219. ’The Hiddenness of God’

Viewed : 911 views

Sahabat! Masa-masa ini sungguh berat. Ini pengalaman pertama manusia sejagat. Rakyat biasa maupun penjabat. Yang ternama kaya maupun orang biasa yang melarat. Semua sudah mulai merasa penat. Tiga minggu sudah lewat. Ratusan orang sudah dibuat sekarat. Si Corona belum juga ada tanda-tanda tamat.

Ini momen genting yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap insan dapat merasakan maut begitu nyata. Itu bukan lagi jauh di seberang sana. Kerabat dan yang dicinta. Sudah ada yang merasakannya. Si Corona sudah ada di depan mata. Sakaratul maut bisa datang kapan saja.

Inilah waktunya! Yang kaya pun serasa tidak punya apa-apa. Ternama dan punya pangkat pun tak berdaya. Apalagi yang biasa-biasa. Kegelapan meliputi setiap insan. Semua ketakutan. Gelisah cemas. Hati semua orang was-was. Daku atau dikaukah yang berikutnya?

Bagaimana Saudara dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok? Karena masa hidup kita tidaklah tentu, sama seperti kabut yang pada satu saat kelihatan, tetapi sesaat kemudian sudah hilang. (Yakobus 4:14, FAYH)

You don’t know the first thing about tomorrow. You’re nothing but a wisp of fog, catching a brief bit of sun before disappearing. (The Message)

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok? Sejatinya, tidak ada yang paham apa akan menimpamu esok. Dikau bak segumpalan awan yang kian ke mari terbang melayang-layang. Kena sinar mentari lalu hilang. Begitulah, hidup hanya sekejap. Tak terasa sudah lenyap.

Betapa hidup ini begitu fana. Rapuh bak kaca. Tujuh puluh tahun seharusnya sudah bangga. Karena selebihnya hanya derita nan nestapa (Mazmur 90: 10). Hidup bak sepenarikan napas saja. Lalu tiada.

Beberapa waktu ke depan fakta ini akan semakin terasa. Ini pengalaman berharaga. Pelajaran yang tidak akan di dapat hanya dengan membaca. Apalagi hanya sekedar dengar berita. Haruskah wabah ini dialami agar sadar sebenarnya hidup untuk apa?

Hidup ini bagaikan uap. Bak bunga di pagi hari semerbak sedap. Di petang lisut menguap. Yang kuat tegap. Maupun yang lemah gagap. Tak pandang bulu semua akan ditilap. Namun fakta yang selama ini daku dan dikau tidak tanggap. Sehingga tidak ada yang siap.

Semua sertifikat penghargaan akan ditinggalkan. Tidak akan berarti apa-apa lagi semua pencapaian. Semua yang dibangga-banggakan. Yang menjadi tumpuan. Sandaran yang menjadi andalan. Tidak ada yang dapat bertahan. Hanya menjadi kenang-kenangan.

Tak pandang agama. Dikau percaya apa. Dari denominasi yang mana. Selevel pengkhotbah yang punya nama. Ataupun hanya kaum awam biasa-biasa. Yang tulus ikuti aturan agama. Hingga yang tidak peduli ke gereja. Pada akhirnya semua akan bertanya. Di manakah DIA?

Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat. (Yesaya 45:15)

Celaka! Di waktu berat seperti sekarang ini. Terasa DIA hilang lenyak entah kemana. Dan membiarkan daku dan dikau berjuang sendiri. Allah sembunyi! ’Ya Allah, mengapa Engkau sembunyi?’

Ritual apakah lagi? Atau ibadah macam apakah yang Engkau sukai? Yang harus dilakukan agar Engkau tampil kembali. Agar wabah ini segera pergi. Aaahhh! DIA diam.. senyap… sunyi!

Ini masa-masa fondasi kehidupan digoncang. Iman setiap orang ditantang. Mungkinkah bukan fondasi yang selama ini dipegang? Jangan-jangan aksesori iman yang selama ini digadang-gadang. Embel-embel ibadah yang disayang-sayang. Sementara yang substansi diposisikan di belakang. Akibatnya daku dan dikau jadi bimbang.

Wabah ini akan ada efek jangka panjang. Krisis ekonomi akan datang. Orang-orang akan alami trauma psikologis. Bahkan tak terhindar goyangnya dasar-dasar teologis.

Seakan penuh kuasa. Si Corona akan juga mempengaruhi cara masyarakat tegor sapa. Siapa nyana? Tempat-tempat ibadah pun kosong dibuatnya.

Siapa yang punya telinga? Dengarkanlah! Cobalah diam dan mengerti.

“You’re blessed when you’re at the end of your rope. With less of you there is more of God and his rule. (Matius 5:3, the Message)

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Bersyukurlah jika dikau sudah sampai di ujung tali. Sudah tidak ada yang dapat diharapkan lagi. Bergembiralah jika dalam hidup yang penat dikau sampai di jalan buntu. Semua alternatif ternyata palsu. Seorangpun tidak dapat lagi membantu. Karena semakin tak berdaya. Semakin nyata DIA ada!

DIA tidak bersemayam di istana. Apalagi di tempat-tempat suci agama. DIA senang tersembunyi di kandang domba. Larut bersama yang papa nan hina.

Gawat! Jangan terlena. Oleh berita-berita bak angin sorga. Gunakan logika. DIA tidak ikuti selera manusia. Apalagi aturan main agama. DIA jauh dari yang daku dan dikau duga. Allah yang tidak bisa diterka. Tapi dekat dengan mereka yang tak berdaya.

Jangan tawar hati jika si Corona datang menyapa. Dan tidak dapat lagi diharapkan siapa-siapa. Usah silau kepada mereka yang hidupnya terjaga. Selalu sepertinya dapat berkelit dari malapetaka. Karena dalam deritalah dikau akan kenal DIA siapa! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by Pexels from Pixabay

Comments

comments