Sebuah kota dengan sebuah menara—itulah kota Babel. Menara yang pada masanya menjulang tinggi, seolah mencapai heavens. Kota pun menjadi simbol teknologi dan keberhasilan sebuah peradaban.
Di balik berdirinya kota Babel dan menaranya, tersembunyi ambisi keakuan manusia demi pengakuan atas prestasinya. Keangkuhan Babel pun tampil sebagai lambang pencapaian luar biasa manusia. Di mana ada kota dengan bangunan tertinggi di dunia, nama kota itu pun segera termasyhur ke seantero semesta!
Kata mereka, “Mari kita mendirikan kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, supaya kita termasyhur… (Kejadian 11:4 BIS)
Di balik pencapaian luar biasa membangun gedung tertinggi di dunia, terselip motivasi tersembunyi: agar termasyhur! “…[M]ake a name for ourselves…” (Kejadian 11:4 ESV)—segala upaya ditempuh agar nama dikenal! Pencapaian yang membuat nama tersohor dan dikenang sepanjang masa. “Let’s make ourselves famous…” (Kejadian 11:4 M). Ternama, jadi buah bibir di mana-mana, menuai decak kagum akan prestasi luar biasa! Masuk daftar hall of fame dunia.
Menara Kembar Petronas yang menjulang megah di kota Kuala Lumpur, setinggi lebih dari 450 meter, merupakan menara kembar tertinggi di dunia hingga kini. Dibangun sejak awal tahun 1993 dan rampung sekitar pertengahan tahun 1996.
Kota Kuala Lumpur yang dahulu tak dikenal, tiba-tiba menjadi buah bibir di seluruh dunia. Bahkan dalam salah satu adegan film yang dibintangi mega bintang Sean Connery, lokasi shooting dilakukan di menara ini. Pada adegan klimaksnya, aksi mendebarkan tersaji di jembatan penghubung (skybridge) antara kedua menara—menjadikannya momen sinematik ikonik dengan latar belakang landmark Malaysia.
Pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Khalifa, mahakarya arsitektur modern yang menjulang setinggi 828 meter di kota Dubai, Uni Emirat Arab. Bangunan ini menjadi ikon melimpahnya dana petrodollar, karena justru dibangun saat dunia dilanda resesi ekonomi. Burj Khalifa bukan sekadar pencakar langit—ia adalah simbol ambisi, inovasi, dan pencapaian ‘keakuan alias jati diri!’
Negara tetangga pun enggan kalah. Arab Saudi kini tengah melanjutkan pembangunan Jeddah Tower yang sempat terhenti. Menara yang dirancang menjadi gedung tertinggi di dunia, dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter—mengalahkan Burj Khalifa. Konon, desain arsitekturnya mencerminkan ambisi budaya dan obsesi kerajaan Arab Saudi untuk tampil sebagai negara terkemuka secara teknologi dan kemajuan peradaban.
Kota bukan sekadar melambangkan ambisi untuk membuat nama melegenda, tetapi sekaligus merepresentasikan ideologi dan politik suatu peradaban. Jika terdengar pernyataan: ‘Teheran menolak gencatan senjata.’ atau ‘Jakarta membuka peluang komunikasi dengan Tel Aviv.’ Anda tentu memahami maksudnya, dan statement semacam ini mampu memengaruhi situasi keamanan—baik dalam negeri maupun dunia!
Dapatlah dikatakan bahwa kota Babel dalam Kejadian pasal 11 adalah metafora dari keangkuhan, keakuan, dan obsesi diri untuk mengukir nama tinggi-tinggi. Sejak Babel hingga kini, godaan untuk meninggikan diri bukan saja sebatas menggapai, tetapi juga mencakar alam surgawi!
“… Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” (Wahyu 14:8)
Kota Babel bukan semata isu teknologi—melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah pernyataan pengandalan diri, egoisme besar dalam menentukan arah hidup sendiri. Sebentuk pemberontakan, kecongkakan, dan keputusan peradaban untuk mengatur diri demi melepaskan diri dari Sang Ilahi.
Sebuah deklarasi diri untuk balik balik kanan dari Sang Kuasa—penyataan manusia manusia untuk sepenuhnya mengandalkan diri sendiri. Dalam pandangan-NYA, ini tak ubahnya dengan zinah rohani! Hawa nafsu cabul Babel telah meresap dalam denyut peradaban hingga kini; bangsa-bangsa pun menyambut antusias anggur cabul Babel!
Menara Babel bukan sekadar upaya menggapai alam langit, melainkan mencakarnya! Ini adalah persoalan hidup—apakah berdiri di atas fondasi keangkuhan diri, ataukah di atas Sang Batu Karang?! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


