106. ‘Mengapa Jatuh Cinta?’

Viewed : 1,150 views

Kisah Taman Eden adalah kisah cinta Allah, kisah hidupmu. Di Eden itu, saya dan Sahabat mengkhianati cinta-Nya. Ada rayuan maut dari “orang” ketiga yang berhasil menyingkirkan cinta-Nya.

Bisa jadi itu terjadi puluhan atau ratusan ribu tahun lalu, namun siapa sangka gemanya dapat Sahabat rasakan hingga kini. Tak ada yang kebal, baik saya atau Sahabat pun tak imun, semua dapat mengalami. Tak heran, itu menjadi topik berita hingga kini. Tak ada yang mengajarkan, tak perlu pelatihan, romantika di Taman Eden merupakan realitas hidup hingga kini. Tak perlu kecakapan khusus, semua dapat merasakan betapa pahitnya manakala kekasih main serong di depan mata.

Lupakan dulu debat soal doktrin Taman Eden. Singkirkan pelbagai penafsirannya. Tunda sejenak keingintahuan yang tak berujung. Kisah cinta di Taman Eden itu bukan legenda, apalagi dongeng pengantar tidur. Itu bukan cerita isapan jempol, melainkan itu kisah nyata. Kisah cinta yang dikhianati. Dan Sahabat sudah cukup umur untuk merasakan panasnya api asmara kala cinta dinodai, bukan?

Kisah cinta di Taman Eden itu tidak untuk dianalisis dengan logika. Tak perlu harus cendekia untuk mampu mengkajinya. Tidak butuh fatwa ulama untuk menguraikan keruwetannya. Tak mesti sibuk mencari para ahli untuk menafsirkannya. Sahabat sudah matang untuk dapat merasakannnya. Cinta ada di hati. Cinta tidak untuk diteliti, tetapi dialami!

Perasaan siapa yang tak runtuh, melihat kekasih hati selingkuh. Hatimu boleh saja tegar kala gagal jadi juara. Sahabat bisa saja tersenyum ketika kalah dalam Pilkada. Jeruji besi pun tidak dapat memenjarakanmu. Dipenjara pun, Sahabat tetap “bebas”. Namun ketika kekasih bermain serong, air mata tak tertahankan berderai. Hati hancur berantakan, tak peduli lagi akan masa depan, apalagi kata orang. Walau Sahabat masih bernapas, namun sejatinya cinta telah membunuhmu!    

Efraim telah menimbulkan sakit hati-Nya secara pahit.

-Hosea 12: 15a

Apakah Tuhan merasakan itu? Selingkuh mencederai cinta sejati. Main serong bukan perkara main-main, itu menodai ikatan kudus. Menyeleweng adalah mengangkangi perjanjian sejoli. Andaikan Sahabat dapat rasakan denyut api asmara ilahi. Kalau saja Sahabat peduli pada isi hati-Nya. Seumpama saja Dia rela ungkapkan perasaan-Nya. Semisal Dia tak tahan untuk tak “curhat” kepada Sahabat. Bisa jadi, Sahabat akan dengar senandung rintih-Nya:

Mengapa mengapa?

’Ku jatuh cinta padanya.

Oh ya mengapa cinta padanya?

-Dari lirik lagu Bunga Mawar oleh Koes Plus

Hati-Ku getir. Kalbu-Ku merintih. Tak ada yang lebih pahit daripada kekasih main mata. Tidakkah Sahabat dapat rasakan ratapan-Nya? Tak perlu dijabarkan. Cukup pejamkan mata, lalu rasakan sakitnya hati ketika Sahabat mendapati kekasih tidak setia. Seperti itulah hati-Ku, pahit! Apa salah-Ku? Allah merasa tertipu. Allah tertipu? Masyaallah, Sahabat menipu Sang Maha Tahu.

Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku.

-Maleakhi 3: 8a 

Di Taman Eden, cinta-Nya kalah. Di sana, Dia tertipu. Cinta-Nya dikhianati, perjanjian-Nya dikangkangi. Ups, itu bukan hanya di Taman Eden, bukan pula kejadian masa lalu. Itu belum usai, sekarang pun terjadi hal serupa itu. Sejujurnya, sayalah pengkhianat cinta-Nya. Tidakkah Sahabat dapat rasakan erang-Nya?

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Comments

comments