Tinggi Hati Mendahului Kehancuran

Viewed : 3,764 views

Amsal 18:12
Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

Seorang anak muda menyetir mobil dengan kecepatan tinggi di jalan toll. Semua kendaraan mau dilewati, rasanya dia tidak rela kalau di depannya ada kendaraan lain. Semua kendaraan harus berada mengekor di belakangnya. Dia ingin menjadi raja jalanan. Pedal gas mobilnya ditekan sampai habis dan kandas.

Tiba-tiba ada kendaraan lain yang lebih cepat melewati. Dia kaget dan gemas. Dia merasa ada saingan yang harus dikalahkan. Dia berupaya menyalip orang itu. Segala upaya dilakukan untuk mengejar. Mobil yang dikejar tetap tidak dapat dilewati.

Anak muda itu tidak bisa terima kenyataan bahwa mobilnya kalah cepat. Bahu jalan toll yang semestinya tidak boleh dilewati, dipaksakan dilaluinya.

Di tengah hati yang panas, tanpa dia sadari, di bahu jalan di depannya ada truk sedang berhenti darurat. Tak terelakkan lagi, dia menabrak truk itu, dan dapatlah dibayangkan apa yang terjadi dengan anak muda itu… 😭😭😭

Keinginan untuk maju, berprestasi dan berhasil adalah hal yang baik dan memang kita harus mengupayakannya. Tetapi dalam bentuk lain, sering secara berlebihan kita merasa orang lain adalah saingan yang harus ditaklukkan.

Kita sering tidak dapat menerima kenyataan bahwa dalam bentuk tertentu orang lain memiliki nilai lebih.

Dengan berbagai cara kita memaksakan diri agar tampil lebih dari orang lain dalam segala hal, padahal daya dan kemampuan kita tidak dikaruniakan untuk itu.

Ketika kita tidak berhasil, timbul rasa kecewa, timbul rasa tidak puas. Bahkan secara rohani orang merasa tidak / kurang diberkati Tuhan. Kurang rendah hati. Hal ini tentu dapat menimbulkan kehancuran dan memicu penyakit.

Banyak pengertian tentang tinggi hati, namun secara sederhana dapat diartikan bahwa tinggi hati adalah suasana hati yang tidak dapat menerima kalau orang lain lebih baik, kalau orang lain lebih beruntung, kalau pendapat orang lain lebih diterima. Artinya: tinggi hati adalah suatu sikap tidak dapat menerima diri sebagaimana adanya. Sesungguhnya siapakah kita?

Orang yang tinggi hati biasanya sulit bersyukur. Ketinggian hati dapat merusak kualitas hubungan kita dengan orang lain. Sikap seperti ini kalau dipelihara terus, dapat membawa kehancuran.

Sebaliknya, rendah hati dapat membawa ketenangan dan kedamaian serta ketenteraman di hati. Sesunguhnya orang yang rendah hati akan lebih disayangi oleh Tuhan dan oleh sesama.

Rasanya tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa orang yang rendah hati akan lebih sehat rohani dan fisiknya.

Bersama Kristus, marilah belajar untuk meninggalkan dan membuang sikap tinggi hati.
Rendahkanlah hati di hadapan Allah!

Tuhan menyertai kita senantiasa. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by Valter Cirillo from Pixabay

Comments

comments