Setiap individu ada naskah hidup yang harus dilakoni. Pemazmur katakan, naskah itu unik untuk setiap insan. Dan itu telah ditulis bahkan sebelum yang bersangkutan lahir! ’mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.’ (Mazmur 139:16). Mungkinkah naskah itu dapat diubah? Dibelokan? Dan diluruskan? Ataukah mungkin naskah hidup-ku ditulis ulang?
’Adegan kehidupan yang dijalani hari demi hari itu berdasarkan naskah yang bebas, lepas, liar, independen, longgar, dan berbahaya. Ini hanya mungkin karena penulis skenarionya adalah Allah yang berdaulat dan mutlak tak bergantung kepada apaupn di luar diri-Nya!’ (inspired by Walter Bruggeman)
Naskah liar dan tak berpola tersebut membuat setiap adegan tak bisa ditebak arahnya. Hati jadi deg-degan. Perhatikanlah riwayat hidup tokoh-tokoh Alkitab! Sahabat akan takjub! Maksudnya? Lihatlah, kehidupan Yakub Saudara kembar Esau, anak-anak Ishak, cucu kembar nabi Ibrahim. Sejak dalam kandungan, Yakub ‘dicap’ sebagai sang penipu! ’Di dalam kandungan ia [Yakub] menipu saudaranya, dan dalam kegagahannya ia [Yakub] bergumul dengan Allah.’ (Hosea 12: 4). Namun Yakub diberkati. Dan tak di luar kewajaran, Allah tidak malu disebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, sang penipu!
Lalu..?
Begini. Perhatikan Yesus, Sang Anak Manusia! Hidup-Nya, Dia habiskan untuk menolong sesama. Dia memberi makan 5000 orang. Menyembuhkan yang sakit kusta. Mencelikkan yang buta sejak lahirnya. Lumpuh berdiri. Mati hidup kembali. Yang hina, sampah masyarakat, Dia jadikan mulia! Setiap langkah. Gerakan tangan. Dan nafas hidup-Nya, sejatinya adalah untuk kebaikan dan keuntungan orang lain! Tapi lihat akhir hidupnya?
Aaahhh! Bagaimana memahami ini?
Mungkinkah tidak ada hubungan langsung antara cara/ gaya kita menjalani hidup ini dengan hasil akhir yang Allah telah gariskan di akhir hidup kita? Wah, kesimpulan ini terlalu berani! Namun, menyimak kehidupan Yakub-Yesus, ini suatu dilemma besar. Menurut Saudara, bagaimana?
Seringnya kita menduga bahwa dengan hidup mengikuti FT. Lebih berserah dan mempercayai-NYA. Allah akan mencondongkan arah naskah yang menguntungkan kita. Begitu, bukan? Ok lah. Kalaupun ada manusia yang paling jujur. Takut akan Tuhan. Dan saleh di muka bumi. Maka itu adalah Ayub pada zamannya! Ups! Ini bukan kesaksian Ayub pribadi! Allah sendiri yang mengatakannya: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:8) Namun kenyataannya? Arah naskahnya? Sebaliknya dari harapan! Seperti kesaksian Ayub sendiri: ’Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.’ (Ayub 3:25)
Sahabat! Tak dapat dihindari. Kemana harus lari? Naskah tak berpola tersebut, tak ada pilihan lain, harus dijalani! Tak pernah tahu, kapan akan masuk ke dalam adegan yang menyakitkan hati! Atau kapankah adegan pilu ini akan diakhiri! Dari kisah Yakub-Yesus-Ayub: ’Cerita apa sesungguhnya yang hendak Ia sampaikan?’ Menurut Saudara Saudari? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Free-Photos from Pixabay




