189. ’The Unseen War’

Viewed : 631 views

‘True Story?’ Begitulah! Bisa jadi ini dapat dianggap terlalu gegabah. Manusia pertama terkecoh mentah-mentah. Bagaimana nieh, ini susah! Apalagi bagi generasi kini yang lebih tertarik dengan yang mudah-mudah. Dalam kitab suci di halaman-halaman pertama. Itu dihiasi cerita. Drama mengenaskan sejoli tulus kena dusta! Dan itu terjadi di Taman Sorga. Sorga di dunia! Adam dan Hawa terpedaya.

Ular adalah binatang yang paling cerdik di antara semua makhluk di darat yang dijadikan TUHAN Allah. Maka datanglah ular itu kepada perempuan itu dan berkata, “Benarkah Allah melarang engkau memakan buah-buahan di taman ini? Tidak satu pun boleh kaumakan?” (Kejadian 3:1 versi FAYH)

Ups! Ular berbicara kepada Hawa? Maaf. Apakah ular dapat berkomunikasi dengan manusia? Berdiskusi dan saling tegor sapa. Melontarkan candaan sambil bertanya. Dan si ular maklum yang dipergumulkan Hawa. Keinginan tersembunyi di dada. Pantas si ular itu disebut binatang paling cendikia. Tahu apa yang menjadi rahasia kerinduan manusia. Dan manusia bertekuk lutut tidak berdaya. Memakan umpan lewat kata-kata.

Mungkinkah? Stori yang tak masuk logika. Itu punya arti dan makna. Sejarah godaan itu berarti bagi manusia dewasa. Riwayat yang dapat menjelaskan keruwetan hidup manusia. Hidup yang tak akan terlepas dari derita. Nestapa yang tak akan pernah meninggalkan siapa-siapa. Hingga akhirnya semua tiada.

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (Kejadian 3:6)

Ataukah? Kisah singkat itu sebagai jalan masuk ke berita besar. Asal usul segala yang tak dapat dicerna nalar. Mengapa ini dan itu terjadi pada manusia. Drama lika liku hidup semuanya. Bisa jadi, ada sesuatu di balik cerita. Pesan terselubung penuh rahasia. Di Eden dan di dunia. Itu sama saja tidak ada beda. Hati yang menjadi taruhannya.

Misteri hati manusia. Tempat bertemu dosa dan pahala. Kemungkinan menyeleweng dan setia. Polos dan percaya duduk berdampingan dengan buruk sangka. Godaan berbumbu cumbuan maut bersamaan didengar sayup-sayup cinta. Seakan berperang dalam dunia tak kasat mata. Tanpa suara. Apalagi lagi kata-kata. Tanda-tandapun tidak ada. Sunyi. Senyap. The unseen war ada di dada. Celaka! Justru itulah yang membuat dikau manusia.

Ini pertempuran dari dahulu kala. Di Eden bermula. Lantas menjalar ke segala penjuru dunia. Dari anak-anak hingga dewasa serta tak terkecuali juga yang tua. Semua ada dalam konflik yang tak kasat mata. Ingat! Tak ada seorangpun yang bisa ambil sikap ada di tengah-tengah. Netral dan tak merasa. Apalagi santai dan terlena. Jangan salah terka! Ini peperangan yang tidak dikenal genjatan senjata. Hingga tutup usia.

Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. (2Korintus 11:3)

Sebagaimana Hawa alami dahulu. Bagi daku dan dikau itupun berlaku. Ini perseteruan di kalbu. Strategi licik dibungkus rayuan. Godaan untuk mewujudkan yang diimpikan. Mewujudnyatakan yang dirindukan. Menjabarkan yang tak kelihatan menjadi kenyataan. Yang tak kasat mata diusahakan dapat diuraikan dalam bilangan. Cinta sejati kepada Dia berubah menjadi aktifitas ritual yang dapat berulang-ulang diucapkan. Bukankah itu lebih mudah dilakukan? Melihat apa yang terlihat. Terperdaya dengan rayuan. Hidup dalam perangkap kenyataan. Sehingga abai suara dari seberang.

Dan dan dan. Si ular menang. Rayuannya lebih meyakinkan. Kata-katanya menjanjikan. Janjinya sangat menggiurkan. Yang didengar. Yang dilihat. Semuanya sesuai dengan apa yang diharapkan. Siapakah yang tahan dengan godaan? Jika semua yang ada di dada ditawarkan. Baik yang diucapkan apalagi yang dikhayalkan. Tidak ada yang ditinggalkan. Semuanya selaras, seolah tahu apa yang tak diucapkan.

Dalam pertempuran yang tak kasat mata. Si ular menang. Dan dan dan. Sang Pencipta diam! Membiarkan dikau tentukan pilihan. Walau resiko begitu mengerikan. Dia pilih untuk mempersilakan. Terasa pahit menerima kenyataan. Dia rela disingkirkan. Tak apa-apa tidak masuk hitungan. Tidak gusar dinomorduakan. Bahkan dituduh biang segala kejahatan. Hingga Dia hanya dianggap sekedar khayalan! Dan Dia tetap diam!

Sampai kapan, ya Allah?

’God waits to be wanted.’ (AW Tozer)

Hingga dikau merindukan. Hingga Dia diimpi-impikan. Diharapkan. Ketika semua yang kelihatan sudah tidak memuaskan. Saat sadar tidak ada lagi yang dapat diandalkan. Jika semua sahabat mengecewakan. Kala buah pinggang terasa menyakitkan. Dicari-cari hingga rela nyawa menjadi taruhan. Dan gulapun terasa tidak lagi mampu memaniskan.

Selamat bertempur. Peperangan di dunia serba kabur. Jangan mengkhayal berlangsungnya terukur. Walau Dia terasa seperti tidur. Janganlah undur. Maju terus pantang mundur. Sabarlah walau jauh dari sedulur. Sebentar juga terlihat sinar di ufuk Timur. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments