“Blessa, ayo kita ‘pray’.” Kataku.
Blessa langsung berdiri dengan semangat dan jalan ke arahku. Dia langsung meluk dan bilang “I love u.” Pertama Blessa meluk aku, baru selanjutnya ke Ribka.
Setelah itu dia balik lagi kearahku dan bilang “kiss.” Dan selanjutnya ke Ribka kembali. Setelah itu dia duduk dan bilang “Makasih Yesus,..”
Begitulah kebiasaan Blessa setiap malam, ketika kami mau berdoa bersama. Sangat senang melihat kebiasaan Blessa seperti ini. Kepusingan akan cicilan yang menunggu jadi hilang sejenak.😅
Kami berusaha selalu melatih untuk berdoa. Sesibuk apapun kami, harus diluangkan waktu sejenak untuk berdoa bersama. Kebiasaan ini kami harapkan akan dilakukan Blessa kemudian hari.
Bulan Februari jadi bulan doa dari Nav Ina. Senang bisa mengikuti doa di bulan ini. Tidak hanya fokus dengan topik doa, tapi dapat berinteraksi dengan teman-teman dari kota-kota lainnya.
Bagi kami mengikuti proses doa di bulan ini bukanlah perkara yang gampang. Ada beberapa tantangan sampai kami berujar “Begini banget ya pas mau serius berdoa.”😁
Tanggal 7 Februari menjadi ujian pertama buat kami. Disini aku bertugas jadi MC. Semuanya berjalan lancar dan tidak ada kendala di hari itu. Sampai ada WA yang masuk ke Memori Cake Bali, menguji kami untuk tetap mengikuti doa atau tidak.
WA yang masuk waktu itu adalah orderan sejumlah 700 pcs roti versi mini untuk isian snack box. Dan orderan itu masuk jam 10 pagi. Paling luar biasanya, dia minta diantar malam itu juga. Kami minta waktu dulu untuk berdiskusi.
Orderan sejumlah ini agak berat untuk dilewatkan. Tapi, apakah harus lari dari tanggung jawab untuk tidak menjadi MC doa. Alasannya cukup bisa diterima sebenarnya untuk minta pengganti. Tapi, kami menganggap itu lari dari tanggung jawab. Kami pun sepakat keduanya harus dikerjakan. Bagaimanakah caranya? Kami pun mengatur strategi terbaik.
Ribka langsung menghubungi tenaga kerja dan sempat khawatir kalau mereka gak bisa bantu. Puji Tuhan, ada 3 orang bisa bantu. Dan kami menghubungi kembali yang order untuk menyanggupi diantar malam. Puji Tuhan aku juga bisa menjadi MC saat itu dan proses pengerjaan roti juga bisa diselesaikan.
Hari selanjutnya tantangan baru muncul. Pas sore menjelang malam, Blessa demam. Tidak hanya itu saja rintangannya. Beberapa menit mau mulai doa, tiba-tiba hujan deras. Tidak seperti biasanya ruang produksi kami banjir karena atap di ruang produksi roti bocor. Dan saat itu lagi proses juga produksi roti. Sangat sulit sekali untuk fokus konsentrasi untuk jadi MC, mikirin Blessa demam karena bingung mau ngasih obat penurun demam yang aman, air yang menggenang di lantai, produksi yang harus diantar setelah berdoa 😂. Nano nano rasanya 😄.
Bagaimana seandainya kami memilih untuk meratapi keadaan saja? Situasi pasti akan lebih buruk.
1 Tesalonika 5:16-18 (TB) Bersukacitalah senantiasa.
Tetaplah berdoa.
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Ayat ini kami pilih untuk dilakukan. Daripada situasi semakin memburuk dengan meratapi atau mengutuki keadaan, lebih baik tetap melihat kebaikan Tuhan. Walaupun masalah tidak langsung selesai, tetapi ada damai sejahtera yang kami rasakan.
Ternyata jawaban dari menghadapi tantangan dalam berdoa adalah tetap ngotot untuk berdoa. Semangat untuk terus berdoa dan mengucap syukur dalam segala situasi.
Tuhan memberkati.
Denpasar, 010323
![]() |
Ian Bangun, Couplepreneur dengan istri di bidang Bakery dengan brand Memori Cake Bali. Dari jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Unpad dan sekarang jadi tukang roti. Di sela kesibukan baking dan mengurus anak masih sangat senang untuk menulis. Fokus menulis untuk menceritakan kebaikan Tuhan dari setiap proses kehidupan yang dialami. |



