208. ’Your Own Way’

Viewed : 762 views

Kitab Kejadian halaman pertama dimulai dengan kisah penciptaan. Dihabiskan 5 siklus hari untuk mempersiapkan kehadiran insan. Setelah segalanya disiapkan. Semua kebutuhan telah disediakan. Akhirnya manusia dijadikan. Diperkirakan siklus itu memakan waktu sekitar 13-14 milyar tahun.

Itu waktu yang tidak singkat. Seakan Sang Pencipta butuh sebegitu lama untuk menyediakan tempat. Alam yang ideal bagi Adam dan Hawa. Rumah yang nyaman asri bagi kehidupan manusia.

Kebutuhan air didapat dari silkus hidrologi yang rumit. Keperluan pangan dari proses photosintesa yang njelimet. Itu didasari reaksi kimiawi, fisikawi, dan biologi. Proses hingga sekarang para peneliti masih belum sepenuhnya dapat mengerti.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. (Kejadian 1:28,29)

Tak alang kepalang. Layaknya Dia tidak berpikir panjang. Jauh dari rasa sayang. Sang Pencipta menyerahkan segala-galanya untuk mereka nikmati. Tidak ada yang sisa, semuanya mereka kuasai. Bak kepada jantung hati. Bagai hadiah untuk kekasih hati. Laksana remaja mabuk asmara. Semua keindahan alam dan dunia dipersembahkan kepada yang disayangi.

Apakah yang kurang lagi?

Kalau saja kisahnya berhenti disini! Tamat di pasal 1 saja. Alangkah indahnya hidup di dunia ini. Kala tidak dikenal boleh dan tidak! Tidak dikenal baik dan jahat. Tidak ada larangan. Semuanya halal. Semata-mata hidup menikmati ciptaan. Alam yang amoral world. Manusia seutuhnya tidak ada pilihan. Bukankah Dia melihat itu baik adanya?

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. (Kejadian 1:31)

Atau bagaimanakah kalau Dia tidak mencipta sama sekali? Tidak ada dunia. Alam semesta tiada. Allah sudah cukup dengan diri-Nya sendiri. Dia Pribadi yang tak membutuhkan apapun. Daku dan dikau tidak perlu tercipta. Insan tidak ada. Tidak ada sejarah apalagi peradan manusia. Tidak ada yang mengalami penderitaan. Tiada air mata. Tidak ada apa-apa. Hanya Allah semata-mata yang ada. Sehingga tulisan inipun tidak ada!

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2: 16,17)

Atau kemungkinan lain. Ada larangan. Ada batasan. Yang diperbolehkan. Dan yang harus dihindarkan. Alias ada pilihan. Ke kiri atau ke kanan. Bukankah itu yang ada di Taman Eden? Sila suka-suka memakan semua buah kecuali dari satu pohon. Pohon pengetahuan diantara ribuan tanaman!

Lantas? Bukankah Dia bisa saja mengatur sedikian rupa? Sehingga Adam dan Hawa senantiasa menikmati buah-buahan yang dikehendaki-Nya. Selamanya memilih seturut kehendak-Nya. Dan terus-menerus menjauhi larangan. Selalu mereka melakukan yang dimaui-Nya. Mereka dari sejak semula. Dari sononya. Selalu saja memilih yang Dia perintahkan. Betapa indah dunia yang sesuai keinginan-Nya!

Namun misteri cinta dimulai.

Saat Dia menawarkan dikau pilihan. Kala daku dipersilakan tentukan kemauan. Kemampuan bebas ikuti keinginan. Putuskan apa yang mau dilakukan. Turuti kemaun-Nya ataukah pilih jalan sendiri, your own way?

Bukankah itu hakekat dari cinta. Kepasrahan untuk menyerahkan diri. Percaya kepada ucapan kekasih hati. Sejatinya, itulah cinta yang diidamankan setiap hati manusia. Kepercayaan suci yang dicari-cari. Relasi yang daku rindukan dan Dia inginkan. Saling percaya dengan segenap hati.

Dan kebebasan itu adalah anugerah terbesar. Karunia yang akan menentukan kemungkinan relasi insan dengan Sang Cinta. Dan pada saat bersamaan juga berkah itu menjadi peluang yang rentan.

Bukankah hanya ada dua kemungkinan akhir dari pilihan?

Entah daku dan dikau terpaku tunduk seraya berseru: ’Kehendak-Mu jadilah dalam hidupku.’ Atau menolak tunduk dan ambil jalan sesuka aku. Jika begitu, Dia pilu dan berkata: ’Jika itu mau mu. Jadilah keinginan mu!’

Celaka!

Daku milih jalan sendiri. Ambil langkah sesuka hati. Jalan kebebasan tak tahunya menyakiti diri. Apakah itu sebabnya hidup seperti sekarang ini?

Sebagaimana di Taman Eden begitu juga sekarang. Kebebasan itu memberi daku dan dikau kesempatan untuk menikmati keindahan relasi cinta. Asmara Sang Khalik dengan manusia.

Semakin larut dalam relasi ini. Semakin mengenal kekasih hati. Rasanya berkurang pulalah kata ‘mengapa’ dalam hati. Karena percaya. Bahwa dalam hikmat-Nya. Semua rahasia nestapa akan terbuka. Kalaupun tidak di dunia. Tentu di alam sana! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Grzegorz Skibka from Pixabay

Comments

comments