70. ‘Terlambat 25 Menit!’

Viewed : 922 views

Bom!’ lagi. Rasanya baru saja bisa bernapas setelah beberapa waktu belakangan ini emosi terombang ambing. Eee, bom lagi! Kapan berhentinya? Apa artinya semua ini? Kita hidup dalam era yang unik, masa yang belum pernah dialami oleh generasi sebelumnya. Hidup tidak mudah, apalagi memahaminya. Bagaimana kita dapat mengerti dengan semua kejadian di sekitar kita akhir-akhir ini. Apalagi kalau ada korban dari lingkungan keluarga sendiri.

Sangat sulit mengkaitkan semua kejadian-kejadian tersebut menjadi suatu ceritera runut bermakna. Apalagi dikaitkan dengan gambaran besarnya. Kalau saja ada Saudara yang menjadi korban dalam peristiwa ini! Aaahhh, kebanyakan akan berdalih. Itu hanya kebetulan, sudah takdir, dan lain lain. Terasa sepertinya semua bergantung kepada ‘garis tangan’ alias ‘naskah’ ceritera yang sudah digariskan. Naskah itu sudah dibuat. Itu sudah ditentukan. Dan saya tinggal melakoninya sendirian karena Sang Sutradara telah meninggalkan panggung. ‘Saya sendirian hidup di dunia ini.’

Kisah hidup hanyalah ‘drama kehidupan yang terpenggal-penggal’ dan tak nyambung dari satu ceritera ke ceritera lainnya. Kita telah kehilangan kisah besarnya, gambaran besarnya! Tak heran, kita hidup dalam ‘no story.’ Setiap kejadian itu terputus-putus. Acak dan sembarangan saja terjadinya. Hidup hanyalah sekedar ’lintasan gambar dan emosi tanpa irama ataupun makna.’

Sedihnya! Gambar dan emosi tersebut mudah distir oleh gelombang pengajaran/ info yang diterima. Tak heran, kalau di era digital ini, dunia medsos menjadi sutradara ‘pengatur’ gambar dan emosi tersebut! Hanya dalam hitungan detik sebuah gambar dapat mendunia dan dapat mempengaruhi emosi bahkan selera makan ratusan juta orang. Bisa jadi, selangkah lagi dunia medsos akan menjadi ‘agama’ baru abad digital. Ataukah sudah?

Akibatnya, tak disadari, yang menjadi panutan kita adalah gambar-gambar yang mendunia itu. Gambar itu menjadi penentu naik turunnya emosi bahkan gairah kita untuk menatap masa depan! Itu mempengaruhi nyaman tidaknya tidur seseorang. Bahkan hingga itu turut mempengaruhi tali silaturahmi dengan tetangga!

Kita berusaha memahami keseluruhan ceritera ini. Apa daya kita tak menemukan awal dan ujungnya. Ibarat nonton film di bioskop, kita masuk terlambat 25 menit dari 120 menit durasi film-nya. Kita terkejut dan mungkin juga bertanya-bertanya atas adengan yang kita lihat. Bagaimana bisa begini? Apa yang terjadi? Siapa pembawa bom ini? Mengapa dia meledakkan diri? Dan segudang pertanyaan lainnya. Betapa sulitnya meletakkan adegan yang baru dilihat dalam keseluruhan alur cetitera hingga ujungnya! Mengapa sulit? Ya, karena kebanyakan penonton sudah harus beranjak dari kursi karena ‘jatah’ 5 menit nonton telah habis. Itu masih sangat jauh dari akhir ceritera kala di layar lebar tertera ‘The End’!

Diakui atau tidak. Sadar ataupun tidak. Faktanya, kita bukan hanya sebagai penonton tapi berada dan sekaligus juga sebagai pemain ditengah-tengah ceritera ini! Suka atau tidak. Apa boleh buat, kita tak bisa keluar dari alur ceritera yang tengah berlangsung. Ceritera yang kadang mengasyikkan. Namun lebih sering mengharukan. ’Saya menangis kala lahir dan setelah itu hari demi hari berlalu menjelaskan mengapa begitu!’ (George Herbert). Dan kita kehilangan petunjuk bagaimana kisah canda dan tangis ini punya makna dalam kehidupan yang singkat di bawah matahari ini. Aaahhh! Renungan hati ini terasa berat. Kemanakah harus mencari jawabannya? Adakah Sahabat yang bisa memberi petunjuk walau hanya remang-remang? Apakah Sahabat merasa lebih sebagai pemain? Figuran? Penonton? Ataukah korban permainan? (nsm) (Catatan: artikel ini berkaitan dengan peristiwa bom bunuh diri di kawasan terminal Kampung Melayu, Jakarta dengan 16 korban jiwa, 5 diantaranya polisi).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by OpenClipart-Vectors from Pixabay

Comments

comments