Amsal 18:12
Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.
Keinginan untuk lebih maju, berprestasi dan berhasil adalah hal yang baik dan memang kita harus mengupayakannya. Tetapi dalam bentuk lain, sering secara berlebihan kita merasa orang lain adalah saingan kita dalam keberhasilan.
Banyak orang tidak dapat menerima kenyataan manakala orang lain memiliki nilai lebih.
Sering dengan berbagai cara, orang memaksakan diri agar tampil lebih dari orang lain dalam segala hal, padahal daya dan kemampuannya tidak dikaruniakan untuk itu.
Ketika tidak berhasil, timbul rasa kecewa dan frustrasi. Bahkan dapat timbul penyakit akibat tinggi hati.
Secara sederhana dapat diartikan bahwa tinggi hati adalah suasana hati yang tidak dapat menerima kalau orang lain lebih baik, kalau orang lain lebih beruntung, kalau pendapat orang lebih diterima. Artinya: tinggi hati adalah sikap tidak dapat menerima diri sebagaimana adanya.
Orang yang tinggi hati biasanya sulit bersyukur. Ketinggian hati dapat merusak kualitas hubungan kita dengan Tuhan dan juga dengan orang lain. Sikap seperti ini kalau dipelihara terus, dapat membawa penyakit dan kehancuran.
Berdasarkan Amsal 18:12, yang mengatakan, ”Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.”, maka marilah menanggalkan dan membuang sikap tinggi hati. Sebaliknya rendahkanlah hati kita di hadapan Allah!
Benar kata penulis Amsal bahwa kerendahan hati mendahului kehormatan; ada penghormatan khusus bagi siapa saja yang tulus merendahkan hatinya.
Selamat beraktifitas.
Tuhan memberkati dan menyertai kita. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Image by Steve Crowhurst from Pixabay




