Ayah itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (Lukas 15:20c)
Ayah itu terlebih dahulu melihatnya.
Ketika ia yakin bahwa itu adalah anaknya ia langsung berlari mendapatkanya. Si bungsu tidak menyadari semua kondisi yang dihadapinya saat ini. Semua berlangsung dengan cepat. Ia tertegun ketika menjumpai orang yang ingin dia sujudi, ternyata terlebih dahulu berlari untuk mendapatkan dirinya.
Ia terpaku melihat semua peristiwa yang berjalan dengan cepat di hadapannya. Bukannya ia yang berinisiatif berlari, tetapi ternyata ayahnya terlebih dahulu berlari mendapatkannya. Ia terpukau dengan penerimaan dirinya yang luar biasa.
Si bungsu terpaku dan terpukau.
Orang-orang lain dibuat bingung dengan peristiwa yang terjadi. Mereka memandang semua yang terjadi ini sebagai ketidakwajaran. Bagaimana mungkin seorang bapak yang telah begitu terluka rela untuk berlari menjumpai sang anak durhaka yang telah mengkhianatinya. Bagaimana sang bapak dengan suka rela menanggalkan segala gengsi, martabat dan kehormatannya di tengah masyarakat untuk menjumpai anak yang tidak tahu adab.
Orang-orang ini adalah saksi dari kisah perjumpaan anak-bapak yang terjadi. Seorang saksi secara wajar akan mengikutkan nilai-nilai normatif yang dimilkinya untuk menilai peristiwa yang terjadi. Kisah yang mereka lihat semuanya diluar nilai-nilai normatif yang dipunyai para saksi tersebut. Sebuah ketidakpatutan ketika seorang bapak merendahkan diri sedemikian rupa untuk menjumpai anak durhaka. Anak bungsu harus terlebih dahulu mengakui kesalahan dan membayar keselahannya.
Mereka tidak mengetahui pergumulan yang di dalam hati ayahnya. Kasihnya begitu besar, dan ia ingin mengaruniakan hal itu kepada anak bungsu yang sangat dikasihinya. Ia sudah menunggu lama kepulangannya, dan ia tidak ingin menunda-nunda kasihnya karena alasan gengsi semata.
Ketika anaknya pulang, ia berlari untuk menjumpainya, ia merangkul dan ia menciumnya. Sebuah drama yang luar biasa sedang dipertontonkan di ruang umum masyarakatnya, bukan di dalam bilik pribadi rumah, tetapi dihadapan semua orang. Dan semua orang menjadi saksi perjumpaan tersebut.
Waktu seolah melambat , dan semua aktifitas berhenti untuk menonton sebuah drama kasih yang agung. Ayah menyambut anaknya bungsu yang hilang.
Kasih bapaknya mengalahkan segala gengsinya, dan kasihnya membenarkan segala tindakannya. Si bungsu yang ingin menggunakan bibirnya untuk mengungkapkan penyesalannya, sekejap dibungkam tindakan bapaknya untuk serta membalas memeluk dan mencium bapaknya.
Ketika rangkulan dan pelukan ayahnya menyelimuti dirinya, dan ciuman bapaknya jatuh pada pipinya, maka tidak ada yang dapat membantah betapa pertunjukkan cinta yang agung sedang dipertontonkan.
Rangkulan dan ciuman itu membuktikan bahwa ayahnya sudah melupakan segala dosa pelangarannya.
Semua ketakutan sang bungsu hilang, kasih bapaknya menghancurkan segala ketakutannya dan digantikan dengan sukacita. Rangkulan dan ciuman sang bapak kepada si bungsu yang telah kembali bagaikan tetesan-tetesan air mengisi kehausan jiwanya. Masing-masing ingin berlama dan melakukan kilas balik atas apa yang barusan terjadi. Sang bungsu merasakan kedamaian dan penerimaan tanpa syarat.
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |
Image by CCXpistiavos from Pixabay




