146. ’Cinta Itu Kebebasan’

Viewed : 1,293 views

Dalam kesunyian. Sebelum ada segala sesuatu. Belum ada yang tercipta. Yang ada hanya Sang Pencipta. Sang Ada. Allah Yang Maha Esa. Tritunggal Yang Maha Kudus. Cukup dengan diri-Nya sendiri. Puas dengan diri-Nya sendiri. Mulia. Agung. Indah. Gemilang. Luhur. Maha Bijaksana. Suci Suci Suci.

Sesungguhnyalah Dia tak memerlukan apapun di luar diri-Nya. Dia bebas sebebasnya. Mutlak. Absolute bebas. Kemulian. Keagungan. Keluhuran. Dan kemegahan-Nya tak bergantung kepada apapun. Dia sudah sempurna dengan sendirinya. Pujianku. Sembahmu. Semua tak menambah kebesaran-Nya. Apalagi menguranginya.

Di balik kebijaksaan-Nya. Di belakang keperkasaan-Nya. Selangkah di ujung cakrawala. Di seberang alam semesta. Tersembunyi rahasia Sang Kuasa. Ada misteri hati. Hati-Nya. Berdetak. Berdebar dengan api asmara. Cinta membara.

Sejatinya. Sesungguhnya. Sebelum dikau tercipta. Sebelum ada alam semesta. Sudah dari ‘sononya’. Ada cinta. ‘God is love’ (1 Yoh 4:8, NIV). Tarian cinta ilahi. Menari-nari. Kian kemari. Dalam diri-Nya. Sang Ilahi.

Tarian telah dimainkan. Lagu telah didendangkan. Ritme telah dipilih. Sang Pencipta ada rencana. Kemudian. Selanjutnya. Cinta yang mendorong Allah mencipta. Karena cinta Adam ada. Dia sebagai cermin. Memantulkan detak hati Sang Ada. Cinta. Lihat Adam. Rasakan Adam. Dikau akan kenal Sang Ilahi dalam dimensi ruang waktu. Itu yang dirindukan Sang Cinta. Itulah rencana-Nya dari semula. Berbagi cinta dengan manusia.

Tak tahu berapa lama. Alkitab tidak bicara. Memang kalau sudah jatuh cinta. Sebentar terasa lama. Tapi seribu masa? Tak terasa. Itu cinta. Dan itu yang ada di Taman Sorga. Kala cinta Adam dan Hawa bersemi. Semerbak. Membara. Berapa lamakah keindahan cinta ini mereka nikmati berdua? Sebelum duka dan durjana merajalela.

Cinta pula yang memungkinkan Adam bisa bicara. Ungkapkan rasa. Isi hati. Puisi sanubari. Tanda rindu yang tiada tara.

Itu jua yang memampukan Adam angkat tangan. Tunjuk tangan. Ambil tindakan. Tentukan pilihan. Untuk memeluk ataupun melawan.

Bukan seperti Robot yang telah direkayasa. Bicara tanpa karsa. Ikuti irama yang sudah ditata. Suka atau tidak. Gembira atau duka. Dia tak peduli. Baginya semuanya datar tak ada rasa. Tanpa cinta.

Tidak juga seperti si manusia besi dalam serial film ‘Terminator’ yang hanya ikuti seperti yang sudah diprogramkan. Kaku. Dingin. Jauh dari hangatnya cinta. Tanpa ada pilihan. Tidak ada kebebasan.

Cinta yang mendasari Adam ada kemampuan moral yang tak ada pada hewan. Kebebasan tentukan pilihan. Menentukan jenis tarian. Ritme gendang. Nada seruling. Kidung nyanyian. Hentakan langkah kaki. Ke kanan atau ke kiri. Lambaian tangan ikuti alunan. Tentukan ritme tarian. Lenggang lenggok bak tari Melayu. Ritme pilihan sekehendak hati.

Kehendak bebas. Kemampuan Adam untuk tentukan pilihan. Menyambut atau menolak pinangan Sang Cinta. Tawaran jadi tunangan-Nya. Jadi kekasih-Nya. Pengantin-Nya. Sekali untuk selamanya. Karena itu sejatinya cinta. Kebebasan. Tak memaksa. Apalagi rekayasa.

Cintalah yang memampukan Adam untuk menolak Sang Cinta. Menentukan irama langkah kaki sendiri. Tanpa paksaan. Tak ada manipulasi. Apalagi di bawah ancaman. Allah memang gandrung, tergila-gila, kepada cinta yang datang dari hati yang rela. Itulah sejatinya cinta. Dulu begitu. Sekarangpun berlaku.

Adam dan Hawa dianugerahi kapasitas. Kemampuan. Bahkan untuk membrontak kepada Sang Pencipta. Sebegitunyakah? Di Taman Sorga begitu. Waktu berlalu. Namun, sekarang itu juga berlaku. Hak cinta untukku. Dan juga untukmu. Tak pandang bulu.

Bak patung batu. Ataupun kayu. Bukan! Ini dari tanah liat. Diberi hak cinta. Kebebasan. Tentukan sikap. Pilihan. Bahkan hingga mampu meludahi Sang Pemahat! Sang Pencipta. Yang Maha Esa. Sebegitunyakah?

Ibarat aktor dalam suatu sandiwara. Di atas panggung. Dia sedang berakting. Ikuti ceritera yang sudah tertera. Namun?

Diberi kebebasan. Hak cinta. Tentukan pilihan. Kemampuan untuk menulis ulang sendiri peran. Seperti yang dikehendaki. Merubah kalimat-kalimat sesuai dengan selera hati! Kehendak bebas tentukan peran sendiri. Bahkan hingga peran ‘menusuk dari belakang.’ Mengkhianati Sang Pembuat Cerita. Sang Kuasa. Tritunggal Yang Maha Esa. Menikam Dia hingga mati di atas kayu persilangan. Begitu mengenaskan! Aaahhh… Sebegitunyakah? Cinta memang tak dapat dipaksa.

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16,17)

Adam telah tentukan irama. Irama duka nan nestapa. Tarian kabung. Kidung pilu. Sukapun diiringi air mata. Terang senantiasa dibayangi kelam. Ada nasib baik. Tapi juga menghadang masa-masa sial. Suksespun dapat membawa bencana. Tak ada kemujuran. Tak ada kebahagian. Kemalangan di mana-mana. Jujurpun menderita. Tuluspun didera. Akhirnya hidup yang fana akan selesai juga. Semua jadi sia-sia.

Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia. (Pengkhotbah 12:8)

Ups! Jangan geleng-geleng. Ini bukan dongeng. Bukan pula main-main. Sebagaimana Adam dulu. Begitupun sekarang berlaku.

Pilihan telah dibuat! Tari telah didendangkan. Siapa saja. Sama. Tak ada terkecuali. Tak ada terlewati. Semuanya. Dikaupun ikut menari. Seritme dengan tarian Adam sejak dari Taman Sorgawi.

Ada pilihan. Kebebasan. Tentukan sendiri. Sambutlah tarian cinta ilahi. Mari menari. Merangkai ke dua sisi. Gelap terangpun serasi. Duka ria saling bersinergi.

Lihatlah apa yang terjadi? Jauh dari kontradiksi. Itu tarian yang hormoni. Ke dua sisi unsur pembentuk hidup sejati. Untuk menggapai cinta ilahi. Cinta semula jadi. Moga dikau dapat menikmati. Melihat dengan hati. Mendengar sanubari. Ritme tarian ilahi. Di bawah matahari. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments