“Akhir laga semesta tidak dipahat di atas bintang, melainkan didelegasikan pada jejak kaki Adinda yang hidup di wilayah lawan. Setiap langkah Tuan dan Puanlah yang menentukan tempo garis akhir zaman.”
Perkara ini teramat pelik untuk diselami; kian direnungkan, kian membingungkan. Bagaimana mungkin rancangan agung sekaliber Sang MAHA KUASA pun seakan dikangkangi oleh makhluk kekasih-NYA sendiri? Seolah Sang ILAHI tak berdaya di hadapan ciptaan yang baru seumur jagung!
Pada mulanya, DIA merajut rancangan agar insan ciptaan-NYA—lelaki dan perempuan—beranak cucu dan memenuhi bumi. Sejoli itu ditempatkan di Taman Eden, sebuah koordinat suci yang dibatasi oleh bentang alam purba. Jejak tapal batas fisik itu bahkan masih bisa dijumpai di tanah Irak modern hari ini (Kejadian 2:14).
Adam dan Hawa ditempatkan secara khusus di secuil tanah bernama Taman Eden, sebuah oase kecil di atas hamparan bumi yang luas. Namun, mandat agung untuk ‘beranak cucu… penuhilah dan taklukkanlah’ mengisyaratkan sebuah kepastian purba: akan tiba masanya, rahim Eden tak lagi sanggup menampung luapan generasi.
Maka secara kodrati, hamparan baru mutlak diperlukan demi menampung kepakan sayap generasi selanjutnya. Alhasil, batas-batas Eden niscaya mekar dan meluas—menyelimuti sekujur bumi seiring dengan berseminya tunas-tunas baru keturunan Adam.
Di mana keturunan Adam menjejakkan kaki, di situlah Eden terwujud! Di mana anak-cucu Adam bermukim, di sana keharuman surga merebak ranum. Insan yang dicipta ‘segambar dan serupa’ dengan Sang ILAHI ditahbiskan sebagai wali sakral—duta berkuasa penuh dari kerajaan surga. Merekalah monumen hidup yang menegaskan kehadiran YHWH di muka bumi.
Bagi peradaban purba, rimbun taman, kilau batu mulia, dan pendar cahaya merupakan aksara suci dari kehadiran alam tak kasat mata. Tak heran jika Eden juga disapa sebagai Gunung Kudus Elohim (Yehezkiel 28:13,14); sebuah memori kuno yang memandang taman dan gunung sebagai takhta kediaman para dewa.
⁹”Di atas gunung-Ku yang kudus tidak ada yang berbuat jahat atau keji, tidak ada yang menyakiti atau menghancurkan, karena seperti air memenuhi lautan, demikian pula bumi akan penuh dengan pengenalan tentang TUHAN.” (Yesaya 11 FAYH)
Jika demikian, manakah yang menjadi poros dari rencana agung-NYA? Perluasan bentang taman secara lahiriah, ataukah eksistensi insan keturunan Adam? Tatkala sistem agama dunia terpaku pada perluasan wilayah secara fisik, ekspansi kerajaan-NYA justru menempatkan nafas generasi Adam sebagai pusat perhatian-NYA yang baka.
Eden kini telah raib dari bentang bumi! Namun, jumlah generasi Adam melesat pesat, bertambah secara hebat memenuhi seantero jagat. Tiada lagi jengkal tanah yang sunyi dari tuan; sekujur wajah bumi telah ditaklukkan!
¹⁵Mereka main bunuh dan membenci siapa saja yang tidak sependapat dengan mereka. ¹⁶Ke mana pun mereka pergi, mereka menimbulkan kesedihan dan kekacauan, (Roma 3 FAYH)
Tragis, alih-alih firdaus Eden yang merangkul jagat, justru gurita Anti-Eden yang kini merajai seantero persada. Di mana pun keturunan Adam menjejakkan kaki, di sanalah tapak lara dan puing kehancuran tertinggal abadi.
Alkitab tak segan mengakui realitas kelam ini: “¹⁹Kita tahu.. seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” (1 Yohanes 5). Apakah fakta ini sebuah pengakuan jujur akan kekalahan, meski hanya jeda sementara? Ataukah ini sebagai lonceng pengingat bagi daku dan dikau tentang watak asli dunia tempat kita hidup? Duhai Adinda, sejatinya kita kini bermukim jauh di daerah behind the enemy line, di balik garis wilayah kekuasaan musuh!
Aaahhh… entahlah! Namun satu hal yang pasti: laga semesta ini terus bergolak tanpa jeda, merayap pasti menuju muara akhir zaman. Entah daku yang bingung, atau dikau yang memilih tak ambil pusing, pertempuran hebat di jagat maya maupun alam nyata kini tengah meletus dahsyat. Gejolaknya tak kalah panas dibanding bara Iran vs Israel-US (Efesus 6:11-12).
‘Too good to be true,’ laksana kemustahilan yang teramat indah: DIA seakan menitipkan kesudahan dari perang semesta ini di atas pundak Tuan dan Puan! Wah…wah…wah, ternyata, derap hidup Andalah yang sanggup mempersingkat titik akhir dari palagan kosmik ini. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
