Sahabat, perjuangan kita berat dan sungguh berat. Tak ada yang abadi di bawah matahari. Generasi satu datang, yang lain ditinggalkan. Pemerintah silih berganti menghiasi buku sejarah. Ya, betul. Semuanya juga akhirnya hanya akan menjadi kenangan. Kalau beruntung, nama seseorang dicatat dengan tinta emas sebagai tokoh untuk dikenang generasi selanjutnya. Tentu, keturunannya akan bangga! Namun kebanyakan kita akan berlalu begitu saja tak berbekas. Wah! Kalau begitu, apa yang dicari di muka bumi ini?
Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 9:23,24).
Tentu saja! Lumrah adanya. Manusia hidup mencari kebijakan (ilmu pengetahuan), kekuatan (status), dan kekayaan (kesejahteraan). Apa masih ada yang lain? Namun, mengapa Alkitab menunjuk ke arah lain? Yaitu memahami dan mengenal Allah. Itulah yang paling utama. Yang esensi. Apakah mungkin, dengan mengenal Dia, saya mengerti siapa saya? Dengan mengenal Dia, saya mengerti untuk apa dan bagaimana saya harus hidup. Dengan mengenal Dia, seribu macam persoalan dengan sendirinya sirna. Begitukah?
TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi IA memutuskan untuk diam dalam kekelaman. (1 Raja Raja 8:12)
Aaahhh. Susah dimengerti maksud nats dari ayat itu. Bukankah mengenal Dia itu yang utama dalam hidup? Lantas, mengapa Allah memutuskan untuk bersembunyi dalam kabut kekelaman? Mengapa Dia menyembunyikan diri? Mengapa Dia ‘jual mahal’? Sedangkan cahaya matahari tak dpat mengungkapkan ‘Siapa Dia’. Intelek yang paling cemerlangpun tak mampu menembus kabut itu. Dilematis!
Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh. Mereka berkata kepada Musa: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.” (Keluaran 20: 18-19)
Sudah kodratnya! Sudah sejak dari purbakala. Umat manusia dari semua lapisan agama merasa lebih sreg diwakili dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Tak heran! Akibatnya, peran kaum elit rohani seperti hamba Tuhan, tokoh agama, bahkan orang pinter akan terus penting dalam struktur sosial masyarakat. ‘Memang salah kalau begitu?’ Ooo, maaf! Ini bukan isu salah atau betul. ‘Jadi, apa dong?’ Begini! Dengan sikap seperti itu, maka pengenalan saya akan Allah diserahkan total kepada kaum elit rohani tersebut!
Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. (Yesaya 65:1)
Wow wow wow! Ini berita sukacita sekaligus paradoks. Allah ditemukan oleh mereka yang tidak mencarinya! Dia ‘jual’ murah alias obral kepada mereka yang tak peduli kepada Nya. Kontradiktif, bukan? Wah! Mengenal Allah dengan tak mencari-Nya! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Perhatikanlah! Siapakah kelihatannya yang paling merasa mencari Allah? Kaum elite rohani ataukah kaum awam, orang-orang biasa? Lantas, kita harus bagaimana? Menurut Sahabat harus bagaimana?
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |




