Tinggi Hati

Viewed : 2,093 views

Amsal 18:12
Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

Tinggi dan rendah adalah suatu ukuran atau nilai atau keadaan.

Ukuran tinggi atau rendah tersebut sering kita pakai dalam menilai diri kita, dan bagaimana kita memandang orang lain.

Pastilah ada standar-standar tertentu yang kita pakai dalam berelasi dengan orang lain. Standar tersebut menjadi penentu bagaimana kita berperilaku dengan orang lain.

Ayat di atas mengingatkan kita agar hati-hati dengan standar atau patokan yang kita miliki. Standar tersebut dapat menghancurkan atau membangun hubungan kita.

Sering penyebab utama hancurnya hidup seseorang bukan karena kurangnya finansial atau tidak berhasil dalam beroleh sesuatu yang diharapkan. Tetapi sering sikap buruklah yang menghancurkan. yaitu tinggi hati.

Salah satu pengertian tinggi hati adalah memandang dan mengukur diri lebih dari orang lain. Tinggi hati berfokus kepada diri sendiri.

Kita harus jujur, bahwa siapapun kita, persolan tinggi hati ini menjadi masalah besar dan sering sulit kita bendung. Dan itu menjadi penyakit kita.

Paling berbahaya sebetulnya adalah tinggi hati rohani, yang merasa lebih rohani dari orang lain.

Jadi siapapun kita, kita semua terlibat dalam tinggi hati. Hanya saja beda-beda bidangnya. Beda intensitasnya. Beda manifetasinya. Ada yang mencolok dan fulgar. Ada yang nampak samar-samar bagaikan varibel X tak jelas. Ada yang tak kelihatan, namun tersimpan rapat dalam hati, karena memang ini masalah hati… rumahnya di hati, di situ dia bertakhta… hati yang congkak.

Sering hari ini sepertinya kita berhasil rendah hati, tapi besok gagal lagi.

Kita mungkin terbuai jika ada yang menyebut kita rendah hati. Sering pula perjuangan kita adalah sekedar mencari label dan hak paten rendah hati. Inipun awal kehancuran!

Apa obatnya?

Obatnya adalah Tuhan Yesus Kristus.

Ketika kita dipuji dalam hal apapun, kembalikanlah pujian itu kepada yang berhak, yaitu Kristus. Selalulah berseru: “Puji Tuhan!
Tak selalu perlu bersuara untuk didengar, tapi hati kitalah yang harus berkata: “Puji Tuhan!”
Hati kitapun perlu dilatih untuk itu.

Ketika kita tidak dipuji, bahkan dilupakan… tidak apa-apa! Hubungan kita dengan Kristus adalah segalanya dan itu lebih dari cukup untuk kita nikmati dalam hidup ini.

Selama kita memuji-muji Tuhan atas apapun, itu lebih mulia dari sekedar pujian orang.
Jangan lupa itu!

Kita juga butuh Kristus, sebab kita butuh pengampunan, karena betapa sering kita gagal dan hancur hati karena mencuri kemuliaan Tuhan dengan ego dan keakuan kita dalam hal kesombongan.

Mari kita berelasi kuat dengan Yesus, agar semakin terkikis benih-benih kesombongan dalam diri kita.

Matius 11:29
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Selamat berlibur.
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan memberkati dan menyertai kita.
Amin.

Salam dan doa.
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by Vitabello from Pixabay

Comments

comments