432. Unseen Realm

Viewed : 204 views

Trailer di Taman Eden telah berlalu, jejak yang ditinggalkan menciderai setiap kalbu. Walau peristiwanya terjadi dahulu, namun bekasnya di peradaban dapat terdengar bertalu-talu. Untuk mendeteksinya, dikau tak perlu ahli sejarah, berita sehari-hari pun sudah cukup memperlihatkan tapaknya yang berdarah-darah.

Bagi daku yang hidup dalam nikmatnya kemajuan teknologi di zaman modern, keruwetan dunia ini dialamatkan semata-mata sebagai buah pemberontakan di Taman Eden. Mungkin dikau juga setali tiga uang, selama ini abai akan peran si ular yang mula-mula melawan.

Baik insan pertama di dunia fisik, maupun si ular dari alam metafisik, sama-sama sebagai makhluk dengan anugerah free will. Si kerub, salah satu penjaga tahta-NYA, mengambil sikap, berambisi untuk menduduki singgasana untuk menyamani yang Maha Tinggi (Yesaya 14:14).

Sebaliknya, alih-alih terbang tinggi, si kerub terlempar ke dunia paling dalam di perut bumi, dunia orang mati (Yesaya 14:15). Boleh dikatakan, si ular kelak dianggap sebagai lurahnya alam kematian, penguasa alam kegelapan. Mengapa? ‘Kan dia yang pertama-tama pembawa alam fana ke dunia.

Mungkinkah narasi-narasi pemberontakan itu bak mosaik? Kepingan-kepingan yang tercecer di sepanjang Alkitab, jika diletakkan pada tempatnya akan pelan-pelan membentuk gambar besarnya. Bisa jadi kepingan itu jika terlepas dari yang lainnya akan menjadi kurang berarti, diabaikan, ataupun bahkan dianggap saling kontradiksi.

Narasi pemberontakan pertama yang terjadi di alam tak kasat mata, unseen realm, dipelopori oleh si ular. Bukan sesumbar, jika tersiar kabar si kerub sebagai makhluk tercipta yang paling pintar (Kejadian 3: 1). Tentu wajar, jika kemudian secara nalar melihatnya itu masih samar-samar. Pemberontakan di alam metafisik hanya sebatas si ular ataukah akan semakin melebar?

Kejadian di Taman Eden, bagi umat Israel kuno demikian juga konteks peradaban di kala itu dimengerti sebagai a supernatural rebellion, pemberontakan di alam tak kasat mata. Salah satu dari anggota ring1 istana, mbalelo.

Bagi umat di era itu, penyebab keruwetan peradaban berbeda dengan yang daku tahu. Hampir semua yang kudengar dan mengerti, narasi kitab Kejadian pasal 3-lah sebagai sumber segala kekacauan dunia. Bagi umat purba, narasi Taman Eden barulah awal perlawanan di alam langit, yang berikut-berikutnya tak kalah sengit.

Mungkinkah narasi serentetan pemberontak di langit yang dipahami umat purba telah tersingkir oleh pemikiran di era digital, era logika? Kehilangan yang begitu besar yang membuat keterkaitan alam sana dan dunia ini nyaris putus.

Akibatnya? Daku kehilangan latar belakang dan memaksakan konteks kini, yang kemungkinan asing bagi umat purba, sebagai kaca mata pemahaman. Kala daku membaca narasi yang lainnya, melihatnya hanya dari segi logika terlepas dari konteks umat yang menjadi tujuan dari kitab itu dituliskan.

Konon, di konteks para penulis Alkitab kala itu, sekitar 2000 tahun sebelum Masehi (Perjanjian Lama) hingga abad pertama (Perjanjian Baru), relasi antara alam sana dan dunia ini terjalin erat tak terpisahkan. Apa yang terjadi di alam supernatural nyata dapat dirasa di alam normal, dan sebaliknya. Ke duanya saling mempengaruhi, tidak berdiri sendiri.

Sebab, perjuangan kita bukan melawan daging dan darah, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, kekuatan-kekuatan dunia kegelapan ini, dan melawan kekuatan roh dari si jahat yang ada di langit. (Efesus 6:11, AYT)

Alkitab jelas dan tegas mengingatkan Adinda! Musuh Tuan dan Puan bukanlah sesama insan, terlepas keyakinan yang bersangkutan! Namun, lawan yang tidak kelihatan yang bagi logika di era digital menjadi bahan tertawaan. Memang ini peperangan di alam pikiran, peperangan yang memperebutkan hati dan akal.

Di Eden si ular menang. Sekarang? Pilihan ada di tangan Puan dan Tuan! Pilihan Adinda akan turut menentukan arah sejarah dunia dan alam sana ke depan! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments