402. Cinta Manipulatif!

Viewed : 271 views

Kehendak bebas jauh lebih mudah dipahami dalam konteks relasi cinta. Bukankah sesuai dengan jeritan nurani bahwa cinta sejati itu karena suka bukan karena dipaksa? Bagaimanakah dapat dikatakan ada kebebasan jika tidak ada pilihan? Opsi yang sesuai dengan selera, memilih apa yang disuka.

Bagaimanakah dapat dikatakan kebebasan jika cintaku direkayasa? Diatur-atur sedemikian rupa agar cintaku berlabuh kepada-NYA. Ini tak beda hanyalah sebuah sandiwara! Drama yang setiap kata dan tindakan dari para lakon sudah dirancang sebelumnya oleh sutradara.

Akhirnya, seleberasi akbar dalam kitab Wahyu 19:7 hanyalah perayaan cinta manipulatif! Tak terbayangkan bagaimana daku dan dikau loncat-menari gembira ria andaikan sukacita besar dalam drama the end of the time itu hanyalah sebuah perayaan drama kolosal rekayasa cinta!

Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. (Wahyu 19:7)

Journey usaha memahami kehendak bebas ini masih sulit. Siap-siaplah, perjalanan daku dan dikau di depan masih panjang nan berbelit-belit. Apa yang sudah dapat diterima nurani pun masih sebatas kulit. Moga pemahaman yang sedikit demi sedikit akhinya menjadi bukit.

Bagaimanakah dapat didudukkan secara wajar perkara penciptaan manusia, jika itu berpotensi menimbulkan resiko kepada Sang Pencipta? Mengapa DIA tetap melanjutkan rencana menghadirkan Adam Hawa, jika itu dapat meluluhlantahkan hati-NYA?

Bukan saja pilihan itu dapat menyayat hati-NYA, namun bukankah dengan demikian artinya juga isu itu sebagai sebab asal muasal kehadiran dosa dan kebejatan di dunia? Apakah DIA yang menginginkan kehadiran kejatahan di alam nyata?

Bagi sebagian generasi ini, bisa jadi tuduhan bahwa DIA-lah penyebab keruwetan peradaban, tidak dapat lagi dihindari. Sampai-sampai ada yang menganggap DIA-lah sumber kejahatan itu sendiri! Setali tiga uang dengan dialog tuduh-menuduh dalam Kejadian pasal 3.

Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12-13)

Jika dialog interogatif itu dilanjutkan, pertanyaan logis selanjutnya: Siapa yang menciptakan ular? Apalagi gagasan bahwa jika makan buah itu: “…kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:5).

Sulit dielakkan kesimpulan yang seakan-akan menuduh bahwa di dalam diri-NYA samar-samar terdapat jejak goresan kejahatan. Isu ini sudah lama menjadi perdebatan, sekuno dialog sejak peristiwa di Taman Eden.

Faktanya bahwa Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1:5). Lalu, bagaimanakah umat percaya abad-abad pertama memahami isu debat sepanjang zaman ini?

Mungkinkah pengertianku tentang kehendak bebas dalam kaitannya dengan kemahatahuan-NYA-lah yang menjadi salah satu penyebabnya?

Jika DIA sudah tahu apa yang akan terjadi di depan sebagai akibat dari keputusan-NYA, bukankah DIA juga yang sudah menentukan bahwa perkara itu sudah dipastikan akan terjadi sesuai dengan keinginan-NYA? Jika demikian adanya, bagaimanakah daku dan dikau masih berbicara tentang isu kehendak bebas kalau semua sudah ditentukan?

Diskusi pemahaman ini tidak ada habis-habisnya. Perbedaan pemahaman seharusnya hal biasa, tidak perlu menuduh yang lainnya tidak sesuai logika. Namun, apa hendak dikata, perbedaan itu telah menyebabkan umat terpecah ke dalam golongan alias denominasi gereja.

Mungkin ini saatnya, sejenak lupakan paham aliran gereja, dan biarkan Alkitab berbicara apa adanya. Jika mulai terasa buntu bagi rasio, ini kemungkinan tanda-tanda saatnya hati nurani mengambil komando.

Semangat Adinda janganlah sampai patah. Ini baru perjalanan selangkah. Diperlukan keabadian untuk menggapai rahasia Allah (Kolose 2:2,3). (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments