229. ‘Celebrating The Past’

Viewed : 1,125 views

Si Corona memang fenomenal. Ini wabah perdana yang mengusik kehidupan masyarakat secara global. Tidak ada yang kebal. Ataupun cukup andal. Luput dari si virus yang nakal. Kisah-kisah miris tersebar cepat di era digital. Sungguh bagi setiap individu ini pengalaman yang mahal.

Negara kebingungan. Pula masyarakat sudah mulai bosan. Orang-orang sudah tidak betah dirumahkan. Kehidupan tidak bisa ditahan. Gerak ekonomi harus melangkah walau pelan-pelan. Bagaimanapun bisnis harus jalan. Karena setiap orang masih perlu makan. Demi ‘kampung tengah’ mautpun ditantang. Berjuang demi generasi mendatang.

Dunia tunduk. Tidak ada yang luput. Seakan tak berdaya untuk tidak takluk. Berlutut. Ikuti proposal yang diusulkan si kuman. Tatanan baru yang tidak seperti dibayangkan. Norma asing yang belum ada yang berpengalaman. Semua turut. Tak ada yang tidak ikut. Entah dikau berkenan. Ataupun daku enggan.

Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” (Bilangan 11:5,6)

Aaahhh, kawan!

Kalau sudah ada dalam suatu perjalanan panjang. Tinggalkan kampung halaman. Dusun tempat dilahirkan. Desa tempat dibesarkan. Setelah sekian lama ada di perantauan. Menjadi pendatang di negeri orang. Yang lalu-lalu sangat dirindukan. Walau tak mungkin dikembalikan. Mengingatnya saja sudah cukup melegakan.

Di Mesir semua mudah didapat lagi cuma-cuma. Mentimun ranum yang begitu enak dipandang mata. Belum lagi semangka! Merah merekah tanpa biji manis tiada tara. Apalagi daun bawang dari India. Membuat sop iga begitu beraroma. Dimakan panas-panas alangkah enaknya. Walau sekedar mengkhayal namun sudah bahagia!

Namun di perjalanan ini. Di tempat sekarang ini. Di bawah terik matahari. Di padang pasir tandus sekali. Dari satu kesulitan ke ketidaknyaman yang terus dihadapi. Tidak ada yang enak disini. Makanan rasanya itu-itu saja setiap hari. Sangat berbeda dulu dan kini.

Sudah kodrat. Penyesalan selalu datang terlambat. Dulu siapakah yang begitu merindukan bawang merah? Jika semuanya melimpah. Apa saja didapat dengan mudah. Sekarang payah. Baru sadar yang dulu itu barang mewah. Kalau sudah tidak ada. Baru itu terasa. Apapun yang daku dan dikau punya. Ternya itu berharga. Karena nanti ada saat. Itu akan lenyap.

Mereka mulai menggerutu terhadap Allah dan mengeluh terhadap Musa. “Mengapa engkau telah membawa kami keluar dari Mesir untuk mati di sini, di padang gurun?” mereka mengeluh. “Di sini tidak ada yang dapat dimakan ataupun diminum, dan kami sangat muak akan manna yang hambar itu.” (Bilangan 21:5 FAYH)

TIdak guna mengeluh. Walau berjalan dengan cucurun peluh. Dan rute labirin ini ujungnya masih jauh. Melangkahlah dengan semangat penuh. Menyungsong era baru. Zaman yang tidak seperti dulu. Sakit memang untuk berubah. Karena itu ternyata tidaklah mudah. Sebab harus rela menyerah. Kepada tuntutan si wabah.

Harapan jadi kelam. Jika yang sekarang dibanding-bandingkan dengan yang silam-silam. Ingatlah yang lalu tidak akan pernah kembali. Walau dikau merindukannya sekali. Terimalah kenyataan. Masa kini sudah berbeda setelah ada si virus yang mematikan. Hidup dalam perubahan memang menyakitkan.

Bersyukur dengan semua masa yang lalu. Dengan sikap seperti itu lebih membantu. Untuk maju. Karena melangkah ke depan bukan berarti melupakan yang dibelakang. Namun pengalaman indah yang lalu bisa jadi mengekang. Mengikat sehingga tak bisa lari kencang.

Celeberating the past! Bangga dengan apa yang dulu-dulu. Ingatan yang tak mungkin lepas dari kalbu. Puji Tuhan! Itu telah turut membangun iman. Pak pendeta yang tak jenuh-jenuh berkhotbah di setiap hari Minggu. Majelis dampingi pendeta dengan setia. Pekerja gereja tulus bekerja. Semua tidak harapkan imbalan apa-apa.

Siapakah yang dapat lupa? Dedikasi mereka tidak tercela. Korbankan waktu hanya untuk melayani Anda. Mereka yang memberi dana. Beri tanpa nama. Untuk pembangunan gereja. Sehingga jemaat dapat beribadah dengan sukacita. Berderet lagi mereka yang berjasa. Sehingga terlayanilah umat percaya.

Mari kawan-kawan SELA. Angkat topi kepada semua pekerja. Sahabat yang terpanggil melayanani di lingkungan gereja. Hormat daku dan dikau kepada mereka. Yang rela korbankan uang tenaga. Pahlawan tanpa jasa dari manusia. Tuhanlah yang membalas jerih lelah mereka.

Namun si Corona datang tiba-tiba tidak kenal waktu. Mungkinkah daku dan dikau tengah dituntun memasuki babak baru? Keluar dari ‘Mesir’ untuk tinggalkan yang dulu-dulu. Bisa jadi yang babak ini tidak akan seperti dulu. Siapa tahu?

Ayo melangkah maju! Bergerak maju enggak berarti menyalahkan yang dulu. Karena melangkah ke depan. Bukan maksudnya melupakan yang di belakang. Supaya daku dan dikau tidak dikekang. Dikurung kejayaan masa silam. Sehingga siap merangkul perubahan. Era baru yang si wabah tentukan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by OpenClipart-Vectors from Pixabay

Comments

comments