Sedari mula, kerinduan-NYA Adam Hawa tinggal di Taman Sorga. Berdua mereka menikmati ‘Pohon Kehidupan’ yang tumbuh subur tepat di tengah-tengah taman (Kejadian 2:9). Segala kebutuhan tersedia, tidak perlu bersusah-susah, apalagi hingga bercucuran keringat, apa yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup hanya sejengkal juahnya dari sumbernya.
Adinda sudah pakar, tahu bahwa akhirnya sejoli terlempar, ke bumi mereka terdampar. Dari hidup tak berkesudahan di Taman Eden, menjadi makhluk fana di bumi. Dari hidup abadi di hadapan Sang Ilahi, menjadi harus tersingkir dari Sang Sumber Hidup, mati!
Setali tiga uang dengan si kerub. Alih-alih dia terbang tinggi, sebaliknya dia menjadi penghuni perut bumi. Sebagai lurahnya, sang pengusa dunia sangat geram dengan apa yang menjadi bagiannya. Dia marah besar dan paham waktunya telah singkat sebagi tokoh jago dusta, untuk menipu sebanyak-banyaknya manusia (Wahyu 12:12)!
Jika drama Taman Eden ditokohi oleh si ular sendirian, maka narasi di Kejadian 6:1-4, pemberontakan yang dilakukan segerombolan anak-anak Allah yang melewati batas kekuasaan. The first rebellion dipelopori oleh si ular sendirian, maka the second rebellion dilakukan gerombolan!
Kalau si ular akhirnya terlempar ke bumi, menjadi penguasa dunia. Lalu, bagaimanakah nasib gerombolan pembangkang makhluk-makhluk supernatural?
Untuk perkara ini, kitab Kejadian bisu seribu bahasa. Demikian pula kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya sepakat untuk turut tutup mulut! Seakan-akan kisah selanjutnya dari sekelompok anak-anak Allah yang memberontak tersebut didiamkan tanpa info sama sekali bagaimana akhir nasib mereka.
Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka [tartarus] dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; (2 Petrus 2:4)
Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar, (Yudas 1:6)
Syukurlah! Tidak demikian dengan rasul Petrus dan Yudas. Walau mereka seolah-olah membahasnya hanya sepintas namun penjelasan mereka sangat membekas. Narasi singkat, akan tetapi menyajikan info latar belakang begitu padat.
Ke dua referensi ayat di atas, terlihat senada dalam menyampikan nasib akhir dari gerombolan makhluk supernatural yang memberontak. Tidak seperti si ular, gerombolan pemberontak tersebut langsung ditawan agar tidak lagi macam-macam!
Mereka dibelenggu di gua-gua gelap hingga tibanya the day of the Lord (Zefanya 1:1-7; Wahyu 16:14). Sementara menanti datangnya hari TUHAN, mereka dipenjara di dalam dunia kekelaman atau neraka dalam istilah terjemahan LAI dalam kitab 2 Petrus tersebut.
Kata neraka di ayat 2 Petrus 2:4 diterjemahkan dari kata tartarus dari bahasa Yunani (sila lihat biblehub.com). Konon, penggunaan kata tartarus ini diadopsi dari kisah klasik mitologi Yunani tentang tempat penahanan dewa Titan yang memberontak (Unseen Realm, M Heiser).
Dalam cerita klasik tersebut, tartarus sering kali digambarkan sebagai tempat siksaan dan hukuman bagi mereka yang sangat jahat atau bagi para dewa yang melakukan kesalahan besar. Oleh karena itu, Tartarus dalam konteks Yunani adalah tempat yang gelap dan mengerikan dan dianggap sebagai lokasi hukuman yang paling berat.
Penggunaan istilah tartarus dalam mitologi Yunani kuno oleh rasul Petrus mengindikasikan tingkat keseriusan hukuman yang ditimpakan kepada malaikat-malaikat yang memberontak. Rasul Petrus meminjam istilah itu dari budaya non-Yahudi yang sudah dikenal baik oleh pembaca kala itu untuk menggambarkan nasib anak-anak Allah yang mbalelo.
Baik rasul Petrus maupun Yudas sama-sama menyebutkan malaikat-malaikat yang berdosa dihukum sementara di gua-gua gelap, dibelenggu di alam yang tidak kelihatan hingga menunggu hari TUHAN datang! Di hari TUHAN, hari penghakiman, pahlawan sekaliber super hero-pun dibuatnya gemetar (Zefanya 1:14).
Lalu, bagaimanakah nasib generasi anomali sebagai hasil asimilasi makhluk supernatural dengan perempuan-perempuan cantik dalam Kejadian 6:2? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
