349. Komunitas Pecundang!

Viewed : 573 views

Gak usah mengurut dada, apalagi dikau kecewa. Memang begitu adanya, sudah seperti itu dari sejak dahulu kala. Sudah kodrat hidup di dunia, terperangkap dalam sistem nilai yang mengutamakan yang istimewa. Mereka yang prima ada di muka, digada-gada sebagai idola.

Segala sesuatu dilihat dari prestasi. Performa sebagai alat kaliberasi, penentu kemajuan karier di kemudian hari. Apakah dikau termasuk dalam kategori? Atau harus tahu diri, ya menyingkirlah ke tepi alias tidak lolos seleksi.

Hidup di dunia tidak kenal belas kasihan, yang dapat menembus saringan alamlah yang bertahan. Yang menang maju ke depan, yang kalah rela ditendang ke belakang. Jangan sedih, jangan sakit hati, usah iri, karena begitulah hukum alam yang mengatur kehidupan ini.

Persaingan ada di semua lini kehidupan, kompetisi sengit yang menyingkirkan rasa iba dan belas kasihan. Yang potensial mendapat promosi menduduki jabatan, yang biasa-biasa relalah menjadi bawahan.

Sayangnya, itu terjadi tidak hanya di perkara duniawi, namun juga telah merasuk ke hal-hal rohani. Begitulah pola hirarki di lembaga gerejani, dan tak terkecuali juga mereka yang menduduki jabatan struktur organisasi di lembaga rohani.

Cara pandang ini menilai daku dan dikau dari sisi kompetensi. Kecakapan dalam memimpin persekutuan, ketrampilan bicara di depan, dianggap yang pantas mengambil tanggungjawab melayani di kebaktian.

Jika dikau telah melewati proses lengkap pelatihan, dan tidak ketinggalan berlatarbelakang sekolahan, dikau dianggap potensial menduduki jabatan. Akhirnya dinobatkan bak sebagai pemimpin perusahaan di lingkungan organisasi keagamaan.

Tidak cukup kompetensi, dikau juga dituntut berdedikasi ke organisasi. Tidak pernah absen di kegiatan gereja, itulah ciri dianggap semakin dewasa di hadapan Sang Pencipta. Jika demikianlah yang terjadi, berbagai jabatan akan siap menanti.

Tentu ini jamak, pengalaman wajar yang dialami sejak puluhan abad yang telah lewat. Tidak guna palak, kalau di lembaga agama berkumpul orang-orang hebat, mereka yang terdidik sekaligus berpangkat. Mereka menjadi idola masyarakat, karena sukses di dunia serentak ada jabatan mentereng di organisasi yang mengurus hal-hal akhirat.

Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Korintus 1:27-29)

Cara pandang Kerajaan Allah tidaklah demikian.

Kalau kerajaan agama mencari yang punya kompetensi, yang pandai, berpengaruh karena punya posisi. KA fokus kepada apa yang ada di hati, rendah hati. Gereja, bisa saja, mengganggap dikau hanya beban organisasi. Tidak usah sangsi, justru Sang Raja mencari yang seperti dikau ini.

Kala dikau merasa bodoh, kalah berkompetisi di semua lini. Dicap tidak berdedikasi, sering alpa di acara rohani. Dikau yang tidak dilirik, yang dipandang sebelah mata. Daku yang tidak masuk hitungan, tidak lolos saringan. Tidak punya apa-apa, lemah tidak berguna. Daku yang tidak berarti, atau pun dikau merasa didiskualifikasi organisasi.

Ayo tetap semangat! Cara pandang KA menjungkirbalikkan sistem nilai dunia ini. Yang merasa tidak berarti, itulah yang DIA cari. Apakah dikau merasa tak terpakai? Rendah diri karena tidak pandai, terdiskualifikasi dari seleksi. Ayo ayo ayo, DIA sungguh menanti-nanti yang seperti ini.

Yang dipandang tidak berguna oleh kerajaan agama, justru dipilih Sang Raja. Yang dianggap hina, justru itu yang mulia. KA membawa harapan, bagi dunia yang sarat dengan persaingan.

Bila di segala bidang, dikau merasa kalah sebelum berperang. Dalam hidup merasa daku tidak dipandang, selalu ditendang ke belakang. Dalam kerajaan-NYA, bagi daku dan dikau, terbentang luas peluang! Selamat datang di komunitas pecundang! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments