347. Makna Baru

Viewed : 335 views

Agama terlihat dari bentuk gedung ibadahnya. Dari pandangan mata, dikau pasti dapat menerka itu tempat ibadah agama yang mana. Tempat ini sakral, karena di situlah umat berjumpa dengan Sang Kekal.

Tata cara pertemuan dengan Sang Khalik, di setiap agama diatur dengan apik. Dikau tidak bisa sembarangan menghadap Sang Pencipta. Umat diharuskan mengikuti tradisi, ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari jenis makanan yang boleh dan tidak, sikap sebelum menyantap. Hari ibadah, jargon-jargon ucapan dalam keseharian, serta ritual dalam menyembah Allah. Seketika dapat diterka, dikau penganut dari agama yang mana.

Buku apa yang diharuskan untuk dikau pelajari, pola bimbingan yang bagaimana yang menjadi fokus organisasi, itu bukan lagi suatu teka teki yang tersembunyi. Jenis baptisan, pengajaran maupun tuntutan persembahan yang bagaimana, itu semua memperjelas dikau dari gereja ataupun lembaga rohani yang mana.

Jika tempat suci semakin megah, makin berjubel jamaah yang beribadah, berikutnya pun persembahan berlimpah. Itu dianggap sebagai ciri-ciri keberhasilan dakwah. Angka dan kemegahan ritual menjadi pedoman arah.

Bila kehadiran tempat ibadah sudah ada di mana-mana, itulah sebagai tanda kesuksesan program kerja. Semua diusahakan, dana dan tenaga pun dikorbankan, demi panji-panji berkibar di tempat ini atau pun di tempat itu.

Kalian tidak dapat mengatakan, ‘Kerajaan Allah telah dimulai di tempat ini atau di tempat itu! (Lukas 17:21a, FAYH)

Bukan demikian dengan Kerajaan Allah (KA). Agama dicirikan dari bangunan fisik dan ritual ibadahnya. Lembaga agama terlihat dari kemampuan intelektual rohani dan tingkat militansi kader anggota kepada organisanya.

KA berbeda dengan kerajaan agama. KA tidak terlihat karena bangunan ibadah yang mewah, juga tidak nyata dengan besarnya struktur oraganisasinya. Dan lagi pula itu pun tidak nampak dari lengkapnya rencana strategi pencapaian dunia.

KA tidak dapat dikatakan ada di tempat ini atau pun di seberang sana. Tidak terikat kepada lembaga, tak dapat dikurung oleh bangunan gereja. Lepas dari bentuk fisik, bebas dari ritual agama.

KA tidak rela dimonopoli oleh satu agama, bahkan agama yang dikenal dengan simbol salib di dada penganutnya. Ogah dikuasai lembaga agama, atau pun terpaku kepada metoda. Enggan eksklusif ada di tangan hamba-hamba Tuhan bahkan dari mereka yang dipandang ternama.

Jangan mencari KA di benda-benda fisik yang kasat mata, nanti dikau dapat kecewa. Juga dia tidak hadir di angka-angka yang pertumbuhannya luar biasa, termasuk tersebarnya bangunan-bangunan ibadah nan megah yang tiada dua.

KA tidak ada hubungannya dengan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Karena itu, KA leluasa hadir di semua agama, di semua lapisan, dan di sepanjang masa. Bahkan pandai tampil di antara mereka yang muak dengan itu semua.

Karena itu, berita tentang KA akan selalu memberi damai sejahtera. Akur dengan semua keunikan agama, ramah dengan aneka ragam budaya, dan serasi dengan seribu macam metoda mau pun pola pendewasaan iman umat.

KA tidak merubah bentuk yang sudah ada, namun mengalir melalui kerangka yang tersedia. KA tidak berminat mengutik-utik keunikan setiap agama, namun lebih memberi makna baru sehingga punya arti berbeda. KA tidak interes kepada bentuk, pola, maupun metoda, akan tetapi manusia, Adinda.

Karena Kerajaan Allah ada di dalam diri kalian.” (Lukas 17:21b, FAYH)

KA akan tampak dengan menyaksikan kehidupan warganya! Siapa saja yang berelasi dengan Adinda, sebagai warga KA, yang bersangkutan tengah berhubungan dengan kerajaan yang tidak berasal dari dunia.

Sepanjang daku dan dikau ada di setiap agama, ada di mana-mana, di situ pula hadir KA. Jadilah setiap insan ada kesempatan untuk mengenal Sang Raja! Dalam cara pandang KA, betapa bermakna hidup Adinda! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments