223. ’Spiritually Hijrah’

Viewed : 879 views

Manusia memang luar biasa. Mahkluk hidup yang tiada tandingannya. Insan yang ada emosi, cinta, dan logika. Itu karunia istimewa. Setiap halangan rintangan menjadikannya lebih perkasa. Bukan demikian dengan yang lainnya. Banyak jenis hewan lain telang hilang binasa. Tidak dapat bertahan dari petaka. Akhirnya lenyap dari dunia. Namun, homo sapien bertahan dan jaya. Sukses melewati berbagai wabah dan bencana.

Namun, kesuksesan itu acap kali mendatangkan celaka! Manusia jadi jumawa. Angkuh dan membusungkan dada. Bangga dengan daya nalar. Bersandar kepada mereka yang pintar-pintar. Cerdik berkelit sehingga bala dapat selalu dihindar.

jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,… Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. (Ulangan 8: 14, 17)

Manusia begitu yakin dengan diri sendiri. Percaya diri. Tak ada persoalan yang tidak ada solusi. Sepanjang peradaban itu sudah terbukti. Manusia selalu unggul dari dahulu kala hingga kini. Ditimpa berbagai badai. Wabah silih berganti. Manusia dapat sendiri menghadapi. Percaya kepada kemampuan insani. Hingga tidak disadari. Merasa tidak memerlukan lagi hal-hal yang berhubungan dengan ilahi.

Si Corona pun tidak terkecuali. Manusia juga akan sanggup menghadapi. Entah itu cepat. Ataupun lambat. Itu pasti akan teratasi. Sehingga fokus semua kepada para ahli. Kapankah obat ataupun vaksin ditemukan? Setelah itu diumumkan. Maka satu lagi wabah dapat ditaklukkan.

Apakah pengalaman pahit ini akan berlalu begitu saja? Seperti yang lalu-lalu. Semuanya kembali seperti sediakala. Hati daku dan dikau tetap membatu. Dan DIA dianggap angin lalu. Kecerdikanlah yang justru cenderung menjauhkan daku dan dikau dari Sang Pencipta.

The only thing we learn from history is that we learn nothing from history. (GW Friedrich Hegel)

Di mana lagi dikau harus didera? Keluh-Nya bak seorang bapak memarahi anaknya (Yesaya 1:5). Berbagai petaka dan duka. Datang silih berganti sepanjang masa. Itu pun tidak membuat hati menjadi peka. Sungguh manusia tidak belajar-belajar dari sejarah. Hingga datang lagi wabah.

Lagi firman TUHAN kepada Musa: “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. (Keluaran 32:9)

Hati sudah membatu. Lain kali itu menjadi dingin membeku. Tidak dapat diberitahu. Selalu merasa yang paling tahu. Tidak mau dengar. Sebaliknya, tak dapat henti, mulut selalu mengumbar. Bukankah daku dan dikau itu tegar tengkuk? Tidak mau tunduk. Apalagi disuruh duduk, pasrah, dan takluk.

Sang Pencipta pun sampai-sampai mengeluh. Tidak sangka sebegitu jauh. DIA pun bengong! Heran melihat manusia demikian banyak omong. Di dalamnya kosong. Pula sombong! Keras kepala. Tidak lagi dapat menyimak suara dari dalam dada. Dan tetap merasa yang paling perkasa (saduran bebas Kejadian 32:9, The Message).

Atau masih adakah yang pasrah? Duduk diam menyerah. Di depan si Corona yang gagah. Siap dengar bisikan-NYA yang lemah. Serta sedia hijrah! Tinggalkan kenyamanan rumah. Pergi ke negeri antah berantah. Sadar perjalanan spiritual ini tidak mudah. Bisa jadi tiap langkah. Itu sewaktu-waktu dapat berdarah-darah. Bak penghancur batu, gagang sampai patah! Agar hati kembali lembut. Dan kepala tertunduk.

Maka datanglah putra-putra Israel itu ke Mesir, selain orang banyak dari berbagai negeri, untuk membeli makanan karena bala kelaparan di Kanaan sama hebatnya dengan di tempat-tempat lain. (Kejadian 42:5, FAYH)

Ini true story, kisah nyata. Sejarah mencatat apa adanya. Kelaparan ada dimana-mana. Wabah merajalela. Pula di tanah Kanaan tidak beda. Ingat! Ini era hutan masih lebat. Istilah global warming belum ada. Apalagi efek rumah kaca. Namun, panen gagal di seluruh dunia. Bukan satu atau dua. Tetapi tujuh tahun lamanya.

Yakub dan seluruh keturunannya. Mereka bergerak meninggalkan rumah. Kenyamanan bak home sweet home ditinggal jauh. Perjalanan panjang kelak berakhir perih. Selama 400 tahun diperbudak tanpa belas kasih.

Lalu hijrah kembali ke tanah Kanaan. Perjalanan panjang selama 40 tahun. Berputar-putar di padang gurun. Karena kedegilan hati lenyaplah satu keturunan. Itu semua menimpa umat pilihan.

Untuk apa?

Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud… untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu,… membiarkan engkau lapar… (Ulangan 8: 2,3).

Ups! Agar daku dan dikau mengetahui. Apa yang tersembunyi. Di hati. Itu terungkap kala hijrah dari kenyamanan pribadi. Atau itu dapat juga terjadi. Kala wabah menghampiri. Moga si Corona dapat mengungkap apa yang ada di dalam hati. Lalu ikuti suara nurani. Itupun pilihan. Terserah kerelaan tuan dan puan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Comments

comments