Bidang apa saja dalam kehidupan, selalu terdapat tingkatan. Sekolah pun dimulai yang paling dasar, lalu berjenjang hingga menjadi pakar. Bayi juga bertumbuh seiring berjalannya waktu, gagah, dan akhirnya juga lesu. Status masyarakat secara ekonomi juga dibagi-bagi. Ada kelompok bawah, menengah, dan kasta tertinggi.
Itu tak terkecuali, terjadi juga di dunia rohani. Ada kelompk elite sebagai pemangku utama wakil Sang Ilahi. Diikuti bagian tengah sebagai pengantara yang lazim disebut sebagai pekerja rohani. Lantas, ada kelas paling bawah, strata rohani paling rendah.
Di anak tangga paling bawahlah kebanyakan jema’at berada. Umat dianggap jema’at biasa, yang umum disebut sebagai kaum awam, kelompok yang tidak tahu apa-apa. Awam juga berarti tidak berpengalaman. Walau sering tidak disebutkan terang-terangan, kaum awam dianggap golongan kurang penyerahan.
Orang kebanyakan, dianggap kurang dekat dengan Tuhan. Mereka dikatagorikan hanya bekerja untuk perkara-perkara keduniawian. Pikiran hanya seputar apa yang dimakan, dan bagaimana meningkatkan pendapatan. Bisnis, kesehatan, pendidikan, hingga dunia hiburan, semua yang di luar pelayanan, dianggap sebagai pekerjaan duniawi yang lebih rendah dari pelayanan.
Golongan awam, layaknya disebut sebagai kelompok yang tidak ada waktu untuk Tuhan. Sebagian besar kehidupan habis ditelan untuk mencari sandang pangan. Jangan ditanya bagaimana saat teduh, bangun pagi saja pikiran sudah jenuh. Apa lagi ikut kegiatan pelayanan, itu jauhlah dari impian.
Lumrah jika timbul keragu-raguan. Untuk apa semua keberhasilan, jika semua juga akan ditinggalkan. Sia-sia jerih payah siang malam, kalau akhirnya semua juga menuju alam nan kelam. Maka semua capaian dalam hidup, hidup serba cukup, itu dianggap akhirnya juga akan redup. Sia-sia, sia-sia semua juga lenyap ditelan maut.
Demikianlah cara pandang yang selalu didengung-dengungkan. Diperdengarkan siang malam, dari tahun ke tahun, turun temurun. Walau tidak bersuara, namun sangat jelas terdengar. Di ujung sana akhirnya itu dianggap sesuatu yang benar. Doktrin di alam bawah sadar, yang menguasai kaum awam, golongan yang tidak terpelajar.
Dengan sisten nilai demikian, wajar saja walau dikau sukses dalam dunia bisnis, namun di hati justru merasa dituduh habis! Tuduhan yang tak henti-henti, berlanjut dari hari ke sehari. Tidak heran jika akhirnya daku memaksakan diri, terlibat dalam kegiatan rohani. Ikut pelayanan yang sejatinya bukanlah ekspresi diri sendiri.
Itu dapat dirasakan. Bukankah pelayanan yang dilakukan kadang kala karena desakan kiri-kanan? Pelayanan menjadi dunia lain dari hidup keseharian. Melayani cenderung keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari. Dunia nyata tidak ada kaitan dengan kegiatan pelayanan.
Bukankah begitu nasib yang menimpa kaum awam? Jika bersedia mengambil tanggungjawab pelayanan, barulah di hati terasa nyaman. Mengapa? Bisa jadi karena merasa Tuhan hanya dijumpai di kegiatan kerohanian. Sedangkan di dunia sekuler, dunianya uler-uler.
Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Lukas 19:2,5)
Berbeda dengan Sang Raja. DIA mendatangi tepat di mana daku dan dikau berada. Dunia Zakheus pada masanya teramat sekuler, lingkungan hedon yang bergelimpangan orang teler. Suara bising musik iringi biduan yang lagi populer. Di tempat seperti itulah Mesias senang. Ini membuat kaum elite rohani berang.
Inilah berita suka cita dari Kerajaan Allah! Sang Raja suka mendatangi lokasi, tepat di mana dikau dan daku sibuk mencari sesuap nasi. Semakin sekuler dunia tempat bekerja, semakin gandrung DIA mencari yang papa nan hina. Kerajaan Allah memang berbeda! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
Image by CCXpistiavos from Pixabay



