Alkitab memang unik, kisah-kisah di dalamnya dituturkan dengan apik. Bagi generasi modern, pesan dalam setiap drama seakan-akan disampaikan dalam bahasa kriptik. Sepintas kisahnya tidak masuk logika, bahkan kadang-kadang dianggap hanyalah sebuah legenda. Dongeng masa lalu yang sudah kadaluarsa.
Tidaklah demikian bagi mereka yang hidup di zaman purba. Untuk memahami makna dari drama Kejadian pasal tiga, tidak memerlukan kode rahasia. Tidak harus cendikia, kaum awam pun dapat segera mengerti maksudnya.
Wajar-wajar saja, jika penulis kitab Kejadian menggunakan istilah maupun perlambang yang populer di kala itu. Tidak heran, jika penulis menggunakan jenis binatang tertentu, batu mulia, bahkan legenda yang berlaku.
Bukan berarti penulis Alkitab mempercayai sepenuhnya kebenaran cerita rakyat tersebut, namun simbol-simbol itu digunakan dalam menyampaikan pesan kebenaran atau fakta yang hendak disampaikan. Dengan kata lain, untuk mengerti makna berbagai trailer perlu memahami konteks budayanya.
Penggambaran adanya taman yang dialiri sungai jernih nan gemercik, apalagi disertai pantulan beragam sinar batu mulia (Kejadian 2:8-14), merupakan cara khas masa itu menginformasikan tanda kehadiran unsur ilahi. Taman ataupun gunung menunjukkan lokasi head quarter Sang Dewa (Yehezkiel 28:14).
Konon Dead Sea Scrolls, yang ditemukan sekitar pertengahan abad ke 20, telah turut mempengaruhi pemahaman umat tentang Alkitab secara signifikan. Kitab-kitab itu ditemukan di gua Qumran, di kawasan Tepi Barat yang tengah bergejolak sekarang.
Temuan Naskah Laut Mati merupakan temuan arkeologi yang paling penting dan menakjubkan dalam memahami konteks Perjanjian Lama dan naskah Perjanjian Baru. Naskah tersebut diperkirakan ditulis di kurun waktu dari abad ke 3 sebelum Masehi hingga abad pertama Masehi.
Gulungan-gulungan tersebut memberi indikasi suasana kebatinan masyarakat beberapa abad sebelum Masehi. Setelah waktu berselang, lebih dari 2 ribu tahun kemudian, informasi berharga tersebut menjadikan pemahaman akan Alkitab menjadi lebih berkembang.
Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau [si ular] berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. (Kejadian 3:14)
Ini tentu tidak berbicara tentang isu diet si ular, hal makan-memakan. Bukan! Bukan pula bahwa dulu semua ular pernah mempunyai kaki dan sekarang melata di atas tanah. Mungkinkah ayat di atas ingin menyampaikan pesan bahwa dari semua makhluk yang tak kasat mata, si ularlah satu-satunya yang celaka?
Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur. (Yesaya 14:14,15)
Nasib si ular dengan apik dilukiskan dalam kitab Kejadian itu sebagai pemakan debu. Penggambaran yang pas tentang statusnya. Alih-alih terbang tinggi, ke bumi si ular terlempar. Ribuan tahun kemudian, Kristus menyebutnya sebagai penguasa dunia!
…Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, kata rasul Yohanes memperingatkan Adinda tentang fakta kehidupan secara spiritual (1 Yohanes 5:19). Tak ada seinci pun lokasi di bumi yang di luar pengaruhnya, termasuk juga Holyland. Tak terkecuali bangunan yang dijuluki sebagai rumah Ihali! Tidak ada yang steril, bukankah semua makhluk di bawah matahari akan mati?
Begitu berkuasanya dia, sehingga kerajaan dunia dan kemegahannya pun ada dalam genggamannya (Matius 4:8,9). Kerinduannya begitu membara untuk disembah dan dipuja! Jangan sangka si ular menyerah begitu saja, dia akan terus berusaha menggantikan posisi DIA di dalam hati Adinda (2 Korintus 11:3).Sebagaimana caranya merayu Hawa hingga tergoda, jurusnya masih yang itu-itu saja. Menggoda Adinda agar mengalihkan cinta kepadanya. Asal kemulian-NYA berkurang akibat daku tidak setia, dia sudah sukacita. Sekarang pilihan ada di tangan Puan Tuan. Sila diputuskan! Mau memihak yang mana? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

