294. Inner Trip

Viewed : 258 views

Di sekitar bulan Juli hingga Agustus tahun ini, itu minggu-minggu susah hati. Dukacita terdengar di mana-mana, kekasih telah pergi. Bukan hanya 1, 2 keluarga yang mengalami, pada puncaknya ada lebih dari 1000 nyawa menjadi korbannya setiap hari. Ini bagian hidup yang takkan terlupakan hingga mati.

Tidak terganggu dengan yang berduka, dingin walau ada yang gembira. Hari terus berjalan maju, tidak mau tahu, kalender terus bergerak laju. Bulan demi bulan berlalu, ini peristiwa alam sejak dahulu. Musim harmonis ikuti perputaran irama alam, senada dengan bergantinya siang malam. Semua teratur dalam cengkeraman hukum yang tidak kelihatan, segala dipaksa tunduk kepada aturan sosok tidak ada perasaan.

Si virus tidak pandang bulu, tidak dapat ikut merasa pilu. Entah dikau percaya dia ada, ataupun merasa semuanya ini hanyalah rekayasa, yang terpapar akan menderita. Walau dikau mampu membayar lebih dari biasa, ambil sampelnya di RS ternama, ataupun daku hanya mampu lakukan itu di puskesmas desa. Hasil tes antigen, apalagi PCR, pastilah positif, begitulah ketentuan yang sudah definitif.

Alam tidak membutuhkan nasihatmu, apalagi menunggu pertimbanganku. Alam itu buta. Dia tidak peduli apakah dikau suka, ataukah tidak setuju dengannya. Dia terus saja berjalan, tidak menyimpang ke kiri ataupun ke kanan, apalagi undur karena di depan ada yang mengancam. Hukum alam tidak termakan bujukan, tidak ragu-ragu karena begitu banyaknya berita hoaks yang berkeliaran.

Alam sangat teguh dengan pendirian, normanya kokoh tidak tergoyangkan. Hukum alam sudah ada jalan, masing-masing ikuti rute yang sudah dipastikan. Sepasti 2 ditambah 2 itu empat, begitulah semuanya hukum alam berjalan dengan taat. Itulah aritmatika, hukum yang mengatur prilaku angka-angka. Begitu pula hukum fisika, kaidah kimia, maupun biologi yang semuanya sudah ada pola.

Tidak ada yang lepas dari cengkeraman, tiada yang dikecualikan, hukum alam jaya di seantero ciptaan. Benda mati maupun hidup, serta si virus yang termasuk ke dalam kategori makhluk yang ada diantara ke dua grup, semua bertekuk lutut ke dalam aturan dalilnya. Tidak ada yang terkecuali, daku dan dikau pun ada dibawah kendalinya.

Begitulah selama 18 bulan ini, semua ada dibawah bayang maut si Corona. Daku dan dikau pun takluk dalam permainan si virus yang buta tanpa ada rasa iba. Lebih 20 ribuan anak-anak menjadi yatim piatu, korban virus yang tak pandang bulu. Pedih ulu hati dengan kenyataan ini, fakta yang mengoyak-ngoyak nurani.

Mengapa semua ini DIA biarkan terjadi?

Perjalanan panjang yang ujungnya belum terlihat, apakah masih jauh ataukah sudah dekat? Ataukah daku dan dikau dengan si virus akan terus berdampingan sebagai sahabat? Sebagai kerabat, tentulah dikau dan dakulah yang harus menyesuaikan adat. Ingat! Bukankah si virus tidak dapat melihat? Atau mungkinkah dia ada misi yang akan diselesaikan hingga tamat?

Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. (Ulangan 8:2)

Mungkinkah DIA hendak berbicara melalui pandemi, mendorong daku henti, diam menyelidiki yang terdalam dari nurani? Untuk tahu isi hati, haruskah menghadapi ancaman mati? Sebegitu perlunyakah untuk menyadari isi hati?

Inner trip, perjalanan batin untuk mengetahui rahasia hati. Ganasnya padang gurun, perjalanan selama 40 tahun. Mungkinkah demikian pulalah dengan pandemi, agar daku dan dikau tersadar akan isi hati? Baru tahu apa yang selama ini tersembunyi. Apakah yang daku cari kalau semua akan ditinggal pergi? (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Image by Dorothée QUENNESSON from Pixabay

Comments

comments