140. ’Rayuan Cinta’

Viewed : 819 views

Begitu indah Taman Sorga. Taman manusia pertama berada. Sejoli berkasih mesra. Dunia terasa milik berdua. Segala yang dikau butuhkan tersedia. Semuanya ada. Beratap langit. Berhiaskan pelangi. Berlampukan taburan bintang. Manusia harmonis dengan lingkungan. Tak ada penyakit. Tak ada serangga mengigit. Pagi merekah. Berkat melimpah. Mentari menyambut hangat. Siulan burung Nuri menyapa. Inilah sorga di dunia.

Hidup di Taman Sorga. Siapa yang dapat membayangkan? Pikiran liar sekalipun tak memuaskan. Hidup sempurna di kahayangan. Semua tersedia yang dikau perlukan. Jauh dari bencama alam. Tak ada salah faham. Hidup hanya berduan. Hidup seumpama dalam lamunan.

Berapa lama itu bertahan?

Alkitab tak mengatakan! Alkitab diam seolah merahasiakan. Ups! Ini yang dikatakan. Diungkapkan. Diperlihatkan. Walau Taman Sorga itu telah terlupakan. Dikau masih dapat rasakan. Asal ada kemauan. Mau?

Siapa nyana? Siapa sangka?

Ooo ternyata. Begitu ya! Hidup seindah di taman sorgapun tak menjamin. Itu tak cukup kuat. Kurang memikat. Sebagai pesona untuk membujuk. Mengarahkan pilihan. Apalagi merebut hati Adam.

Wah wah wah. Berkah hidup nikmat, senyaman di Taman Sorgapun tak cukup kuat mengendalikan pilihan hati. Apa lagi hanya sekedar janji akan masuk sorga! Bukankah itu yang terjadi di Taman Sorga?

Gawat. Bagaimana ini?

Selama puluhan tahun. Setiap hari. Umat Israel menyaksikan pertujukan spaktakuler tiada lawan. Mukjizat kehadiran Allah bak pahlawan. Jalan di tanah kering bertembokkan laut dalam. Melewati padang tandus di bawah payung awan. Terik mataharipun tak mempan. Itu bukan hanya dialami seorang. Jutaan manusia dan hewan. Semua dalam lindungan Sang Pahlawan.

Malam. Tiang awan menjadi obor api yang tak padam-padam. Menyinari kemah di malam yang kelam. Semua tidur aman tentram. Tak perlu pusing cari BBM. Bulan bintang penerang alam. Semua harmoni beri perlindungan. Tak takut kedingan. Tak gentar dengan hewan malam. Semua tunduk. Semua turut perintah Sang Pencipta Adam.

Fajar menyingsing. Makanan tersedia. ‘Manna’ ada di mana-mana. Makanan Malaikat menjadi makanan manusia (Mazmur 78:24,25). Itu bukan hanya satu hari. Tidak juga sebulan. Itu puluhan tahun. Air juga disediakan untuk jutaan lidah yang dahaga. Sejernih air kemasan. Air muncrat dari bebatuan. Semua puas tak terkirakan. Di padang gurun tandus semua berkecukupan.

Mukjizat yang tak ada habis-habisnya. Setiap mata melihat. Ini fakta. Bukan khayalan. Apalagi lamunan. Ini nyata dapat dirasakan. Puluhan tahun jalan di padang gurun. Pakaian tak kusut. Sandal tak rusak. Tak ada yang kena campak. Tak ada yang sakit. Beranak pinak pesat.

Gawat. Bagaimana ini?

Mukjizat kesembuhan. Pertunjukan spaktakuler setiap hari. Selama puluhan tahun. Berkat kesehatan. Limpahan makanan. Hidup berkecukupan. Jauh dari penyakitan. Ternyata juga tak dapat mengarahkan. Tak mampu menaklukkan. Tak kuasa mengendalikan. Apalagi merayu pilihan. Pilihan hati. Pilihan cinta!

angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah. (Mazmur 78:8)

Sorga di dunia. Pengalaman perjalanan ke tanah Kanaan. Sejujurnya. Itu angan-angan setiap manusia. Impian semua agama. Sang Kuasa nyata dan kasat mata. Mukjizat roti ‘Manna’ setiap hari. Luput dari kecelakaan. Serba kecukupan. Sejahtera berkelimpahan.

Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. (Mazmur 91:7)

Bukankah itu pengalaman rohani yang diidam-idamkan? Umat rela bayar jutaan. Kejar hingga tanah perjanjian. Ikut jiarah rohani harap dapat pencerahan. Tak keberatan baptis ulang. Apalagi di sungai Yordan. Ok saja janji nikah ucap ulang. Di kota Kana yang menawan. Semua haus. Rindu. Lara. Dahaga jiwa tak terkira. Hidup seperti Adam di Taman Sorga. Pengalaman spiritual bak 40 tahun di padang belantara.

Gawat. Bagaimana ini?

Adam memilih yang lain. Umat Israel ‘sami mawon.’ Kenyamanan hidup di Taman Sorga. Mukjizat spektakuler tak henti-henti. Itupun tak kuasa mengendalikan hati. Mengikat hati. Itu bak rayuan maut yang tumpul. Tak mempan. Tak jaminan mendapat kekasih sejati. Jantung hati.

O, betapa liciknya hati! Tawaran apa yang dapat menaklukan hati? Merayu pilihan cinta?

Kenyamanan Taman Sorga sudah lama pergi. Di masa kini. Pengalaman spiritual 40 tahun bak mimpi di siang hari.

Ayo yo yo. Keluar dari fatamorgani rohani. Jangan mau dikadali. Janji ‘madu’ hidup seindah sorgawi. Mukjizat sepanjang hari. Sudah terbukti. Itu tak dapat merayu pilihan hati.

Ayo yo yo. Hidup dalam realita. Ini bukan masalah ‘untung rugi.’ Ini pilihan hati. Pilihan cinta. Dan itu ada di tangan sendiri. Hari ini. Pilih yang sejati. Cinta abadi. Jadi kekasih Ilahi. Itu keputusan sendiri. Dari hati. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments