501. Aturan Main

Viewed : 626 views

“Ketika manusia menulis aturan main, yang kudus dipaksa tunduk pada ritual buatan manusia. Tanpa tarian-NYA, Eden menjauh, dan misteri Babel pun lahir dalam bentuk agama.”

Aaahhh, kalender dinding dengan berat hati diturunkan. Walau setiap hari begitu bermakna, namun kini tinggal sebatas kenangan. Memori masa lalu tak mungkin diulangi, yang sudah terjadi tak dapat diralat kembali. Duka dan suka silih berganti, menjadi ritme kehidupan setiap insani.

Adakalanya begitu bergembira, belum sirna gema galak tawa, tiba-tiba air mata berderai karena kabar: yang dicinta telah tiada. Tiada yang tahu apa yang akan terjadi esok. Langit pagi ini cerah, siapa sangka disambar petir di siang hari bolong.

Tiada yang abadi di bawah matahari. Satu-satu pasti pergi, takkan kembali lagi. Baik daku maupun dikau sudah dapat nomor antri, nasib yang menimpa manusia di bumi. Daku pun sudah ada jatah berapa lama lagi hidup. Kesementaraan membuat peradaban gugup.

Inilah fakta yang menimpa peradaban, takdir bagi setiap insan yang hidup di luar Taman Eden. Adam dan Hawa telah memilih, pilihan yang menentukan garis hidup setiap manusia yang lahir kemudian.
Kodrat yang tak dapat dielakkan: kefanaan sebagai garis tangan setiap insan.

“Mari kita mendirikan kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, supaya kita termasyhur dan tidak tercerai berai di seluruh bumi.” (Kejadian 11:4 BIS)

Di Babel, peradaban melawan garis tangan, manusia melawan suratan! Pernyataan singkat, padat, peradaban memproklamasikan pendapat. Sikap menantang alam langit, menaklukkannya demi mengubah takdir. Menolak mentah-mentah rencana semula YHWH untuk memenuhi bumi dengan rupa dan gambar-NYA (Kejadian 1:26,28).

Bukannya hanya itu. Alih-alih gambar dan rupa YHWH tersebar ke seluruh muka bumi, justru peradaban jumawa memasyurkan nama sendiri. Deklarasi pengambilalihan kendali atas nasib manusia. Peradaban angkuh mengkudeta kursi nahkoda, mengambil kendali atas garis tangan sejarah.

Peradaban bertekad menghadirkan kembali Taman Eden versi sendiri. Taman tempat yerjadinya tumpang tindih dimensi ilahi dengan alam insani. Di balik megahnya kuil Ziggurat Babel kuno, tersembunyi kesombongan untuk menghadirkan Eden buatan. Utopia hidup bahagia, jauh dari air mata, hidup seakan bertahan selamanya.

Penulis kitab Kejadian, pasal 11, memandang Babel sebagai simbol lahirnya tekad manusia mencakar langit dengan usaha sendiri: agama. Di Babel timbul gagasan menciptakan tempat suci sebagai lokasi kehadiran Sang Ilahi. Agama ambil inisiatif menentukan aturan main perjumpaan langit dengan dunia manusia.

Ini tindakan yang terlalu jauh! Tidak cukup membatasi ruang gerak hanya di tempat suci, manusia nekat menjinakkan YHWH agar tunduk pada aturan main. Peradaban bukan saja berambisi mengambil alih nakoda nasib, namun sekaligus memaksa YHWH menunduk pada kehendak manusia.

Dan DIA ambil tindakan! “Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka.” (Kejadian 11:7) Ambisi itu gagal sebelum dimulai. DIA menyerahkan peradaban kepada keinginan hati (Roma 1:24). DIA pun balik kanan, meninggalkan ambisi insan.

Di Babel-lah DIA memutuskan meninggalkan peradaban. Manusia terus maju dengan kemauan kuat
menentukan aturan main bagaimana berjumpa dengan Sang Ilahi. Niat semula untuk bertemu Pencipta, agama justru menjauhkan-NYA dari peradaban. Yang kudus dipaksa tunduk pada tata cara buatan, yang sakral dikurung dalam ritual fana (Matius 15:8,9).

Di titik inilah sejarah berbelok: aturan manusia menggantikan tarian-NYA, dan Eden pun menjauh, menjadi Babel yang hampa. Tak terbilang Puan dan Tuan justru menyambutnya dengan gembira! Bagaimana dengan Anda? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments