67. ‘Misteri Perhiasan’

Viewed : 837 views

Sahabat! Allah itu Sang Pencipta. Di luar dirinya, bagaimanapun megah dan hebatnya tetap makhluk ciptaan yang terbatas. Serafim, Mikhael, penghulu malaikat, Lucifer, penghulu Iblis, maupun manusia, hingga semut serta virus semua adalah makhluk ciptaan. Artinya? Ya, artinya mereka baru ada setelah diciptakan alias ada awalnya. Dengan kata lain, semua makhluk ciptaan terkurung dalam ‘penjara’ waktu! Keberlangsungan hidupnya sepenuhnya bergantung kepada Sang Pencipta.

Hanya dan hanya Sang Pencipta yang ada dengan sendirinya. Dia ada di luar dimensi waktu. Atau tepatnya, waktu mulai dan berakhir di dalam Dia. Jadi, Allah bebas dari ‘penjara’ waktu.  Allah cukup dan puas dengan diri-Nya sendiri. Allah tak membutuhkan apapun di luar diri-Nya. Untuk kehormatan, kemuliaan, ataupun kesempurnaan-Nya, Dia tak membutuhkan bantuan ataupun pengakuan dari apapun ataupun dari siapapun. Allah sempurna sesempurna-sempurnya, mutlak sempurna. Allah itu terang. Karena itu, di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1:5). Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakup, Allah Sang Pencipta itulah yang diberitakan dalam Alkitab.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia..” (Kejadian 1:26)

Apakah Sahabat dapat menangkap kesan sesuatu tengah terjadi dalam ayat di atas? Perhatikanlah kata ‘baiklah.’ Mungkinkah Allah tengah berunding dengan diri-Nya sendiri? Sepertinya dalam komunitas Tritunggal Yang Maha Kudus keputusan telah ‘bulat’ untuk menciptakan manusia. Tampaknya, penciptaan manusia itu sangat serius. Sampai-sampai Sang Kuasapun ‘perlu’ berunding. Maaf, maksudnya? Begini! Bukankah dikemudian hari ternyata manusia itu akan mempengaruhi ‘HIS-tory’? Apakah maksudnya, penciptaan manusia itu kelak akan mempengaruhi ‘sejarah hidup Allah’ itu sendiri? 

Wah! Bagaimana mungkin? Manusia- makhluk ciptaan yang papa dan hina ini- dapat mempengaruhi ‘perjalanan sejarah hidup’ Sang Pencipta. Paradoks, kebenaran yang saling bertentangan! Apakah itu sebabnya, rencana penciptaan manusia itu disebut sebagai ‘sesuai dengan rencana kerelaan-Nya’ (Efesus 1:9)? Allah, Sang Pencipta rela, ya rela dan rela, ‘hidup’-Nya dipengaruhi oleh aku dan dikau!

Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya. (Yesaya 61:10)   

Nabi Yesaya kala melihat jauh ke depan, ia ibaratkan umat percaya sebagai pengantin perempuan. Dan Allah mendandaninya dengan berbagai macam perhiasan dari batu mulia yang berharga. Bukankah terdapat hampir di semua suku dalam pesta pernikahan, penganten perempuanlah yang paling banyak dihiasi dengan berbagai macam pernak pernik?

’aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. (Wahyu 21:2) Apakah itu maksudnya, mengapa di taman Eden bahkan hingga Yerusalem sorgawi penuh dengan berbagai batu mulia? Apakah perhatian-Nya tertuju kepada batu-batu berharga tersebut? Ataukah manusialah yang menjadi fokus-Nya? Yes, tentu manusialah yang Dia maksudkan. Allah tengah mendadani aku dan dikau dengan berbagai perhiasan bak penganten perempuan siap untuk suaminya! Kira-kira perhiasan apakah yang dimaksudkan? Mengapa dikatakan itu perhiasan?   

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments