216. ’Si Corona’

Viewed : 813 views

Tidak percaya ini terjadi. Ragu apa yang didengar dari tadi. Kuusap-usap mata apakah berita ini pasti. Ataukah ini hanya sekadar mimpi. Maklumlah sudah banyak berita yang tidak dapat dipercaya lagi. Setiap warta mengaku yang paling kini.

Bisa jadi ini pengalaman sekali dalam hidup. Walau bencana sudah terjadi sejak jaman Yusup. Mengalami sendiri tentu membuat jantung dag dig dug. Ketika malapeta bukan lagi cerita anak-anak di Sekolah Minggu. Ataupun dongeng masa lalu. Itu sudah di depan mata. Siapa saja bisa terkena.

Berbeda kala Musa di tanah Mesir dengan Firaun yang jumawa. Wabahnya cerdas hinggap dengan dapat memilah-milah nyawa. Umat pilihan terbebas semua. Kenangan yang terpatri dari generasi ke genarasi. Umat pilihan ada selalu perlakuan istimewa. Apakah seperti itu masih berlaku kini?

Bukan begitu dengan virus corona. Wabah yang tak pandang rupa. Dia tak peduli dikau siapa. Agamamu apa. Semua bisa kena. Hanya dalam hitungan beberapa bulan 150 lebih negara sudah tertimpa. Dari negara kaya raya seperti Singapura. Hingga pengemis di kakilima. Pandemi melanda dunia! Pertama dalam hidup kita semua.

Maka sekaliannya akan menilik kepada bumi bahwa sesungguhnya ada kesesakkan dan kegelapan yaitu kelam kabut kesakitan dan sekaliannya akan dihalaukan ke dalam gelap gulita. (Yesaya 8:22 versi SBI1912)

Selamat datang di dunia gelap gulita. Alam liar di luar Taman Sorga. Tak perlu terlalu terkejut ataupun terperangah. Kelam kabut melingkupi semua negara. Kesakitan jiwa menerpa semua umat manusia. Ketakutan mencekam semua. Kesesakan menerpa semesta.

Siapakah yang tak gemetar menghadapi kematian? Kiri kanan bertumbangan. Tak tahu kita ini menghadapi siapa. Tak tahu datangnya dari mana. Dari siapa. Tahu-tahu sudah kena. Pahlawan gagah perkasa pun tak berdaya. Bertekuk lutut di hadapan mahluk tak kasat mata. Tak ada yang kebal dari Corona. Dan ternyata obatnya belum ada.

Orang yang tangkas tidak dapat melarikan diri, pahlawan tidak dapat meluputkan diri;.. mereka tersandung dan rebah. (Yeremia 46:6)

Kekalutan semakin menjadi-jadi. Setiap orang mementingkan diri sendiri. Mabuk, borong apa saja agar selamat di kemudian hari. Dalam suasana kesemerawutan seperti ini. Baik yang percaya ada Tuhan. Maupun mereka yang lebih mengandalkan ilmu pengetahuan. Sama saja, tak dapat dibedakan. Keselamatan diri sendiri lebih didahulukan.

Masih adakah yang dapat mendengar bisikan Sang Cinta? Whispering Voice di tengah-tengah mara bahaya. Mungkinkah ini hanya sekadar tanda-tanda? Ataukah peringatan yang nyata?

Mengapa pemerintah yang harus memaksa? Agar setiap warga ada waktu untuk bertapa? Tinggal di rumah dengan keluarga untuk bercengkerama. Waktu yang sangat berharga. Untuk dikau dan daku yang gila kerja.

Yesus menjawab, “Kalian memang pandai melihat gejala-gejala cuaca di langit. Langit merah pada senja hari menandakan besok cuaca akan cerah, langit merah pada pagi hari menandakan cuaca buruk sepanjang hari. Tetapi tanda-tanda zaman yang begitu jelas tidak dapat kalian pahami. (Matius 16:2,3 FAYH)

Personality disorder! Dari purbakala sampai dua mellinia yang lalu. Hingga abad ini mungkin akan juga berlalu. Manusia tidak dapat memahami maksud-Nya. Tanda-tanda terkena virus Corona dapat dikenali. Hingga vaksinnya akan ditemukan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Namum bisikan-Nya, tanda-tanda zaman yang sedang daku dan dikau alami. Aaahhh, siapa yang peduli?

Pernahkah? Dalam sejarah ada perintah. Kebijakan untuk warga tidak boleh ke rumah ibadah. Dan warga menerima itu mentah-mentah. Tanpa perlawanan dan menyerah. Ooo, apakah ibadah di rumah masih sah? Kalau begitu untuk apa bangunan megah-megah? Mimbar dan interior yang mewah-mewah. Kalau ibadah dapat di rumah-rumah?

Lalu? Kalau begitu. Jika itu tidak dibutuhkan lagi seperti dulu. Apalagi beban di bahu? Kaum elite rohani apakah masih perlu? Daku tidak tahu! Coba tanya si virus itu. Si Corona yang menggoyang sendi-sendi agama. Yang dianggap itu sudah seperti itu dari dulu kala. Tiba-tiba yang baku roboh jadi baru. Apa begitu?

Ia telah merobohkan Bait-Nya dengan hebat, seperti merobohkan pondok yang terbuat dari daun-daun serta ranting-ranting di kebun. Tidak ada tempat bagi orang-orang untuk menyelenggarakan hari-hari raya kudus dan hari-hari Sabat. Raja-raja serta imam-imam berjatuhan dan tersingkir terkena murka-Nya. (Ratapan 2:6, FAYH)

Si Corona begitu liar menyebar dari satu orang ke yang lainnya. Menghentikannya dengan memutus mata rantai penyebarannya. Kebersamaan dan senasib sepenanggungan umat manusia bermakna baru. Tak pandang ras suku dan agama demi kelangsungan peradaban anak cucu.

Ini kenyataan yang pertama sekali disadari dalam era digital. Bahwa nasibku bergantung kepada Saudara lainnya. I count on you! Kesehatanku bergantung kepadamu! Mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri bermakna baru. Sesama yang tak pandang bulu. Itukah esensi ibadah yang baru? Daku tak tahu. Tanya saja si Corona itu. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by Arek Socha from Pixabay

Comments

comments