknya sudah dewasa, dan sudah memilih jalannya sendiri. Perkataan anaknya telah dengan dalam melukai hatinya.

Ia sudah dewasa, sudah bisa menentukan jalan hidup terbaik bagi dirinya, ia tidak mau di dalam kungkungan bapaknya, ia ingin bebas merdeka dan menikmati kehidupan dimana dia adalah tuan atas hidupnya sendiri. Ia ingin mengelola harta warisan yang menjadi hakknya dan terpisah dari orang tuanya sebagai wujud dari keinginannya untuk merdeka dari segala bayang-bayang orang tuanya.

Terjadi pergunjingan yang luar bisa di dalam keluarga dan masyarakat mengenai sikap si bungsu.

Khalayak menilai si bungsu sebagai anak yang tidak tahu diri. Tetapi sepertinya juga secara tidak langsung mengatakan bapaknya adalah bapak yang lemah, bukankah dia mempunyai hak untuk mengatakan tidak kepada si bungsu dan menghukum anak durhaka ini. Si bungsu telah menggantikan kuasa hubungan yang terjadi antara bapak-anak dengan hubungan dia dengan segala harta bendanya. Tekanan sosial begitu tinggi, sang bapak merasa dipermalukan ditengah masyarakat, dan harga dirinya sebagai orang tua terluka.

Hatinya sangatlah sedih atas sikap si bungsu. Kemarahan, kesedihan dan kasih bercampur menjadi satu. Marah karena begitu kasarnya permintaan anaknya, sedih karena ia tahu bahwa pilihan anaknya adalah salah, namun ia tetap mengasihi dan merindukan anaknya untuk bersama-sama dengan dirinya.

Si bungsu sudah hilang, bahkan sebelum dirinya meminta haknya kepada bapaknya dan meninggalkan rumah.

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by Antonio Jose Cespedes from Pixabay

Comments

comments