190. ’php’

Viewed : 738 views

Semua yang terjadi. Peristiwa di bawah matahari. Kejadian di bumi. Seluruhnya dapat ditelusuri. Walau rumit masih bisa dikenali. Akar dari semula jadi. Asal usul mengapa ini begitu dan kok itu begini. Masalah yang tak terlepas dari kodrat insani.

Seumur hidup dari lahir hingga mati. Hidup sejenak disini. Bak tarikan nafas tak terasa hanya sejauh ujung jari. Akhirnya semuanya akan tiada tak terkecuali. Hidup sementara kini. Itulah yang menentukan kelak nanti! Yang fana berakibat abadi. Hidup atau mati!

Lalu TUHAN Allah menumbuhkan segala jenis pohon yang indah-indah dan pohon yang menghasilkan buah yang baik dan enak. Di tengah-tengah taman itu Ia menempatkan Pohon Kehidupan, dan juga Pohon Pengetahuan yang memberikan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Kejadian 2:9 FAYH)

Semuanya indah-indah. Sedap dipandang mata. Rasanya enak-enak pula. Kelihatannya semuanya baik untuk dimakan. Apalagi pohon kehidupan itu berdampingan harmonis dengan pohon pengetahuan di tengah-tengah taman. Tak ada yang lebih menyolok dengan yang lain. Sungguh serasi apa yang diciptakan.

Aaahhh! Siapa sangka? Dalam keserasian tersembunyi malapetaka. Kehormonisan tersimpan bencana. Yang indah-indah ada potensi bahaya. Siapa nyana? Bak dua sisi mata koin. Berkat dan bala menempel di koin yang sama. Saling senyum lempar tegor sapa. Koin ber-rupa dua. Melengkapi sisi sini dan sisi sana. Hidup dan mati pun berdampingan mesra. Begitukah sebelum sesuatu itu bermula?

Celaka!

Tetapi TUHAN Allah memberikan peringatan begini kepada manusia, “Semua buah di taman ini boleh kaumakan, kecuali buah Pohon Pengetahuan karena buah pohon itu akan membukakan matamu tentang yang baik dan yang jahat. Kalau engkau makan buah pohon itu, engkau pasti mati.” (Kejadian 2:16,17 FAYH)

Ini terasa tidak adil. Ini bukan masalah kecil. Tidak juga jalan sekedar berkrikil. Dengarnya saja badan terasa menggigil. Fatal akibat tindakan yang hanya mungil. Bagaimana mungkin pilihan selera rasa buah berakibat fatal. Seterusnya nasib manusia berobah total.

Gapaian tangan menyebabkan perjalanan tak henti melelahkan. Hidup setiap insan jadi berantakan. Apa yang dipegang berakibat malapetaka hingga kekekalan. Hanya satu kali termakan rayuan. Generasi selanjutnya jadi ikut-ikutan. Hawa dan Adam makan buah, terasa hingga kini. Sekali namun mengikat hingga abadi!

Apa hendak dikata? Kaki telah dilangkahkan. Tangan telah diulurkan. Pilihan telah ditentukan. Manusia termakan tipuan. Rayuan gombal yang memabukkan. Kebohongan yang begitu menggiurkan. Terkecoh karena itu sangat menjanjikan. Pengharapan untuk menjadi seperti Tuhan! Pengharapan palsu (php) yang menjerumuskan. Terjatuh ke lobang yang tak terselamatkan.

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:4,5)

Masyaallah! Sebegitunyakah pengharapan itu? Keinginan terdalam untuk menjadi seperti Allah. Menjadi se- level dengan Sang Pencipta. Sejajar dengan Dia. Tidak ada lagi rahasia. Daku dan dikau hidup sendiri tak bergantung lagi kepada-Nya. Dan dan dan. Nasib daku dan takdir dikau tidak lagi bergantung kepada siapa-siapa. Manusialah yang menentukan mau ke mana.

‘Pekerjaan saya tidak bermaksud memberi kesan membuktikan ataupun sebaliknya tentang keberadaan Allah. Penelitian saya ingin menemukan kerangka rasional untuk memahami alam semesta dimana kita berada. Berdasarkan itu, tidak ada kemungkinan adanya Sang Pencipta karena tidak perlu kehadiran-Nya.

Setiap orang ada kebebasan untuk apa yang ingin dipercayai. Dalam pandangan saya. Penjelasan yang paling sederhana adalah tidak ada Tuhan. Tidak ada pribadi yang menciptakan alam semesta. Tidak juga ada yang menentukan takdir kita. Hal ini menuntun saya kepada realisasi yang besar: kemungkinan tidak ada kehidupan setelah kematian!’ (Stephen Hawking, 2018).

Selamat! Daku dan dikau telah memilih hidup dengan pengetahuan. Tuhan sudah tidak diperlukan. Semua yang tidak masuk akal. Yang tidak dapat dibuktikan. Itu tidak dianggap sebagai kebenaran. Hukum alam yang menjadi panutan. Semua cabang ilmu pengetahuan. Dari dahulu hingga sekarang. Semua menuntun kepada satu kesimpulan. Manusia telah menjadi Tuhan. Insan yang memutuskan ada atau tidak ada Tuhan. Dan Dia diam seakan mempersilakan. ‘Jalanlah sendirian! Ikuti pilihan.’

Manusia mahkluk langka. Tiada duanya di alam semesta. Pilihan ada di tangan Anda. Mau ke sini ataupun ke sana. Sejatinya, tiada yang melarang dikau melakukan apa-apa. Sila pilih yang mana! Dan Dia diam saja.

Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. (Amsal 14:12)

Selamat datang di dunia tipu menipu. Yang luruspun bisa jadi kelabu. Dikejar matian-matian dan ternyata itu semu. Disangka itu kwalitas nomor satu. Eeehhh, ternyata itu hanya jerabu. Wah wah wah. Daku terkecoh pengharapan palsu. Termakan rayuan yang menggebu-gebu. Semoga dikau tidak begitu. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by congerdesign from Pixabay

Comments

comments