08. Sambutan

Viewed : 630 views

Ketika ia masih jauh, ayahya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. (Lukas 15:20b)

Bapaknya dengan setia menunggu.

“Ia tetaplah anakku meskipun telah durhaka terhadapku. Tidak ada yang dapat memisahkan kasihku kepadanya.”, demikianlah ungkapan hati bapaknya. Di tengah-tengah kehidupan sosial di kotanya, ia terkadang merasa risih dan malu dengan tingkah polah anaknya, “Anaknya adalah anak durhaka!” Sebuah pelanggaran norma sosial yang tidak termaafkan oleh lingkungan sosialnya.

Itu hukuman yang sangat berat dia tanggung di dalam masa tuanya.

Orang sekotanya telah memberikan sanksi hukuman kepada anaknya yang bungsu, tetapi secara tidak langsung, sanksi itu justru semakin menghukum dirinya. Dia dapat menggunakn haknya untuk mengutuki dan melepaskan anaknya yang bungsu, tetapi kasihnya lebih besar dari pada segala kemarahannya. Kasihnya yang besar menghapus segala duka cita yang dia alami akibat perlakuan anaknya yang bungsu. Ia tetap mengasihi meskipun dikhianati.

Bapaknya dengan setia menunggu anaknya yang bungsu pulang.

Setiap saat selagi Burung Prenjak (Burung prenjak atau ciblek adalah sejenis burung berkicau, di dalam tradisi Jawa datangnya burung prejak dengan kicauannya yang ramai di sebuah rumah itu sebagai tanda bahwa rumah tersebut akan kedatangan tamu) masih bersiul dan hingga di pepohanan di sekitar rumahnya, ia selalu menguatkan harapan bahwa anaknya pasti akan pulang. Sambil memanggil kembali kenangan akan masa lalu bersama dengan anaknya; semua kisah kasih relasi bapak anak dalam suka duka yang dialaminya tergambarkandengan kuat di dalam angannya. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Kadang keraguanmengenai keberadan diri sang bungsu menyelimuti dia, “Apakah baik keadaannya?, Apakah masih hidup?, Apakah…?, terus bermunculan di dalam benaknya. Pengharapan dia akan kedatangan sang bungsu selalu bercampur dengan gunjingan miring orang-orang di sekitarnya terhadap anaknya.

Sang bapak tetap setia menunggu.

Seuatu ketika dilihatnya sesosok tubuh berjalan lemah dan limbung di ujung cakrawal. Tersentak oleh rasa ingin tahu, dia curiga, siapakah orang yang dilihatnya, apakah itu anaknya? Tidak mungkin orang di kotanya kelaparan, atau menggelandang, semua aman dan sejahtera. Dia terus mengamati orang tersebut.

Semakin mendekat orang tersebut, semakin dia rasakn bahwa degup jantungnya semakin cepat berdetak. Semakin dekat samakin yakin dirinya, bahwa sosok orang itu adalah anaknya yang bungsu. Sang bungsu tidak sadar bahwa sepasang mata yang mengasihi telah melihatnya. Pandangan mata yang penuh belas kasihan selalu lebih cepat dari pada mata seorang petobat. Bahkan pandangan mata penyesalan dari sang bungsu menjadi tidak berarti dibandingkan dengan kilatan mata kasih bapaknya.

Bapaknya melihat anak bungsunya jauh sebelum anak bungsu mengetahuinya.

Belas kasih orang tuanya semakin terusik melihat kondisi anaknya. Tubuhnya yang renta seperti mendapat kekuatan baru, ia ingin berlari secepatnya menjumpai anak bungsunya.

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Comments

comments