258. Lego Land

Viewed : 486 views

Tidak terasa telah setahun dunia hidup dalam suasana mendung. Semua sisi kehidupan diterpa angin puting beliung. Begitu banyak jenis bisnis yang buntung. Tidak ada yang dibuatnya tidak bingung. Semua bidang kehidupan ditata ulang. Tak terkecuali juga tradisi iman yang sudah belasan abad bertahan tak lekang.

Cara ekspresi iman umat percaya 1700 tahun terakhir dapatlah diibarat bagai bangunan istana megah dilanda gempa. Begitu kuatnya guncangan sehingga tidak ada lagi bangunan yang tersisa. Bagunan megah nan indah rata tanah, roboh berantakan menjadi puing kayu, batu, dan sepertinya sudah tidak ada guna.

Selama beberapa bulan ini, jema’at mencoba cara baru dalam beribadah. Umat sudah dapat merasakan perbedaan itu dibandingkan dengan sebelum ada wabah. Bisa jadi, kebanyakan umat menganggap perubahan ini hanyalah seputar tempat. Yang lainnya, itu menyangkut juga kesucian urutan ritual. Namun yang lain melihat perubahan itu jauh lebih fundamental.

Berapa lama lagi engkau mundur maju, hai anak perempuan yang tidak taat? Sebab TUHAN menciptakan sesuatu yang baru di negeri: perempuan merangkul laki-laki. (Yeremia 31:22)

Ini masa-masa di mana setiap insan umat percaya seakan-akan memasuki arena Lego Land. Itu bak bangsa Israel yang tidak siap menyongsong sesuatu yang baru. Kegalauan menyerbu umat dari segala penjuru.

Sebagian jema’at maju-mundur segan memasuki arena itu. Sebagian lagi lebih memilih sebagai pengamat di pinggir lapangan sambil duduk terpaku. Ada juga yang menanti-nanti arahan dari tokoh agama. Sebagian besar umat, kelihatannya, ambil sikap wait and see. Hanya sebagian kecil yang cukup berani memasuki arena, merespon apa yang tengah terjadi.

Bak di arena lego, balok kayu, batu bata, dan material lainnya bertebaran gak karuan. Sila setiap orang ambil inisiatif membangun kembali rumah seperti yang diharapkan. Tidak ada panduan, semua diberi kebebasan. Di atas semuanya, tidak ada pengawasan terhadap apa yang dikau dan daku akan kerjakan.

Malapetaka demi malapetaka, kesusahan demi kesusahan, dan kecelakaan demi kecelakaan akan kamu alami! Kamu akan merindukan penglihatan seorang nabi, ajaran imam-imam, dan nasihat tua-tua, tetapi tidak ada. (Yehezkiel 7:26 FAYH)

Jujur, semua jema’at mengharapkan pengarahan. Bagaimanakah urutan agar balok-balok lego itu dapat disusun kembali menjadi sebuah bangunan. Apa boleh buat, begitu diperlukan, tepat pula pengajaran telah hilang dari para imam.

Tidak ada lagi mereka, merasa ada karunia nabi, yang cukup berani bernubuat tentang apa yang harus dilakukan. Nasihat dari para senior pun sudah tidak dapat lagi diandalkan. Karena semua juga mulai lagi dari awal berjuang mengangkat balok-balok lego yang berceceran. Sekarang berpulang kepada daku dan dikau, apa yang harus dikerjakan.

Badai puting beliung kelihatannya belum juga ada tanda reda. Malapetaka demi celaka serta kesusahan senantiasa bisa menimpa siapa saja. Perioda-perioda kesulitan akan menyerbu setiap bangunan lego yang ada. Itu layaknya banjir dan angin topan yang akan melanda setiap bentuk ekspresi iman. Akan nyata mana yang bertahan dan mana yang sejatinya hanya rumah-rumahan.

…ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (Matius 7:26,27)

Berharap puan dan tuan, bukanlah orang bodoh yang sekadar ikut-ikutan. Sila daku dan dikau untuk mempertimbangkan, lalu diputuskan. Karena Tuhan akan membuat sesuatu yang baru: perempuan merangkul laki-laki. Sila direnungkan!

Lha, selama ini daku dan dikau merangkul siapa? Gawat! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by White77 from Pixabay

Comments

comments