336. AAK

Viewed : 669 views

Jikalau dikau berumur 50 tahun ke atas dan di masa muda giat dalam persekutuan, maka istilah AAK (Amanat Agung Kristus) tidak asing di telinga karena sering di gada-gada. Satu atau dua kali mungkin saja dikau ditantang untuk ikut ambil bagian, berkontribusi dengan penghasilan, atau bahkan dengan menyerahkan masa depan.

Sekarang pun bisa jadi, dikau sering dengar AAK dikumandangkan oleh kaum elite rohani. Itu sebagai bukti, bahwa daku dan dikau hidup tidak hanya berfokus kepada perkara duniawi. Dan daku yang merasa tidak ikut berkontribusi, jadi merasa rendah diri. Keikutsertaan itu seakan-akan telah menjadi ciri bagi golongan yang rela mengabdi kepada Sang Ilahi.

Walau istilah AAK tidak tersurat dalam Alkitab, namun nyata sekali itu tersirat. Perintah terakhir, amanat pamungkas sebelum DIA terangkat. Sebagai titah penutup bagi murid-murid, pesan puncak sebelum DIA mengundurkan diri dan tidak akan kembali lagi sebelum sejarah dunia tamat.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. (Matius 28:19-20)

Betapa penting memperhatikan AAK dengan cermat. Seribu satu macam isu atau pendapat, namun DIA fokus kepada satu maklumat. Amanat agung, pesan terpenting dari yang dijungjung bagi sekalian umat.

Pesan tegas bagi murid-murid untuk menjadikan semua bangsa menjadi pengikut Sang Raja. Sebutan murid kala itu identik dengan pengikut sang guru. Rasa-rasanya jauhlah para murid untuk salah sangka. Itu bukan titah untuk menjadikan seluruh dunia menjadi pengikut mereka.

Ini tidak perintah untuk menjadikan murid-murid sebagai pemimpin atau pun raja. Apalagi menyebarkan ism alias paham ke seluruh dunia. Tidak juga menyebarkan doktrin agama, menjadikan ritual seragam di seluruh dunia. Bukan pula meluaskan kerajaan agama, denominasi, organisasi, metoda, maupun pola pendewasaan umat percaya.

Tapi entah bagaimana, tidak tahu duduk perkara, mengapakah setelah 2000 tahun itu jadi berbeda? Bila manakah itu mulai terjadi perubahan makna? Pengertian AAK telah beralih rupa, dari menghadirkan Kerajaan-NYA menjadi arena perluasan agama.

Namun itulah yang dirasakan bangsa-bangsa di dunia. Hagemoni satu agama ke agama lainnya. Perluasan dan penguasaan satu budaya ke budaya lainnya. Bagi bangsa-bangsa, sekarang AAK itu dianggap identik dengan slogan penjajahan agama dan budaya.

Mungkinkah AAK telah keluar dari bingkai semula? Rangka konteks kala amanat disampaikan. Apakah itu sebabnya mengapa selama 40 hari setelah bangkit, DIA tanpa jedah terus menjelaskan hanya satu tema? Begitu banyak isu yang perlu, namun Kerajaan Allah (KA) yang nomor satu.

Bisa jadi, jika AAK keluar dari bingkai KA akan menjadi liar tidak terkendali. AAK cenderung menjadi perluasan agama atau pun organisasi tanpa disadari. Wajar penganut agama lainnya merasa terancam karena ini perluasan paham.

Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. (Kisah Para Rasul 1:9)

Tiada henti dan dengan berulang kali, Sang Raja menjelasan KA selama 40 hari. Akhirnya murid-murid pun dapat mengerti, lalu amanat agung itu pun diberi. Murid-murid seperti tidak percaya adengan di depan mata. Pelan namun pasti, DIA terangkat ke sorga.

Mereka semua melonggo melihat DIA pelan-pelan hilang di balik awan. Seakan-akan tersadar, mengapa 40 hari DIA tidak bosan-bosan, sabar menjelaskan. Bahkan seolah-olah DIA titip pesan, umat diingatkan, agar berkesinambungan memohon.

Datanglah KerajaanMU! Agar KA hadir di mana-mana, kehendak-NYA terjadi di seluruh dunia. Di hati semua panganut agama, di konteks budaya yang ada, di berbagai tradisi dan kebiasaan umat manusia, semua menjadi pengikut setia Sang Raja. Itulah inti AAK yang semula! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments